Nyala Jiwa
Hari ini aku terbangun sedikit lebih pagi. Waktu menunjukkan pukul 5:15, aku segera bergegas ke dapur, memasak air untuk menyeduh teh dan gula yang sudah kusiapkan di dasar cangkir.
Sembari menunggu, aku terbang menerawang ke dalam pikiranku sendiri. Hari ini adalah hari ke dua tanpa mimpi, dan inspirasiku adalah buah dari mimpi-mimpiku. Hari ini dia tenggelam hanyut bersama mimpi. Jadi, apa yang harus kulakukan pagi ini? Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca Gibran yang sudah beberapa minggu kutinggalkan.
Dengan segelas teh panas beratapkan awan, aku duduk di sudut taman belakang rumahku. Angin berhembus dengan sopan, menggoyangkan dedaunan secara perlahan, ia berjalan lembut di atas kulit tubuhku, menciptakan syahdu. Aku menengadah ke atas, tumpukan awan tak dapat melunturkan warna biru ketuaan yang tercipta, langit sungguh berseri pagi ini meskipun matahari masih bersembunyi.
Kata demi kata menenggelamkanku dalam merdunya tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Tak begitu lama, sampailah aku pada suatu cerita yang berjudulkan “Assilban”. Paul Assilban adalah seorang musikus dan sastrawan. Ia memiliki seorang teman baik bernama Salem Mowad yang juga merupakan seorang sastrawan dan pemain kecapi. Mereka sering tampil bersama untuk bernyanyi dan berpuisi.
Cerita ini diawali dengan kekesalan Salem terhadap Paul yang melakukan suatu hal yang menurutnya tak pantas dan sangat tidak terhormat. Suatu hari, Paul dan Salem diundang untuk menghadiri acara pernikahan anak laki-laki seorang kaya di Beirut bernama Jalal Pasha. Singkat cerita, di tengah penampilan, Paul menghentikan nyanyiannya dan menolak untuk melanjutkan, kemudian ia meninggalkan rumah Jalal Pasha menuju rumah Habib Saadi yang jaraknya hanya dipisahkan oleh sebuah taman kecil dari tempat berlangsungnya pesta. Di sana Paul meminta Salem untuk memainkan kecapi sebaik yang ia bisa, dan kemudian Paul memutar wajahnya menghadap rumah Jalal Pasha dan mulai bernyanyi sekuat tenaga yang ia punya. Para tamu undangan pesta berkerumun mendekati jendela, bahkan beberapa di antaranya keluar dan duduk di bawah pohon taman. Sebagian orang bergembira dan memujinya, sementara sebagian lain menyumpahi dan mengumpatnya. Tak habis pikir, Salem sungguh kecewa dengan sahabatnya saat itu.
Yosef yang merupakan teman Paul dan Salem, mendengarkan cerita itu dan kemudian mengatakan suatu hal yang menggetarkan jiwaku. Memang sedari tadi aku membaca kisah ini, aku seperti sedang melihat diriku sendiri.
Aku tidak menyalahkan Paul, karena aku tidak merasa mengetahui rahasia hati dan niatnya; bagiku ini adalah persoalan pribadi yang hanya dia yang tahu persoalannya. Aku sangat memahami bahwa sifat para seniman, terutama pemusik, sangat berbeda dengan kebanyakan kita. Karenanya tentu tidak adil untuk mengukur tindakan mereka dengan penggaris awam. Seorang seniman, maksudku dengan seniman adalah orang-orang yang mencipta “image” baru dari pemikiran dan tindakan mereka, adalah orang-orang asing di tengah masyarakatnya, bahkan di antara sahabatnya sendiri. Ia berjalan ke timur ketika orang-orang yang lain berjalan ke barat. Apa yang mendorongnya berbuat begitu, bahkan ia sendiri juga tidak tahu. Ia menderita di tengah pesta, dan bahagia di tengah nestapa. Mereka adalah si bodoh di antara orang pandai, dan si pandai di tengah-tengah orang bodoh. Ia melampaui segala hukum, terlepas dari persoalan apakah kita menyukainya atau tidak.
Paul Assilban sangat menggambarkan diriku saat ini, terlebih lagi deskripsi Yosef terhadap Paul yang mengatakan “Ia menderita di tengah pesta, dan bahagia di tengah nestapa”, sangat mirip dengan tulisanku beberapa waktu lalu yang berjudul “Latis Nalar”.
Cerita dilanjutkan dengan penjelasan Paul atas apa yang dilakukannya.
Orang-orang kaya di rumah Jalal Pasha tidak mungkin mampu membedakan antara sebuah syair dan igauan, antara musik yang sejati dengan bunyi panci-panci. Aku tidak mungkin melukis di hadapan orang buta, atau menarik suara jiwaku di hadapan orang tuli. Aku hanya melihat orang-orang yang keliru dan dangkal, orang yang tolol dan dungu, orang-orang yang penuh ambisi dan sombong.
Seni adalah burung yang terbang bebas di angkasa atau merayap dengan gembira di permukaan bumi. Tak ada seorang pun dapat mengubah tabiatnya. Seni adalah ruh, yang tak dapat dijual dan tak dapat dibeli. Kita orang-orang Timur harus memahami kebenaran ini. Para seniman kita harus belajar menghormati diri, karena mereka adalah cawan berisi anggur suci.
Cerita ditutup dengan percakapan antara Paul dengan Helen kekasihnya, yang juga merupakan adik kandung Yosef. Helen mengatakan bahwa ia mendengar nyanyian Paul malam itu, “Ya, aku mendengar jiwamu menyeru malam hingga pagi. Aku mendengar suara Tuhan dalam nyanyianmu.”
Bulu kudukku berdiri, terima kasih Kahlil Gibran sudah menyalakan api dalam jiwaku yang hampir mati. Mungkin aku memang berbeda dengan orang-orang kebanyakan, tapi rasanya tak perlu kujelaskan.
Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah menemaniku membaca pagi ini:
Seekor burung kecil yang terbang dan bernyanyi kesana kemari. Anjingku Loga yang selalu berhasil menipu dengan parasnya yang lucu dan lugu. Sekawanan semut yang mengerumuni sisa-sisa teh manisku, dan kamu yang terus menginspirasiku.











