MEMAYU Karnaval budaya dalam rangka memayu buyut trusmi, 20K19 Salah satu ciri khas simbol memayu ki gede buyut trusmi pasca pesta arak2an, Adalah ketupat (Kupat) dan lepet. Arti kata ketupat Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan. Ngaku lepat (mengaku salah) Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain. Laku papat Laku empat ada dalam tradisi kupatan, yakni: 1). Lebaran (sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa), 2). Luberan (meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin dalam kewajiban pengeluaran zakat fitrah), 3). Leburan (sudah habis dan lebur. Dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain, 4). Laburan (berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya). Ketupat (kupat) lepet pada umumnya terbuat dari sebuah JANUR sebagai pembungkusnya. Asal kata janur sendiri diambil dari bahasa Arab "Ja'a Nur" (telah datang cahaya). Adapaun bentuk fisik kupat yang segi empat adalah ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (Ja'a Nur) #memayubuyuttrusmi #karnavalbudaya #welit #atapwelit #cirebonbudaya #jawabarat #visitindonesia2019 #trusmi #kabupatencirebon https://www.instagram.com/p/B3-FI8eBS5Z/?igshid=hwqisu3v157d














