Tidak ada pertemuan yang lebih hebat setelah perpisahan yang panjang, ketika mata kita memiliki bahasanya, tidak ada hari yang berarti setelah yang pergi kemudian kembali dan tiada nyala yang terang setelah kegelapan menemukan sinarnya. Setiap hari bagiku adalah bunyi, menanti nada yang tepat bagianku benyanyi, kemudian helaan nafas adalah bentuk ikrar doa, seakan nyawa adalah harapan yang nyata. Aku adalah kegilaanmu yang sulit dicerna, mimpi mimpi bodoh yang sukar jadi nyata tapi aku adalah doa, yang selalu kau sebut dihadapannya. Kau rubah perhitungan waktu dari sekejap menjadi miliaran tahun cahaya, saat aku menatapmu seakan aku tidak berada di alam raya.
Dinding tebal nan tinggi membatasi antara duniaku dan semestamu, aku tidak perlu menghancurkannya aku cukup berada perbatasan menunggu tembok itu menjadi gerbang, menyiapkan diri untuk dipersilahkan datang. Ada anugrah tuhan yang sengaja tidak kasat mata, namun kasat dalam rasa yang menjelma menjadi percakapan diantara kita, tuhan dan semesta.