Ahkam Natsir #1
Belum hilang adrenalin sebab melewati banyak hal kemarin. Hari pertama masuk sekolah. Menurut Ahkam, ia melewati jalan yang biasa ia lewati ketik berangkat ke sekolah. Tahun pertama di sekolah menengah atas memberikannya sebuah hentakan besar. Melihat budaya sekolah yang sangat tinggi nilai membuatnya merasa terbatas dalam beberapa hal. Namun, sisi baiknya adalah ia tidak terbatasi dalam hal mengembangkan diri. Ia terus melakukan hal yang ia inginkan dan butuhkan, walaupun kebanyakan dari itu adalah hal-hal yang berangkat dari obsesinya sendiri.
Terlihat banyak panitia MOS yang sdh berkumpul sejak jam 6 pagi, tentu saja panitia yang datang sepagi itu adalah mereka yang rumahnya sangat dekat dengan sekolah. atau jika bukan bisa jadi karena mereka memang mendapatkan kendaraan umum yang berangkatnya pagi-pagi buta.
Terlihat Sang Penjaga gerbang, Nosti sedang siaga melihat peserta MOS memasuki gerbang sekolah sambil menyapa Ahkam yang tiba.
"Wuih, Ahkam. Adakah?" Sapa Nois "Adakan saja" Balas Ahkam karena kurang paham yang dimaksud.
Melewati koridor sekolah, terlihat beberapa siswa baru yang tidak lain adalah peserta MOS yang baru saja melihat betapa megahnya sekolah favoritnya. Ada satu siswa yang terlihat seperti bersinar, sepertinya ia sudah tak se-excitied siswa baru yang lain. Terlihat sangat percaya diri ketika memasuki sekolah.
Ahkam memarkir motornya di parkiran motor. Terlihat ia mencoba untuk tetap seperti senior yang jaga image. Namun ia merasa aneh, karena dia merasa bahwa itu bukanlah dirinya. Terlihat ada segerombolan siswa baru, jumlahnya ada 3 orang. Nampak dari gerak geriknya mereka seperti kebingungan mencari jalan masuk.
"Dek, kalau peserta MOS lewat depan. Ikut mi sama saya" Tegur Ahkam kepada mereka
"Iya kak" jawab salah satu dari mereka bertiga
"15 menit lagi kumpul di Lapangan. Ayo-ayo peserta yang baru sampai percepat langkahnya. Periksa memang semua perlengkapannya sudah lengkap atau tidak" Teriak Pida yang ada di pos pemeriksaan.
"Wah. Pida yang jaga ternyata. Abis sudah Siswa baru" Gumam Ahkam
"Weh, lengkap ji kalian semua?" ucap salah satu dari mereka.
Ahkam sampai di pos pemeriksaan
"Saya juga diperiksa kah?" tanya Ahkam kepada Pida
"Iyalah, tapi outfit ji. Karena mu pake baju panitia sama celana training jadi aman" Jawab Pida
"Oke, masuk ka pale nah" Lanjut Ahkam menuju lapangan. Menyimpan tasnya di Bundaran sekolah.
Terlihat banyak siswa baru yang berkermunan, sekian banyak warna masih terlihat cenderung berkumpul sesamanya. Sebuah pemandangan yang tak disukai oleh warga sekolah. Di sekolah Ahkam, diterapkan sebuah budaya bahwa tak ada diskriminasi antar siswa. Sehingga semua golongan berhak untuk mendapatkan hak yang sama. Namun sebagai manusia mereka secara naluriah pastinya akan cenderung untuk berkelompok dengan yang menurut mereka setara.
Ahkam berpikir bahwa hal ini sangatlah tidak enak dipandang oleh matanya. Sebab Ahkam sendiri adalah siswa yang mempunyai banyak lingkat pertemanan, mulai dari siswa dari kelas bawah hingga kelas atas. Semuanya mengenali Ahkam sebagai siswa yang humble dan sangat suka bergaul.
"Tes tes 1.. 2.. 3.." Ainul memeriksa megaphone apakah berfungsi atau tidak.
"Assalamu'alaykum Warahmatullah Wabarakatuh, yak oke teman-teman semua. Upacara pembukaan MOS akan segera dimulai jadi kepada semua peserta dan panitia silakan menuju ke lapangan" Isi pengumuman dari Ainul
"WOY, CEPAT KO SEMUA" terdengar teriakan dari bawa tiang bendera. Sholeh berteriak kepada semua peserta MOS
"JANGAN MAU DIKERASI BARU BERGERAK" teriaknya lagi.
"Jangan mi kapang teriak-teriak bos" gumam Ahkam
Seketika semua orang bergerak dengan panik
"Kam. Ambil ko TOA, kau Koor Outdoor toh?" Tanya Sholeh
"Iya sini saya pake" Jawab Ahkam
"Ehem,, ehem" Ahkam mencoba untuk melegakan tenggorokannya "Ayo teman-teman semua buat barisan sesuai gugus yang sudah dibagikan" Dengan nada yang dalam, Ahkam berhasil membuat pergerakan itu lebih tenang namun efisien.
Semua mata tertuju padanya, dan kendali ada ditangannya.
"Okay Kam, waktunya beraksi"






