Cerpen - Matanya
-Matanya-
AuliyaPN
Dingin. Meski tak deras, malam ini hujan turun terlalu lama. Angin juga terlalu bersemangat, sampai membuatku ngilu rasanya. Cahaya kilat terus berkelabat sejak tadi, disusul suaranya yang gemuruh memecah gelap. Dan aargh!Aku tak tahan dengan gelitikan dari rumput yang bergerak-gerak ini! Mereka sudah terlampau panjang dan ini membuatku tak nyaman. Apalagi bunyi “sraaak...sraaak...sraaak” dari dahan yang saling bergesekan di dekatku sejak tadi tak juga bisa berhenti, seenaknya membuat perasaanku kian dalam, biru, dan sepi.
Lamat-lamat, aku mendengarnya; derap-derap langkah yang semakin cepat melewatiku itu. Dan akhirnya kulihat lagi; orang-orang yang melewatiku seraya bergidik ngeri. Yaaah...setidaknya ini malam hari. Kurasa ketakutan mereka bisa sedikit kupahami. Tapi, tetap saja ini rasanya menyebalkan. Mereka berlari seolah aku ini makhluk paling mengerikan yang pernah ada. Padahal aku tak pernah melakukan apa-apa. Mereka ketakutan karena sugesti yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri. Berlebihan.
Haaah...semoga malam ini cepat berlalu dan pagi membawa sesuatu yang lebih baik untukku, aku berdoa meski tahu bahwa tak pernah ada “baik” untuk sesuatu sepertiku.
Matahari beranjak meninggi. Aku merasa tubuhku mulai menghangat. Air sisa guyuran hujan tadi malam juga sudah mengering sempurna. Tak berbekas. Terevaporasi dan menyatu dengan udara. Kurasa mereka sudah sampai lagi ke atas sana, ke dalam kandungan awan-awan yang bergerak cepat di atasku.
Aku tersentak saat mendengar beberapa orang ramai berbisik, meski tak terlalu jelas sih. Entahlah. Suara mereka seperti kerumunan lebah yang melintas. Berdengung-dengung, semacam itu. Tapi aku tahu itu suara manusia, bukan burung gagak yang biasa mematukiku jika tak ada kerjaan.
Memangnya ini hari apa? pikirku.
Dan saat itu juga, terdengar derap langkah yang mendekat. Seorang gadis bertubuh kurus tiba-tiba duduk di sebelahku. Matanya menatapku sayu.
Ah, aku ingat dia!
Gadis berkerudung putih ini selalu mengunjungiku tiap tahun. Dan kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, dia juga membawa keranjang anyaman dan botol berisi air. Aku bisa menghirup aroma manis kelopak mahkota mawar yang bercampur dengan pandan dan segarnya daun jeruk dari keranjangnya.
Heee...sepertinya sekarang sudah dekat bulan itu yah. Bulan Ramadhan, kan? Wajar kalau sekarang jadi ramai.
Dan aah, lega rasanya saat dia membantuku membereskan rumput-rumput liar itu, juga menyingkirkan dahan-dahan berisik itu! Akhirnya!
Beberapa saat, dia terpejam, seakan bermunajat. Tapi entahlah, aku tak pernah benar-benar bisa tahu.
Rasanya aku ingin sekali mendesah kesal. Aku sudah pernah mengatakan kalau percuma dia menangis di depanku, berdoa pada Tuhan saat duduk di dekatku, atau memelukku seperti saat ini. Tak ada yang akan berubah meski dia melakukan semua itu. Aku tak akan bergerak, yang diinginkannya juga tak akan terjadi. Tapi kembali, mana bisa dia mendengarku? Bahkan semut-semut yang bersarang di dekatku saja tak tahu kalau sekarang aku sedang menggerutu.
Gadis itu menegakkan punggungnya. Pelukannya terlepas, berganti belaian halus dengan mata yang masih sayu, sekarang malah seperti dilapisi kaca bening yang rapuh.
Aku ingin tersenyum menenangkannya, tapi...mana bisa? Memangnya aku punya daya? Tidak! Sama sekali tidak. Aku hanya bisa melihatnya dalam diam, melihat matanya yang menunjukkan sendu berkepanjangan.
“Ayah...” gumam gadis itu. Tangannya kembali membelaiku.
Oh , yang benar saja! Jangan mengira dia sedang memanggilku. Mana bisa aku mempunyai anak seperti itu? Mata cokelat gelap yang lebar, hidung yang mancung, dan pipi tirus berlesung? Mana mungkinlah!
“Aku merindukanmu,” gumamnya lagi.
Aaah, sial! Tatapan matanya itu membuatku tak bisa berenti menggerutu, membuatku tak bisa berhenti menyesal karena tak berdaya, bahkan menyampaikan kerinduannya pada pria yang terbaring di tanah ini, tepat di bawahku pun aku tak bisa.














