"Selamat ya kawan-kawan… Akhirnya kita bisa sama-sama wisuda", ucap ketua himpunan mahasiswa di acara wisuda kami
"Selamat yo Le, akhire sing mbok karepke kelakon", begitu ucap orangtuaku
Tentu saja aku bahagia dengan capaianku, "what's next?", Itu yang menjadi pikiran ku akhir-akhir ini. Saat ini aku berusia 22 tahun, 3 bulan lagi usiaku sudah memasuki 23 tahun. Namun rasanya aku masih belum punya tujuan hidup yang jelas. Secara prestasi, aku memang salah satu anak yang cukup berprestasi. Bahkan semenjak SD hingga SMA, aku selalu ranking 1. Aku diterima disalah satu kampus terkemuka di Jogja, dan selama menjadi mahasiswa, IP ku selalu masuk top 3 di jurusanku.
Meskipun begitu, aku iri lihat capaian-capaian temanku, meski IP mereka dibawahku, tapi pengalaman mereka luar biasa. Aku teringat di libur semester tahun lalu, aku melihat beberapa teman dan komunitasnya membuat acara di dekat rumahku, kebetulan rumahku ini di kawasan Kaliurang. Mereka seperti membuat program untuk membantu UMKM, kayaknya ini salah satu program dari komunitas mereka. Saat itu aku tak ada ketertarikan dengan hal-hal seperti itu. Yang ada di pikiranku hanya nge-lab dan nge-lab, menyelesaikan penelitianku saat itu di bidang pertanian.
Sekarang aku lihat, komunitasnya sudah membantu banyak UMKM, bahkan tetanggaku yang memiliki usaha UMKM juga sering menanyakan kabar temanku.
"Mas Rio, sampean lak koncone mas Toni to? kepriye saiki kabare, wes suwi tenan ra ketok? Salam yo nek ketemu mas Toni (Mas Rio, kamu temennnya mas Toni kan? Bagaimana kabarnya sekarang, kok lama tidak kelihatan? Salam ya kalau ketemu mas Toni)", begitu kata pak Paimin, tetanggaku.
"Nggih pak, Alhamdulillah Toni kabare sae. Nggih mangke kula sampekke teng Toni salame njenengan (Iya pak, Toni Alhamdulillah bagus pak kanarnya. Iya nanti saya sampaikan salam bapak ke Toni)", begitu balasku.
Sepertinya mereka sudah sangat akrab, aku yang tetangganya semenjak kecil saja tidak seakrab itu. Belum lagi ke teman-teman yang lain juga begitu, sering sekali pak Paimin nanyain kabar Toni, Yoshua, dan Ghea (temen-temenku yang anggota komunitas tersebut). Kabarku sendiri gak pernah ditanyain, meskipun aku tahu itu cuma basa-basi.
Sekarang, aku berpikir kembali, apa iya IPK-ku yang cumlaude ini tujuanku sebenarnya. Aku berpikir, Aku juga ingin seperti Toni, Yoshua dan Ghea, yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku kepikiran untuk pergi keluar rumah, mencoba hal-hal yang baru. Namun aku kepikiran orang tuaku. Aku adalah anak tunggal, orangtuaku harus menunggu 10 tahun baru Allah hadirkan aku diantara mereka. Maka dari itu, meskipun aku laki-laki, aku sangat dimanja mereka semenjak kecil.
"Anak mung siji, yo kudu dieman-eman (anak cuma satu ya harus dijaga benar-benar)", begitu kata mereka.
Tapi kalau begitu terus, kapan aku akan berkembangnya. Aku mencoba untuk mengutarakan niatku, aku tak tahu bagaimana respon mereka. Aku akan coba meyakinkan mereka, kalau aku pasti akan baik-baik saja…