Resensi Pilihan: Kisah Hidup A. J. Fikry
Ditulis oleh Yoeni Syafitri di https://www.facebook.com/notes/yoeni-syafitri-sekar-ayoe/resensi-novel-the-storied-life-of-aj-fikry-by-gabrielle-zevin/10208109151767030/ untuk program #ResensiPilihan di Twitter @bukugpu
“Manusia tidak bisa hidup sendiri; setiap buku membuka jendela dunia.”
Hidup A.J. Fikry jauh dari yang diharapkannya. Istrinya meninggal, penjualan di toko bukunya merosot tajam, dan hartanya yang paling berharga, koleksi puisi Poe yang langka, baru saja hilang dicuri. Pelan tapi pasti, A.J. menjauhkan diri dari semua orang di Pulau Alice. Bahkan ia tak lagi menemukan kegembiraan dari buku-buku di tokonya. Ia malah menganggap buku-buku itu sekadar penanda bahwa dunia telah berubah begitu cepat.
Tetapi kemudian paket misterius muncul di tokonya. Paket itu kecil, meski bobotnya lumayan. Kemunculannya memberi A.J. kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik dan melihat semua hal dengan perspektif berbeda. Tak butuh waktu lama bagi orang-orang di sekitar A.J. untuk menyadari perubahan dalam dirinya. Ia tak lagi pahit, buku kembali menjadi dunianya, dan semua hal berubah menjadi sesuatu yang tak ia duga akan terjadi dalam hidupnya.
“Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat.” (hlm. 101)
A.J. Fikry, 39 tahun, adalah pemilik Island Books, satu-satunya toko buku kecil di Pulau Alice. Tokonya hanya laris di bulan-bulan musim panas karena dibeli oleh turis-turis yang sedang berlibur. Walaupun memiliki toko buku, anehnya, A.J. tidak menyukai penulis dan seleranya terhadap buku sangat spesifik--lebih banyak yang ia tidak suka daripada yang ia suka. Ia hanya menyukai karya-karya sastra unggulan dan tidak suka buku bergambar, buku anak, buku remaja, chicklit, terjemahan, fantasi dan masih banyak lagi. Penjualannya merosot tajam dan makin parah sejak istrinya meninggal.
Istri A.J., Nic, meninggal karena kecelakaan. Semenjak itu Ia tidak lagi membaca dan sinis terhadap pelanggan. Satu-satunya penyemangat A.J. adalah Tamerlane, kumpulan puisi karya Edgar Allan Poe miliknya yang sangat langka dan bernilai lebih dari 400 ribu dolar. A.J. awalnya berencana menutup toko dan pensiun dari uang hasil lelang buku itu nantinya. Tetapi, sialnya buku itu hilang. Di malam Ia mabuk-mabukan sembari merindukan keberadaan istrinya, bukunya dirampok orang. A.J. makin tenggelam dalam keputusasaan dan kesendirian.
Sampai paket itu datang. Paket kecil dan berbobot lumayan itu datang beberapa minggu setelah perampokan. Paket itu juga anehnya diikuti oleh peningkatan bisnis yang lumayan. A.J. lebih bisa menghadapi orang-orang, kembali membaca untuk bersenang-senang, dan tidak lagi merasa kesepian. Paket itu mengubah perspektifnya atas segala hal dan termasuk membuatnya merasakan cinta lagi.
Apakah isi paketnya? Akankah A.J. menemukan kembali koleksi puisinya yang berharga itu?
Sepertinya aku jadi lembek di usia paruh baya. Tapi aku juga berpikir reaksiku belakangan menunjukkan pentingnya menemukan kisah di waktu yang tepat dalam hidup kita.---A.J.F.
Well, novel ini cukup membuat saya terkejut. Pertama, saya tidak pernah menyangka kalau membacanya bisa terasa seasyik ini. Dilihat dari blurb-nya, saya sudah bersiap-siap akan bertemu penjual buku tua yang pemurung dan depresif karena baru saja kehilangan istri, tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Proses kesedihannya tidak dibuat berlarut-larut sepanjang cerita. Justru karakter A.J. yang sinis dan tidak ramah itu dibumbui dengan dialog yang lincah hingga membuat saya makin terhibur.
Yang kedua, surprisingly ternyata novel ini juga romantis. Kehilangan istri tercinta ternyata tidak membuat A.J. mati rasa. Saya sempat menduga akan menemukan banyak ungkapan-ungkapan sentimental tentang rasa kehilangan, tapi Gabrielle Zevin kembali mengejutkan saya. Buku ini ternyata tidak hanya menyiratkan tentang kenangan, tapi juga harapan.
“Ketakutan tersembunyi bahwa kita tidak patut dicintailah yang menyebabkan kita terisolasi,” tutur kutipan tersebut. “tapi sebenarnya, penyebab kita terisolasi adalah karena kita berpikir kita tidak patut dicintai. Suatu hari nanti, entah kapan, kau akan berkendara di jalan. Dan suatu hari nanti, entah kapan, pria, atau wanita itu, akan ada di sana. Kau akan dicintai karena untuk pertama kali dalam hidupmu, kau benar-benar tidak akan sendirian. Kau akan memilih untuk tidak sendirian.” (hlm. 167-168)
Overall, buku The Storied Life of A.J. Fikry ini spektakuler dengan cara yang sederhana. Untuk sebuah buku yang tidak terlalu tebal, pahit manisnya kehidupan benar-benar digambarkan secara total. Bagaimana buku bisa mengatasi kesendirian, bagaimana selalu ada harapan dari rasa kehilangan, dan bagaimana hidup selalu memberi kita kesempatan lewat hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan---semua dikupas tuntas di buku ini. Bagi Anda pencinta buku yang ingin membaca buku tentang buku saya rekomendasikan buku ini. Ini adalah sebuah kisah yang bisa membuat hati kita hangat seperti saat mengingat orang-orang terdekat. Recommended :)
Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. (hlm. 263)
Judul: The Storied Life of A.J. Fikry | Penulis: Gabrielle Zevin | Tebal: 280 Halaman | Terbit: Oktober 2017 | ISBN: 978-602-03-7581-6








