Babibutafilm di JAFF. Review
Hore ketemu lagi. Setelah berbulan-bulan nggak apdet, sekarang bisa lagi nulis soal film.
Kemarin saya nonton tiga film pendek sekaligus buatan Babibutafilm. Setelah tahun kemarin saya nonton Postcard from The Zoo-nya mas Edwin (Babibutafilm), kemarin saya nonton:
1. Kisah Cinta yang Asu - Josep Anggi Noen
2. The Fox Exploits the Tiger's Might - Lucky Kuswandi
3. Sendiri Diana Sendiri - Kamila Andini
Emmm.. intinya babibutafilm lagi getol-getolnya bikin film, dan ketiga sutradara itu dipilih buat bikin film, sebagai ungkapan kegelisahan dan ‘taman bermain’ buat mereka (katanya sih gitu). Saya subscribe channel youtube mereka. Jadi saya sempat nonton trailer-trailernya, dan saya tertarik menonton semuanya.
daripada bingung, saya mau refiu satu-satu ya, hehe
1. Kisah Cinta yang Asu (Love Story Not) - Josep Anggi Noen
Hmm, nama sutradara ini sudah masuk ke dalam daftar list saya. Setelah beberapa tahun yang lalu saya nonton filmnya, Vakasi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (walaupun disambi ngorok beberapa saat), kemarin saya nonton lagi dengan judul yang asu. Kisah Cinta yang Asu.
Dialog para pemain dengan nuansa local youth dan aksen yang natural membuat nyaman menontonnya. Saya merasa seperti berada di kerumunan para mendes-mendes dan gondes-gondes yang lagi nongkrong di sekitaran Stadion Maguwoharjo Sleman. Kadang kocak, kadang njengkelke, tapi itu benar-benar real, natural.
Cerita yang dibangun antara pelacur dan pembalap Erik King (rx king) benar-benar membuat penonton lupa akan romantisnya Romeo Juliet atau Sampe Engtay. Jelaslah romantis bukan sebuah kata-kata indah, bunga mawar, atau mati bersama. Romantisnya local youth di sini ya ini. Kisah seks FWB (friends with benefit) antara pelacur dengan pembalap, yang sama-sama melakukan free seks tanpa baper, mengingatkan kita juga tentang local youth di US sana ketika kaum suburban membakar ban lalu melakukan seks bebas dengan siapapun yang mereka temui di tempat itu. Dan lagi ketika si pelacur diajak kencan dengan pelanggan, disuruh pake baju macem-macem pun mau aja. Intinya crot, dapet duit. Beres.
Film ini benar-benar local youth. asu. fucking. asshole. Cerita underground yang dikemas secara jujur tanpa meninggalkan budaya aksen lokal. Kata-kata yang saya suka: “kowe cen asu og Rik”. Seakan luapan sang sutradara bahwa Erik sebagai simbol RX King memang asu, ketika si Erik memperingatkan pelacur: ngga perlu lah pake kostum-kostum seperti tiu. Ya Erik memang asu. Cangkeman. Blombongan. Rx King.
Rating suka-suka: 85/100
2.The Fox Exploits the Tiger's Might - Lucky Kuswandi
Film pertama Lucky Kuswandi yang saya tonton adalah Selamat Pagi, Malam. Saya diajak pacar nonton itu karena ada Marissa Anita, idolanya. Dan memang, film itu tidak mengecewakan, malah menakjubkan (saya nonton dengan penonton yang berjumlah kurang dari belasan orang). Film bagus tapi sepi. Sayang. Salah satu film bagus yang saya tonton tahun kemarin. Dan penasaran melanda, akhirnya saya putuskan untuk nonton film pendeknya Lucky Kuswandi yang ini.
Saya baca judul, bingung. Sampai akhir cerita, saya pikir-pikir baru menyimpulkan beberapa anu dan hubungannya dengan judul. Mungkin begini (kalau salah maap, ini analisis saya sendiri).
Tiger atau macan adalah simbol kekuatan. Dari banyak film, kungfu panda misalnya, tokoh macan selalu digambarkan dengan kelincahan, kekuatan. Power. Itu sesuai dengan tokoh yang diceritakan tentang penduduk pribumi yang ikut menjadi tentara. Tentara adalah simbol kekuatan. Disiplin. Sedangkan Fox atau rubah, jika dihubungkan, maka ini sesuai dengan tokoh Ahong (atau siapa ya lupa) pokoknya yang Chinese. Dari awal digambarkan bahwa tokoh Ahong ini lemah, seperti rubah. Tapi kalau mau dihubungkan dengan film juga, walaupun lemah, tersembunyi, rubah di dalam Naruto (ekor sembilan) itu lebih kuat dari apapun. Dia hanya menyembunyikan kekuatannya. Dan itu sesuai di akhir cerita ketika si Ahong akhirnya memberontak dan berani memerintah dan mengalahkan dominasi temannya yang notebene anak dari keluarga militer.
Sebuah cerita yang vulgar. Bebas. Saya seperti sedang menonton alter ego mas Lucky Kuswandi. Beberapa adegan ditampilkan dengan vulgar tetapi tetap dewasa dan santai. Meremas payudara, Ahong yang bermasturbasi, berimajinasi tentang Eva Arnas, dsb. Secara pribadi saya suka film ini.
Rating suka-suka 84/100
3. Sendiri Diana Sendiri - Kamila Andini
Adegan pertama, muka Raihaanun langsung mengagetkan saya. Setelah bertahun-tahun seperti hilang ditelan bumi, doi main di film pendek. Ya, film ini menceritakan doi jadi ibu rumah tangga, yah lumayan, makin dewasa. hehe.
Kesan pertama yang muncul, wah ini film Jakarta banget. Permasalahan yang pelik, ribet, dan tidak bisa dipecahkan; ciri khas cerita-cerita tentang metropolitan. Dan saya selalu pusing ketika menonton film yang menceritakan permasalahan yang tidak bisa selesai. bahkan dalam kehidupan nyata.
Wanita (si ibu) digambarkan dengan realistis. Dengan sikap-sikap yang selalu kita jumpai. Benar-benar itulah wanita jaman sekarang. Bahkan dengan polosnya, dia bertanya pada suaminya yang sudah menikah lagi itu. “Sudah berhubungan seks?”
Ending yang menarik ketika percakapan (kira-kira seperti ini)
Ibu: Kalau kita tinggal berdua aja gimana? Nggak sama ayah gitu.
Anak: Dari dulu kita memang berdua kan?
Sungguh menyentil, karena tokoh ayah yang diceritakan ingin kawin lagi, sejak awal memang tidak pernah peduli pada istri dan anaknya. Si anak sudah menganggap bahwa ayahnya itu tidak ada. Saya menangkap ide, bahwa peran laki-laki itu besar. Tidak seharusnya dia bertindak sembarangan dengan peran besar. Karena si istri seorang yang taat (digambarkan dengan rajin sholat), mau tidak mau dia tidak bisa melawan suaminya untuk batal menikah. Satu-satunya cara, ya cerai.
Satu lagi yang saya tangkap, bahwa si ayah selingkuh, ingin nikah lagi dengan teman SMP nya waktu bertemu di pengajian. Wah benar-benar yeiz10. Pengajian ajang selingkuh. Sedikit sentilan bagi beberapa petinggi negeri ini, di mana pimpinan yang mengatas namakan agama, justru yang paling sering terlibat hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama. Film yang bagus, walapun saya tidak suka karena bikin saya pelik. Tapi saya yakin banyak yang suka. Yippie