Sudah Bercadar Tapi Masih....
Setiap ada netizen yang cerita tentang oknum perempuan bercadar yang problematic, di pikiranku cuma muncul dua hal:
Pertama, mungkin perempuan bercadar itu 'secara personal' memang problematic. Ya aku ga akan membenarkan perbuatan buruk manusia ini (terlepas pakaian dia gimana) dan sampe merugikan orang lain, apalagi yang ngalamin case kayak gini tuh bukan cuma seorang dua orang doang. Aku sendiri memang ngalamin juga sih ketemu sama perempuan cadaran yang agak problematic, udah cadaran tapi masih suka pake bahasa yang kasar, merasa si paling penting dan agak menyebalkan aja kelakuannya.
Tapi pertanyaannya apakah semua yang bercadar begitu? Belum tentu.
Di lain kesempatan aku kenal beberapa orang yang udah bercadar memang tulen akhlaknya baik. Cuma duduk deket mereka aja rasanya hati adem banget. Padahal lagi diem gitu, ga ada yang lagi di obrolin. Apalagi kalau ada obrolan, rasanya makin berfaedah aja hidupku deket-deket sama mereka. Gatau kenapa. Mungkin itu yang dinamakan vibrasi orang tuh ga akan pernah salah. Kalau dia beneran baik, diemnya aja udah bermanfaat untuk orang lain.
Kedua, ada poin dimana aku ga setuju kalau, ketika ada orang yang berbuat 'dzolim' atau merugikan orang lain secara lisan atau tindakan, terus mesti banget bawa-bawa 'attire' atau outfit atau cara berpakaian seseorang, termasuk perempuan dengan jilbab panjang dan bercadar yang jadi kasus disini. Kayak jarang banget aku dapetin utas atau berita, ketika ada orang berbuat buruk sampai merugikan orang lain, terus yang bawa berita/ yang bawa cerita kaitkan sama cara berpakaian oknum ini, misal pakaiannya terlalu vulgar, pakai rok mini, ga menutup aurat, dan sebagainya. Ga ada yang bahas. Sepi.
Jadi, aku pikir, kita harus tetap menyuarakan kalau cara berpakaian seseorang ga selalu berbanding lurus sama akhlak dan kelakuan mereka di lingkungan masyarakat. Akan selalu ada orang jahat, menyebalkan, dan ga selaras sama nilai-nilai kebajikan yang udah kita pegang dan percaya sejak lama. Mau se-tertutup apapun pakaiannya, kalau akhlak orang ini buruk, gimanapun caranya, akhlak buruk dia ga akan bisa ditutup dengan paripurna, karena akan selalu ada manusia lain yang terdampak dari perkataan dan perbuatannya.
Tapi ini bukan berarti kita negate atau meniadakan orang-orang yang udah susah payah istiqomah mengusahakan keselarasan antara cadar/hijab panjangnya dan berakhlak baik (Nb: eh serius jadi orang yang istiqomah tuh penuh dengan kesusahan dan kepayahan ga sih? Karena untuk masuk surga memang harus seberjuang itu kan ya? Semuanya dengan izin Allah tentunya).
Pun begitu sebaliknya, ketika ada orang yang kalau dilihat luarannya belum sempurna nutup aurat, tapi dia berakhlak baik sama sesama, ya tentunya kita mesti fair juga, kita harus mendukung akhlak baiknya. Tapi hal ini juga bukan berarti nullify kenyataan bahwa memang ada kok orang-orang yang pakaiannya ga proper, buka aurat sana-sini dan tindakannya masih diluar nalar.
Balik lagi ke poin bahwa kita ga bisa mentah-mentah menilai akhlak seseorang hanya dari pakaian apa yang dia pakai.















