saya lagi menekuni buku terbitan mojok yang berujudul, “hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.” saya habis menuntaskan tujuh dari dua puluh bunga rampai (karangan atau cerita) di buku ini. saya menyukai tulisan yang saya kutip di halaman tiga dalam karangan berjudul “terbenam dalam waktu yang hilang.”
memori, pikirmu, benar-benar menakjubkan. tanpanya hidup seseorang cuma sekarang, dan sekarang kelewat sering tak tertanggungkan. dengan ingatan, seseorang dapat memanggil kembali saat-saat yang menentramkan.
sepanjang tujuh karangan yang saya baca, topik yang dibahas nggak jauh dari pusaran sastra, buku, dan film. mulai dari novel in search of lost time (a la recherche du temps perdu) karangan marcel proust yang dianggap sebagai tantangan paling angker bagi pembaca karya sastra di seluruh dunia. butuh keheningan mendalam dan waktu yang benar-benar senggang untuk menyelesaikan novel bertempo lambat setebal tiga ribu halaman ini.
lalu tentang hemingway dan ulasan terkait karangannya. the new york times (1926) menyebut novel pertama hemingway, the sun also rises, telah "mempemalukan karya-karya lain dalam bahasa inggris." salinger, penulis novel the catcher in the rye, dan gabriel garcía márquez mengaku ngefans dengan hemingway.
sejauh ini, saya paling suka dengan karangan yang berjudul, "di mana ada penulis, di situ ada cemooh." di bagian ini ditampilkan kritik antarpenulis--sebut saja hemingway (lagi dan lagi), jane austen, mark twain, edgar allan poe hingga idrus, pengarang cerita terbaik di angkatan '45 yang berkata dengan ringan kepada pramoedya ananta toer, “pram, kamu itu tidak menulis. kamu berak!”
cemooh antarpenulis, terutama di dunia berbahasa inggris, lumrah diklipingkan sebagai dokumen kebudayaan yang penting. di dalamnya kerap terkandung rekaman pertentangan ideologi, visi estetik, dan lain-lain. dan yang nilainya tak kalah besar, saling cemooh adalah pertunjukan keterampilan mengolah kata-kata.
worth to read! lanjut baca dulu, ya.














