Beberapa waktu belakang (tepatnya sejak Juli 2020), saya mulai merapikan grup WA saya. Merapikan artinya memaklumi (alias mute) grup yang masih wajib saya ikuti, memprioritas grup keluarga kecil (grup yang isinya Mama Bapak dan Mama Papa), dan pamit alias undur dari dari grup-grup yang membuat saya tidak nyaman atau berpotensi menularkan hal-hal yang tidak saya inginkan dalam diri saya, dan boleh jadi akan berdampak pada keluarga kecil saya. Tidak hanya itu, saya juga sempat keluar dari grup yang isinya sebenarnya orang-orang baik semua, teman sekos jaman kuliah, tapi saya merasa kewalahan dan butuh rehat dari banjir informasi. Bisa saja tidak dibuka, tapi memang kadang kalo lagi chat di WA Web, chat grup yang ramai jadi auto keatas dan cukup mengganggu saya. Saya pamit untuk sementara dan alhamdulillah teman-teman bisa mengerti.
Apakah saya sedang kehilangan satu lingkaran kebaikan?
Apakah saya menyia-nyiakan teman yang bahkan sudah terjalin 5 tahun secara intens dalam sebuah organisasi, good things will always remain good. Namun, semakin hari semakin ngga jelas arah pertemanannya, terutama sejak bocornya sebuah informasi yang tidak saya harapkan dan membuat rasa percaya saya terhadap teman jadi hilang. Tidak hanya itu sih, sebenarnya efek samping berteman dengan beberapa orang di anggota grup tersebut membuat saya menormalisasi perilaku nyinyir, mudah menjustifikasi keputusan orang lain sebagai bahan candaan, merasa punya jalan hidup paling benar, dan masih banyak lagi. Setelah saya petakan sisi positif dan sisi negatif dari mempertahankan grup tersebut jauh lebih banyak negatifnya, saya akhirnya memutuskan untuk undur diri tanpa perlu pamit.
Jadi, menjawab pertanyaan sebelum paragraf ini, jawabannya: insyaAllah akan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa lebih menghargai orang lain tanpa harus melakukan perilaku nyinyir berdalih CANDA. It’s over and done! :)
Dan benar saja, 6 bulan saya meninggalkan grup tersebut, begitu ada salah satu kabar bahagia dari dua sahabat saya, bisa-bisanya salah satu anggota grup tersebut bilang, “oh nyarinya yang dosen ya?”
Saya mendapat potongan screenshot ini awalnya agak naik pitam. Bisa-bisanya salah satu dari mereka menjustifikasi pilihan hidup orang lain TANPA TAHU apa yang sebenarnya terjadi. Tahukah bahwa kalimat yang saya bold diatas berpotensi NULARI justifikasi tersebut ke anggota grup lainnya? Kalau saya di versi kepribadian saya yang dulu, saya akan minta si teman saya yang kirim screenshot ini untuk kembali dimasukkan grup dan menjelaskan bagaimana saya menjadi saksi atas segala niat baik dua sahabat saya, bahkan dalam kondisi sama-sama nol dan penuh dalam ketidakpastian jalan hidup. Tapi, itu adalah saya yang dulu. Kemudian menilik kisah hidup saya sendiri, ketika memutuskan menikah dengan mas Aldo, tidak sedikit komentar miring, pedas, menyakitkan yang datang pada saya, baik dari orang-orang jauh (yang sama sekali nggak tahu menahu kehidupan saya), hingga orang-orang terdekat. Kalau ditanya lukanya seperti apa, dulu rasanya sakit sekali. Nangis setiap hari tapi sudah bertekad untuk menyimpan dalam dalam, paling supir angkot aja yang tahu, karena saya lebih sering nangis sepanjang pulang dari kampus ke rumah Gresik. Sampe pager rumah, jelas saya sudah menyeka air mata saya. Begitu setiap harinya.
“Kenapa mau sama Aldo? karena dia udah mapan ya? Cuma karena kaya doang nih?”
“Ih kok Valina mau sih sama orang yang bukan liqo-ers?”
“Oh Valina nyarinya yang sesama S2 ya?”
“Pilihanmu nyakiti beberapa pihak, inkonsisten, dll”
“Kenapa sih kamu gamau bersabar setelah S2 dulu baru nikah? Kamu ngga mau sama X? Clear kok ini, setelah selesai tugasnya bakal ngelamar kamu, aku yang tanggung jawab”
“Aldo loh ga ada di saat kamu susah berjuang cari sekolah, begitu udah dapet sekolah dan beasiswa, eh bisa-bisanya dia yang kamu pilih. haha ironi”
Sungguh, kalimat-kalimat ini masih teringat jelas dalam ruang memori saya. Barangkali justifikasi-justifikasi miring terhadap suami saya ini yang jadi jalan Allah memberikan kami kekuatan selalu sampai saat ini.
Semua itu terlewati tanpa saya memberikan penjelasan panjang kali lebar. Ya, saya tentu sempat mengusahakan untuk menjelaskan secukupnya pada orang-orang terdekat, dan sepertinya pun tidak berhasil. Sampai pada suatu titik, memang tidak ada yang perlu dijelaskan, sama sekali tak perlu, biarlah Allah yang membuktikan lewat kejadian sehari-hari. Allah Maha Baik, sepanjang 2,5 tahun kehidupan kami, tak kurang dari suatu hal apapun. Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat.
Hal yang saya kagumi dari suami saya hingga saat ini (semoga ia tak berubah) adalah ia seorang pekerja keras. Mereka yang menyangka mas Aldo mapan kaya raya mungkin tak akan pernah tahu jalan hidup yang mas Aldo lalui. Ia bahkan tidak pernah ikut rekreasi SMP dan SMA karena memang Mama Papa ngga ada uang saat itu dan sekolahnya tidak ada subsidi silang kayak SMA saya dulu. Mereka yang bilang mas Aldo tajir melintir mungkin ga pernah tahu gaya hidupnya yang super sederhana, makan seadanya, nggak susah, dia penabung yang ulung dan selalu berusaha tidak berhutang, termasuk bukan aliran kredit rumah dan kredit kendaraan. Aku sempat bertanya tentang bagaimana prosesnya membeli mobil yang kini jadi kendaraan keluarga. Katanya tahun 2016 harga vios lagi anjlok tapi body dan mesin masih oke. Papa adalah ahli mesin (sempat punya bengkel), dan dia selalu cerita dengan bangga, “aku tahu mesin bukan karena text book, tapi karena suka nemenin Papa pas masih buka bengkel”. Begitu juga waktu beli motor RX King kesayangannya (saat single, aku sering mbatin ngga nyaman sama suara motor dua tak kayak gini, ternyata hal itu yang sangat disukai suamiku haha, congrats Val) di tahun yang sama, juga karena pas lagi murah. Belum lagi ke rumah mas Aldo, begitu sederhana, pojokan dan agak turun ke bawah, di belakang rumahnya ada empang (sungai kecil). “Terbiasa hidup sederhana” justru menjadi salah satu alasan besar saya menerima mas Aldo saat itu. Hanya saja, sebagian orang hanya melihat “titipan” dan menjustifikasi keputusan saya dengan hal tersebut. :)
Mas Aldo bukan yang rutin liqo. Bukan aktivitas kampus saat di UI. Bukan anak dakwah kampus yang berteman dengan orang-orang yang dianggap keren dan alim. Lalu, apakah orang-orang yang mendapatkan kesempatan ngaji, liqo atau apapun namanya itu merendahkan yang belum liqo apalagi masuk struktur orang-orang penting? Sungguh, saya rasa tidak ada kajian manapun yang mengajarkan “mendeskreditkan” seseorang dari liqo atau tidak liqo. Dulu saya nangis, tapi sekarang cuma mbatin, Ngajimu kurang jeru, bos.
Valina nyari yang S-2? Jawabannya: enggak. Buktinya apa? Tentu saya ngga akan pernah bisa cerita, karena yang ini bukan konsumsi publik, hehe. Namun, ngga dipungkiri, mendapatkan pasangan yang sama-sama S2 sedikit mengurangi potensi konflik atau kemungkinan jiper satu sama lain karena pendidikan. Walaupun sampai detik ini masih jiper karena suami saya sungguh logis, terukur, detail, fisika lovers hahahah (dan saya negasi dari fisika lovers), dan masih banyak lagi. Alhamdulillah semoga kami bisa saling melengkapi kelebihan satu sama lain dan bisa tambal sulam kekurangan satu sama lain, selamanya.
Pilihanmu menyakiti beberapa pihak. Tanpa sadar kalimat ini juga menyakiti saya saat itu. Sebenarnya, semua pilihan tidak akan mungkin menyenangkan semua pihak, itu hampir mutlak. Saya sendiripun tak habis pikir mengapa 8 April 2018 akhirnya orangtua saya berkata ‘ya’, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Perasaan sreg setelah istikharah diiringi dengan diskusi panjang kali lebar, dan yang saya ingat, saya pernah bilang, “adek siap nikah insyaAllah, kalo iya diizinkan, mohon bisa dilakukan sebelum berangkat sekolah. Tapi, kalo ternyata khitbah ini diterima dan harus nunggu sampai lulus dua-duanya, lebih baik nggak usah diterima karena terlalu lama. Jadi harapannya ada jawaban yang clear, ya atau tidak dari Bapak dan Mama” hahaha. Kurang lebih kayak gitu. Pilihan saya menyakiti beberapa pihak, boleh jadi tidak sepenuhnya salah kalimat ini. Sepanjang 2017 dan 2018 pun saya juga mengalami dinamika perasaan yang ngga mudah, nggak semua orang bisa paham sekalipun keluarga dekat. Akhir tahun 2017 dan sepanjang tahun 2018, saya menyadari pertolongan Allah sangat luas, tak terbatas ikatan darah. Luka itu pun pulih perlahan-lahan. Di waktu itu juga saya juga belajar untuk agree to disagree. Ngga semua pendapat orang lain benar dari sudut pandang kita, karena kita ngga menjalaninya. Tapi bukan hak kita untuk menjustifikasi “salah” atas sikap/keputusan yang diambil, cuma sama-sama tahu bahwa kita punya jalan ninja masing-masing, punya cara menyikapi konsekuensi masing-masing.
Mas Aldo memang ngga menemani saat-saat sulit saya saat nyari sekolah, lho ya bener rek, wong durung kenal. Saya mengenalnya saat diklat beasiswa. Meskipun kelihatan jelas, bahwa kami akan sama-sama sekolah dengan beasiswa, meskipun kami berjumpa di saat semuanya terlihat sudah “selesai”, tapi sesungguhnya kami punya dinamika perjuangan yang naik turun. Memang benar, 1.5 tahun terasa mudah karena baik saya dan suami sama-sama mendapatkan beasiswa dan saya tidak perlu merepotkan suami akan kebutuhan finansial, saling melengkapi ajalah kalo main ke negara masing-masing. Tapi...........begitu kami pulang dan tinggal bareng per Februari 2020, sesungguhnya ujian untuk mencapai sakinah mawaadah dan rahmah baru dimulai. Mas Aldo yang masih nganggur saat itu, kami bertahan dari hasil jasa pengangkutan barang masal, dan saya yang menjadi dosen kontrak. Pertengahan Februari 2020, hidup masih sedikit santai meski ketar-ketir, begitu pandemi dimulai di bulan Maret 2020, dah lah ujian semakin meningkat. Mas Aldo masih dalam proses seleksi dosen, dan saya juga bekerja dari rumah. Terciptalah situasi “lu lagi lu lagi” karena kami masih ngekos saat itu. Akhirnya kami memutar otak supaya tetap bertahan hidup. Saya mulai jadi reseller makanan dan buku, mas Aldo alhamdulillah keterima kerja sebagai freelancer di ThinkTrax via upwork. Alhamdulillah ala kulli hal. Per Agustus 2020, mas Aldo dinyatakan sebagai calon dosen tetap, yang diikuti dengan ujian kehidupan berikutnya. Ya, mas Aldo memang tidak menemani saya di masa-masa sulit 2016-2017, karena baru kenal di akhir November 2017. Tapi, setelah menikah, sependek usia pernikahan kami, saya bersaksi bahwa ia tidak pernah menomorduakan saya dalam hal apapun, kecuali kulit ayam hahaha. Itu bagian saya yang ngalah, karena sebegitu cintanya beliau sama kulit ayam. Ia adalah sosok yang sejauh ini bertanggungjawab, dan saya juga akan selalu belajar untuk menciptakan ruang saling diantara kami. Pokoknya sebisa mungkin nggak hutang, semuanya tambal sulam, alias saling melengkapi satu sama lain. Mas Aldo ada, baik dalam masa senang, apalagi dalam masa sulit.
Hmmmmm, ya, energi saya tidak cukup untuk membuat mereka yang punya perspektif yang berbeda dan asumsi atas keputusan saya maupun keputusan sahabat saya dalam memilih pasangan hidup. Setidaknya, menuliskan sebagian uneg-uneg ini dapat melegakan hati dan pikiran saya. Saya anggap ini adalah bagian dari terapi menulis, untuk menyehatkan mental saya yang agak mlengseh di tahun 2020 ini hehehehe.
Akhir kata, saya cuma mau bilang,
“Tak perlu bersikeras menjelaskan siapa dirimu, karena orang yang mencintaimu tak membutuhkan itu, dan orang yang membencimu tak akan percaya itu.” (Ali bin Abi Thalib RA)
Terima kasih sudah membaca, yang skip juga silahkan. Judulnya tidak merangkum isi tulisan ini, tapi tak melarang pembaca untuk berasumsi :)
Gunung Anyar Tambak, 13 Desember 2020