Di Trotoar
(Dibuat supaya Pila semangat! c:)
Wajahnya nampak ketus kendati ia mengenakan gaun berwarna cerah. Gaunnya merah dengan titik hitam, sedangkan payungnya berwarna biru pastel. Tetapi wajahnya begitu kelabu, sama persis dengan cuaca di London Utara saat ini lengkap dengan hujan derasnya.
“Hai cantik, sedang apa?” seorang lelaki random entah dari mana bersiul dan menggodanya. Camille pura-pura tak dengar saja, tetapi lelaki itu justru tertantang untuk mendekatinya dan ini membuat Camille jijik. “Kok diam saja? Siapa namamu? Daripada kau kehujanan, bagaimana kalau kita ngopi saja?”
Raut muka Camille kecut. Rasanya ingin menginjak kaki orang ini, tetapi ia tahan. Ia hanya mengangkat alisnya dengan wajah merendahkan, suaranya tegas. “Tidak, terima kasih. Aku sedang menunggu seseorang di sini.”
Lelaki menyebalkan di hadapan Camille masih belum menyerah. “Siapa orang itu? Apa dia lebih cantik darimu?”
Seandainya ini teman dekatnya dan mereka bertemu dalam keadaan yang lebih baik, barangkali Camille akan tertawa. Domenic lebih cantik dari dia? Tolong katakan kalau orang ini lucu. Sayangnya mereka bertemu dalam tata krama yang tak menyenangkan. Pertanyaan aneh itu tak membuatnya tertawa, hanya geli—dalam artian negatif.
“Dia jauh lebih tampan darimu, yang jelas,” jawab Camille tegas, “Lebih sopan, lebih manis, dan lebih menghargai perempuan.”
Kalimat tersebut jelas membuat pemuda ini tersinggung. Nampak sekali emosinya sudah sampai ubun-ubun dan Camille mulai merasa takut. Berani sekali dia, mengatakan hal seperti itu pada pria yang jelas-jelas badannya jauh lebih besar? Dia berusaha tenang, menjaga sikap, dan nampak arogan. Kentara sekali tak mau kalah. Saat ia melihat jelas bahwa lelaki itu sudah hendak melakukan tindak kekerasan padanya, tiba-tiba Camille melihat dari seberang jalan sesosok pemuda berambut seputih salju yang sangat familier baginya, baru saja keluar dari halaman universitas.
“Domenic!” Ia berteriak, memanggilnya dalam suara nan manis, lalu segera berlari ke arah Domenic. Bukan sesuatu yang sering ia lakukan, tapi... ah, sudahlah. Ini keadaan darurat.
Bingung, Domenic hanya balas memeluk saat Camille mendadak memeluk Domenic, lalu segera menyandarkan kepalanya ke dada Domenic. Camille mengabaikan fakta bahwa Domenic merasa malu. “Ada apa?” tanya Domenic.
Gadis itu menggeleng, tersenyum kecil. “Bukan apa-apa,” gumamnya. Dari sudut matanya ia melihat bahwa pemuda yang tadi mengganggunya masih melihat mereka. Tetapi Camille bersikap masa bodoh dan memberikan senyum bahagianya pada Domenic.
.
.
.
—Meninggalkan si lelaki random tadi terpana. Siapa sangka bahwa gadis ketus yang dia temui tadi dapat tersenyum manis sedemikian rupa?















