Tepat malam ini, aku mendapatkan begitu banyak pelajaran. Ya, kumpulan orang-orang ini memang tempat aku belajar. Bukan, bukan sekadar kumpulan orang-orang, tapi ini keluarga baruku. Ah banyak sekali keluargaku di tempat ini.
Dalam gelap malam, dengan disoroti lampu di lapangan itu, kami melakukan hal yang biasa kami lakukan. Aku bercengkrama dengan kesayanganku, saron 2. Tidak tidak, bukan hanya saron 2, aku sayang semuanya. Lapangan itu, bernama Lapangan Cinta, entah bagaimana sejarahnya bisa menjadi Lapangan Cinta, apakah penuh dengan cinta, banyak cinta bersemi disana, atau entahlah, bukan itu hal yang penting.
Disaksikan 4 bintang dilangit yang cerah, serta mars merah diantaranya, kami memainkan apa yang ingin kami mainkan. Entah berapa kali aku mengulang memainkannya. Bukan karena aku mahir dan jago, tapi justru karena aku masih banyak kesalahan, sehingga aku harus mengulangnya hingga beberapa kali.
Without them, I just can do nothing. Disana aku bersama mereka, mereka yang aku sebut keluarga. Aku tak bisa memainkannya sendiri. Aku harus bersama nayaga lainnya. Bersama-sama memainkan waditra kami. Kami juga bukan apa-apa tampa mereka. Pelatih. Orang-orang yang luar bisa hebat dan ahli dalam hal ini. Benar, tanpa mereka, aku bisa apa? Bahkan dengan mereka ada disana aku masih melakukan banyak kesalahan.
Tapi sayang, latihan tadi tak sesuai dengan harapan. Latihan tadi tak mencapai target. Latihan tadi, mengecewakan. Itu yang dikatakan apresiator, orang-orang yang dengan setia mengaresiasi apa yang kami lakukan selama latihan.
Ya, mungkin malam ini bukan malam kami. Banyak yang tak hadir. Banyak yang sakit. Atau yang tak fokus sekalipun ada, termasuk aku. Ah benar. Tak seharusnya aku tak fokus. Seseorang berkata saat evaluasi, “Jangan pernah membagi fokus, tapi bagilah waktumu. Fokuslah pada apa yang sedang kamu lakukan”. Benar sekali, aku tak fokus, banyak hal lain yang aku pikirkan. Tapi itu salah, aku sedang latihan.
Setiap dari kami merasa lelah. Setiap dari kami punya masalah. Lelah itu pasti, tapi putus asa adalah pilihan. Benar, pelatih utama kami mengatakan, “Tak ada yang sia-sia dalam latihan”. Aku percaya hal itu, sekecil apapun itu, pasti hikmahnya.
Jangan jadikan lelah sebagai alasan. Menjaga kesehatan diri itu penting, agar lelah itu, tak terasa. Jika lelah itu telah menggerogoti semangat kita, lihatlah disamping kanan dan kirimu, masih orang-orang yang siap membantumu. Seperti yang dikatakan seorang yang luar biasa, “Mana bebanmu, ini pundakku”. Seandainya aku bisa mengatakan hal seperti ini pada kawan-kawanku. Tapi aku menyadari kebenaran hal itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku dan mereka adalah keluarga. Disana bukan hanya tempat berbagi ceria, tapi juga beban. Karena sebesar apapun beban itu, saat beban itu dipikul bersama, maka akan terasa ringan.
Betapa senangnya aku berada disana, menjadi bagian dari mereka. Aku harap, tak hanya sebatas malam ini. Tak hanya berakhir sampai disini. Aku dan mereka, kami akan terus membuat cerita itu, cerita indah tentang perjalan yang kami lewati.