FOOD ALLERGIES: PROTEIN SUSU SAPI PENYEBAB ALERGI PADA ANAK-ANAK
Fajar Indah Lestari, Dedin Finatsiyatull Rosida*, Raka Adi Pratama, Muhammad Vishal N, Alya Salmanisa R, Mardani Rizkia P, Amanda Rahmasari
Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknik
UPN “Veteran” Jawa Timur
*Email : [email protected]
Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan dengan sel mast. Reaksi timbul akibat paparan terhadap bahan yang pada umumnya tidak berbahaya dan banyak ditemukan dalam lingkungan. Faktor penyebab alergi diantaranya yaitu riwayat alergi pada keluarga akan meningkatkan risiko alergi lain, seperti rhinitis alergi, dan asma. Transmisi alergi bisa terjadi melalui interaksi antara ibu dan anak saat kehamilan. Patogenesis yang sering terjadi pada kejadian alergi yaitu IgE mediated dengan adanya reaksi hipersensitivitas dari pajanan tertentu. Atopy dapat terjadi bukan karena penyakit tertentu, namun karena paparan alergi yang berulang.
Sebagian besar reaksi alergi makanan melalui reaksi hipersensitivitas tipe I. Reaksi yang terjadi bisa cepat dan lambat. Reaksi cepat akan terjadi pada saluran cerna, saluran pernapasan, kulit, mata, jantung, pembuluh darah, serta reaksi anafilaksis. Reaksi cepat dapat terjadi pada menit hingga beberapa jam setelah terpapar alergen. Sedangkan reaksi lambat dapat terjadi seperti dermatitis atopic serta pada saluran cerna. Reaksi lambat dapat timbul lebih dari delapan jam setelah terpapar alergen. Perbedaan dengan intoleransi makanan adalah gejala selalu terjadi pada pencernaan dikarenakan partikel yang kontak dengan saluran pencernaan.
Faktor penyebab alergi makanan diantaranya genetik, imaturitas usus, paparan alergi. Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau keluarga penderita. Pada saat usia imatur, sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah sehingga gagal berfungsi untuk menahan alergen. Alergen akan secara mudah masuk ke dalam tubuh. Pada bayi baru lahir, sel yang mengandung IgA merupakan immunoglobulin utama yang disekresi secara eksternal, tidak sering ditemui di saluran cerna. Dalam perkembangan usia akan meningkat sesuai dengan maturasi sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan reaksi alergi makanan sebagian besar terjadi selama tahun pertama kehidupan.
Alergi susu sapi adalah suatu reaksi yang tidak diinginkan yang diperantara secara imunologis terhadap protein susu sapi. Klasifikasi alergi susu sapi diantaranya terbagi menjadi dua, yaitu:
Gejala klinis timbul dalam waktu 30 menit sampai 1 jam. Sangat jarang terjadi dalam waktu kurang dari 2 jam dari mengkonsumsi susu sapi. Manifestasi klinis yang terjadi diantaranya, urtikaria, angioedema, ruam kulit, dermatitis atopic, muntah, nyeri perut, diare, rinokonjungtivitis, bronkospasme, dan reaksi anafilaksis.
Alergi susu sapi yang dengan perantara IgG dan IgM. Gejala klinis timbul lebih lambat 1-3 jam setelah mengkonsumsi protein susu sapi. Protein susu sapi adalah alergen tersering pada anak. Susu sapi mengandung sedikitnya 20 komponen protein yang dapat merangsang produksi antibodi manusia. Protein susu sapi terdiri dari dua fraksi, yaitu casein dan whey. Fraksi casein yang membuat susu berbentuk kental dan merupakan 76% sampai 86% dari protein susu sapi.
Susu sapi merupakan salah satu makanan alergen yang paling umum pada anak-anak, terjadi 0,3-7,5% dari populasi bayi. Kebanyakan penelitian mengungkapkan bahwa kasein dan b-laktoglobulin merupakan alergen utama dari susu sapi. Mayoritas bayi dengan alergi susu sapi secara spontan mengembangkan toleransi klinis protein susu sapi, yaitu, tidak ada lagi peradangan alergi pada usia sekolah. Dengan kata lain, mereka akan mengatasi gangguan alergi terhadap susu sapi. Namun, konsekuensi yang berbahaya dari pembatasan diet sebelum anak-anak ini mengatasi reaksi alergi mereka, kerusakan jaringan akibat peradangan alergi kronis, dan potensi pawai atopik kemudian berfungsi sebagai pengingat penting bahwa alergi susu sapi perlu dikelola dengan baik sejak dini.
Saat terjadi sensitisasi alergen susu sapi terbentuklah APC. Antigen-presenting cell (APC) merupakan sel yang secara khusus menangkap mikrobia dan antigen lain, mempresentasikannya ke limfosit, serta menyediakan sinyal yang mampu menstimulasi proliferasi dan diferensiasi limfosit tersebut. Kemudian terjadi reaksi imunologis yaitu penurunan Th1 dan peningkatan Th2. Disertai juga perubahan sel B dan IgE spesifik. Saat tubuh terkena alergen pasa saat paparan berikutnya maka terbentuklah sel mast dan menimbulkan gejala klinis alergi susu sapi berupa ; pada sistem Gastrointestinal terjadi mual, muntah, nyeri perut kolik, diare, tinja berdarah; pada kulit terjadi urtikaria, ruam, rash, angioedema, eksim, dermatitis stopik; pada sistem Pernapasan terjadi pruritus hidung, hidung tersumbat, bersin, asma, mengi, dyspnea, sesak; dapat juga terjadi anafilaksis. Penangannya yaitu dengan eliminasi diet, penghindaran protein susu sapi dan pemberian formula hidrolisat ekstensif serta obat-obatan seperti anti-histamin, ventolin nebulizer, dan salep untuk gatal. Setelah diberikan penganan tersebut, selang beberapa periode waktu terjadi respon imunologis yaitu penurunan IgE, peningkatan IgG4, dan peningkatan aktifasi T-Reg yang menimbulkan toleransi terhadap susu sapi.
Akdis CA. 2012. Therapies for Allergic Inflammation: Refining Strategies to Induce Tolerance. Nature Medicine.;18(5):736–749.
Carroccio A, Cavataio F, Montalto G, D’Amico D, Alabrese L, & Iacono G. 2000. Intolerance to hydrolysed cow’s milk proteins in infants: clinical characteristics and dietary treatment. Clin Exp Allergy 30: 1597-1603.
Heyman M & Desjeux JF. 1992. Significance of intestinal food protein transport. J Pediatr Gastroent Nutr 15: 48-57.
Ilmawati, C., Yuli, S., Zulmansyah. 2016. Gambaran Manifestasi Klinis Alergi Susu Formula pada Usia 1- 6 Bulan di Rumah Sakit Al-Ihsan Bandung Periode 2013-2015. Prosiding Pendidikan Dokter. Volume 2, No.2.
Ramadhianty, L. 2019. Pengaruh Usia Terhadap Toleransi Susu Sapi Pada Anak Dengan Riwayat Alergi Susu Sapi (ASS). Skripsi. Surabaya : Universitas Airlangga.
Notoatmojo, W. 2011. Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi Pada Anak. Sari Pediatri. 13(3), pp. 185–90.
Savilahti EM, Savilahti E. 2013. Development of Natural Tolerance and Induced Desensitization in Cow’s Milk Allergy. Pediatric Allergy and Immunology.;24(2):114–121.