Day 2 : Five problems with social media.
This is an interesting question.
Bagi yang pernah mencicipi era Friendster, tentu paham dengan rasa kecanduan yang dirasakan umat manusia kala itu. Akupun menjadi salah satu dari jutaan remaja yang rajin begadang mantengin layar komputer. Entah untuk alasan apa. Dari situlah lalu muncul satu persatu sosial media. Facebook, Twitter, Tumblr, Instagram, Path, Snapchat dll.
2. Jadi stalker dan siap di stalking.
Kita semua adalah stalker dan korban stalking. Macam-macam orang memang berbeda, entah apa yang mereka stalking atau kenapa mereka stalking akun kita. Aku masih sering tergoda buat stalking tempat-tempat ciamik around the world, sering juga ngintip cara masak, ngintip berita-berita, ngintip hewan-hewan lucu, ngintip konsep nikah. Ehh. Kalau stalking mantan? Duh heck no! Basi!
3. Sudah tidak lagi nyaman.
Untuk beberapa orang memiliki akun sosial media yang bejibun banyaknya dirasa seru, kita bisa tepar pesona dan menjadi terkenal. Beberapa orang tidak mempermasalahkan itu. Tapi kok aku beda ya. Dulu beberapa tahun sebelum masehi aku memang kolektor sosial media, sampai bikin duplikat. Entah kenapa beberapa bulan ini rasanya males, bosan, dan ga nyaman. Menyadari bahwa dunia maya dan nyata tak ada sekat, aku salah. Seharusnya memang ada batas.
Keasikan mantengin handphone atau layar komputer bikin kita males ngapa-ngapain kan. Karena keasikan itu tadi, akhirnya apa-apa di tunda. Apa-apa lewat sosial media, padahal kan lebih enak ketemu langsung terus cekikikan bareng.
5. “Memaksa” aku untuk tutup akun.
Sekarang akun yang masih aktif Twitter, Tumblr, Whatsapp sama Instagram. Itupun beberapa aku “kunci”. LINE masih punya sih cuma udh masuk folder hide app. Sosial media lainnya sudah aku deactivated dan uninstall. Ga penting buat aku dipaksa “untuk tahu” rutinitas orang lain. Dan aku cukup salut dengan beberapa orang yang memilih tidak memiliki sosial media sama sekali. Emang ada? Buanyak.
Percaya atau tidak, ketika kamu perlahan-lahan meninggalkan sosial media yang bejibun itu. Hidup terasa bahagia, tentram, dan nyaman.