Awalnya saya berpikir bahwa design thinking adalah cara manusia berpikir ataupun mindset yang benar. Namun setelah diberi masukan dan baca-baca saya akhirnya menyadari design thinking bukanlah sekedar mindset. Melainkan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah yang memiliki fokus kepada pengguna atau user. Sedangkan mindset adalah pola pikir manusia terhadap sesuatu hal yang menghasilkan sudut pandang setiap personal.
Design Thinking sangatlah terutama untuk para pe-bisnis. Mengapa? Karena seringkali terjadi sebuah masalah didalam perusahaan yang membuat decision maker terburu-buru untuk menyelesaikan masalah tersebut, apalagi jika masalah tersebut terasa sangatlah fatal. Sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah adalah keputusan yang hanya benar sesaat! Bukan keputusan yang terbaik.
Mari kita bahas satu-persatu seperti apa cara design thinking berkerja.
Langkah pertama
Menemukan pain point atau menemukan akar masalah yang ada. Cara untuk menemukan akar masalah sangatlah banyak, diantaranya kita bisa menggunakan cara yang digunakan oleh Sakichi Toyoda yaitu: 5 Why. Yang nantinya dikembangkan menjadi Six Sigma didalam fase define (DMAIC: Define, Measure, Analyze, Improve, Control).
Secara pribadi saya merasa “5 Why” adalah cara yang paling simpel dan cepat. Contoh sederhananya karyawan sering datang terlambat ke kantor maka yang harus ditanyakan:
Mengapa karyawan sering datang ke kantor? Karena terjebak macet
Mengapa karyawan sering sekali terjebak macet? Karena berangkat jam 8 pagi.
Mengapa karyawan sering berangkat jam 8 pagi? Karena bangunnya telat.
Mengapa karyawan bangunnya telat? Karena lembur dikantor sampai jam 10 malam
Mengapa karyawan sering lembur? Karena banyak tugas dari kantor.
Langkah kedua
Didalam design thinking adalah cara mengatasai pain point yang telah ditemukan. Perlu diperhatikan bahwa langkah kedua ini ialah menemukan cara yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah yang ada, dan solusi yang dicari berdasarkan human center, bukan berdasarkan masalah muncul.
Rumus untuk langkah kedua ini menggunakan How Might Be atau bisa disingkat menjadi HMB. Jika di breakdown kata-katanya akan menjadi seperti ini:
Bagaimana ___ membantu ___ untuk melakukan ____?
Penjelasan singkatnya:
Setelah “bagaimana” diikuti oleh subject: saya/perusahaan/lembaga
Setelah “membantu” diikuti oleh object: customer/karyawan/dll
Setelah “melakukan” diikuti oleh pain point: masalah
Contohnya:
Bagaimana perusahaan membantu karyawan untuk bisa datang ke kantor tepat waktu?
Jawaban yang dihasilkan dari sini akan merupakan poin-poin yang diambil disetiap rapat yang didapatkan oleh para staff yang menghadiri rapat tersebut.
Langkah Ketiga
Brainstorming dari poin-poin yang dihasilkan dari langkah kedua diatas. Cara untuk melakukan brainstorming bisa di googling saja karena tidak ada yang istimewa didalam brainstorming kecuali… sikap yang anda berikan kepada setiap personal staff yang ada saat memberikan brainstorming!
No Judgment
No Interruption
Seburuk apapun ide yang dikeluarkan oleh rekan, atasan dan staff anda, kita tidak boleh menyela dan langsung menghakimi bahwa orang tersebut salah. Karena kita tidak tahu jangan-jangan setelah itu akan keluar ide bagus lainnya.
Ide brilian dihasilkan dari 99% ide sampah seseorang.
— CEO English Cafe
Untuk itu kita tidak boleh menghakimi ide seseorang yang muncul sekalipun terdengar sampah dan tidak berguna, karena dari sinilah orang tersebut belajar mengungkapkan pendapat dan ide. Mereka juga butuh waktu untuk berkembang menjadi lebih baik.
Langkah Terakhir
Storyboard. Jika anda belum menemukan ide brililan jangan buru-buru untuk masuk ke tahap ini. Apabila terjadi perdebatan pada langkah ketiga, maka ambilah keputusan yang terbaik menurut anda jika anda sebagai decision maker, jika tidak minta decision maker untuk mengambil keputusan terbaik menurutnya.
Pada tahapan storyboard ini hanya mendetailkan hasil ide brilian yang berhasil ditemukan tersebut dan berupaya mengimplementasikannya. Disaat perumusannya kita harus memainkan plus/delta.
Mudahnya apabila seseorang melakukan kesalahan didalam merumuskan storyboard atau anda sebagai decision maker merasa hal ini kurang tepat, maka anda harus mengapresiasi terlebih dahulu kemudian baru melakukan koreksi. Tidak serta-merta anda potong langsung kemudian memasukkan ide anda. Plus/delta berguna staff anda agar mereka tetap percaya diri dengan pemaparan mereka selama rapat.