“Minggu depan pada datang?” desisku, berharap tak ada yang mendengar.
“Datang dong! Kamu datang kan Aei?!” sahut Octa. Aku hanya hening.
“Itu event gratis, siapa cepat dia dapat tiketnya seperti biasa” Acha menambahkan.
“Semoga dapat ya, aku dengar-dengar itu limited” Fuji menyahut sambil mengunyah. Aku masih tergeming.
“Aei, kamu datang kan?!” kini giliran Marlene yang menghadangku.
“Inshallah”
“Kok ini anak tumben nggak berselera”
“Dari kemarin emang dia agak aneh, Ta”
“Kamu cerita dong sama kita kalo ada masalah” Fuji menghampiri dan menepuk bahuku.
Cerita, ya aku harap aku mampu menceritakan semua ketakutan akan keadaan keluargaku. Tapi aku tidak bisa, karena mereka tidak akan mengerti. Aku mengambil ikan bakar dengan potongan paling kecil, aku sedikit tahu diri dengan patungan sepuluh ribu. Aku menyandarkan tubuhku di tembok dan hanya menyaksikan ikan bakarku berbaring cantik di piring.
“Aei ada telepon tuh!” teriak Octa menunjuk HP-ku yang sedang di-charge. Aku menghampiri. Nama Enggar tertera disana.
“Hallo”
“Aei! Ke rumah Ge dong! Gabung sini”
Ge?.
“Ada apa emang?” tanyaku berlagak rileks. Suara disana berisik sekali.
“Kita barbeque-an” Perasaanku anjlok. Rasanya aku ingin pulang dan berkumpul bersama mereka.
“Yah, aku juga ada acara disini”
“Yah.. kirain di rumah. Yaudah deh”
“Hm”
“Eh sebentar! Ada yang mau ngomong” jantungku tiba-tiba bergemuruh cepat.
“The Casual Vacancy…” kata suara begitu berat di balik telepon ini. Kebisingan tak terdengar lagi. Aku gugup bukan main, Charger HP kutanggalkan dan menjauh keluar rumah.
“Sebenarnya kurang setuju Miles Morrison menang, tapi Krystal cukup mempesona –“ tambah si suara berat. Tiada henti aku tersenyum sendiri. Aku menghela nafas berusaha rileks.
“Lalu, berapa rating dibandingkan dengan Dunia Sophie?” kataku berlagak rileks, kemudian menelan ludah, nafas aku atur mati-matian.
“Hm – empat banding…”
“Tiga setengah” Aku tertawa dan dia juga, aku tidak menyangka dia tertawa, tak sedatar yang kukira.
“Sudah dapat Dunia Sophie?”
“Belum” Mencari saja aku belum.
“Minggu depan ada event di kawasan Pejaten, tiket sudah ready semua termasuk kamu. Nanti aku bawakan”
“Iya, terima kasih” Telepon putus begitu saja. Aku senang bukan main, aku kembali ke kerumunan dengan wajah terpaut sumringah.
“Minggu depan jadi ya! Awas pada nggak!”
My on-going novel. It titled Atmosfer. To be continued.












