Buku ke-8 yang berhasil saya tuntaskan. Novel ini banyak bercerita tentang perempuan lewat keempat tokohnya: Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Mereka mencoba mendobrak konstruksi masyarakat tentang hal-hal yang dianggap tabu. Mulai dari pembicaraan tentang seksualitas (topik ini dekat sekali dengan hidup kita, tapi kita keburu ogah dan antipati untuk bicara tentang ini) juga konvensi budaya yang kerap kali menyudutkan dan menempatkan perempuan sebagai pihak subordinat.
Bentuk sistem patiarkal yang masih awet ini dikritisi, salah satunya, lewat tokoh Shakuntala. Penulisan dokumen-dokumen legal dalam pemerintahan masih menggunakan nama bapak sebagai identitas nama keluarga. Bagi Shankuntala, hal ini melanggengkan patriarki. Ia merasa selalu "dimiliki" dan dibayang-bayangi oleh bapaknya. Bentuk konstruksi sosial yang lain adalah penilaian harga diri perempuan berdasarkan keutuhan selaput dara ketika ia menikah. Sebab menurutku yang curang lagi-lagi Tuhan: Dia menciptakan selaput dara, tapi tidak membikin selaput penis. (Hlm. 149).
aku takut pada dosa-dosaku sendiri; yang ternyata kubutuhkan dalam hidupku.
pos ini sampah sekali; tapi saya benar-benar penasaran dengan dering ponsel milik pakdos.
tiap jumat, saya kedapatan mata kuliah telaah puisi. tiap hari itu, saya mesti menunduk khidmat mendengarkan dering ringtone ponsel dosen saya untuk menjalankan misi pribadi. dosen saya ini, saya terlalu sungkan untuk memberi nama, menarik sekali: nyentrik dan unik dan segala ingatan tentang edgar alan poe ada pada dosen saya. mari kita memanggil dosen ini dengan sebutan pakdos. pakdos sering melibatkan pembicaraan tentang ibu belio pada tiap narasi yang belio buat di kelas: ibu saya itu begini-begitu. saya menyukai gaya bicara belio: halus, santun, dan menyenangkan. pakdos juga bukan tipikal dosen yang pelit. di tiap pertemuan, belio selalu memberikan handbook materi secara cuma-cuma alias gratis. belio terlihat sekali sedang berusaha keras untuk membikin suasana menyenangkan di kelas.
apa yang sedang saya coba ceritakan?
saya kerap melakukan hal konyol dan humor saya benar-benar kelas rendahan (saya mudah sekali tertawa, semoga bukan karena sinting). ini sama sekali bukan kriteria orang-orang yang mudah disukai, tapi kaparat-lah. seingat saya, hal konyol terakhir yang saya lakukan adalah menyelidiki maling laptop di indekos lama; meskipun cuma asumsi dan nggak begitu berpengaruh banyak. mungkin, yang paling ekstrem dan radikal adalah saat sma. saya meminjam buku di perpustakaan jogja, tanpa melalalui proses formal, meskipun saya memiliki kartu perpustakaan. saya sedang sangat selo untuk memberikan bukti empiris terkait: lebih parah mana, mencuri rokok di warung atau mencuri buku di perpustakaan? kasus ini berakhir menyenangkan karena saya dimarahi bapak nabi (sebutan untuk bapak saya) setelah itu.
hal konyol yang saya lakukan kali ini adalah menyelidiki ringtone ponsel milik pakdos karena belio sering sekali mendapatkan telepon masuk saat kelas berlangsung. apa yang lebih konyol daripada ini? bagi saya, dering yang digunakan sebagai ringtone ponsel bisa bermakna banyak--butuh pemikiran dan perenungan kenapa sampean memilih suatu lagu sebagai dering ponsel. bapak nabi, menggunakan hymne padmanaba untuk dering ponsel belio. saat mengetahui hal ini, saya tertawa terbahak-bahak sampai nyaris menangis, doktrin padmanaba melekat kuat di dalam darah bapak, ya, ucap saya waktu itu.
asumsi saya terkait dering ringtone milik pakdos jatuh pada lagu milik remy sylado yang berjudul surat seorang putra buat ibunya. saya nggak yakin seratus persen, sih, tapi ini kemungkinan yang paling mendekati. intro lagu ini cukup panjang dan pakdos selalu mengangkat telepon sebelum lirik lagu sempat dimulai. pun, remy sylado dekat sekali dengan puisi. belio pelopor puisi mbeling di majalah aktuil.
sudah saya katakan, ini memang konyol. []
--
[0] judul pos ini adalah penggalan lirik di lagu surat seorang putra buat ibunya. ada lirik yang lebih binal lagi: sedangkan yesus tuhanku juga mencinta pelacur.
Begini, demi menulis pos ini, saya mesti menjeda tugas Penelitian Kebudayaan. Payahnya, tulisan ini agak personal (tapi memang begini ya: blog ini selalu menceritakan saya, saya, dan saya, lalu saya lagi beberapa kali), tapi tak apalah. Otoritas blog ini memang sepenuhnya berada di tangan saya dan saya masih belum kepikiran untuk bersikap demokratis karena takut ditertawakan Sokrates di alam kubur (Sokrates punya sentimen khusus dengan demokrasi). Saya selalu senang dengan khayalan ini: selepas nyawa tercabut dari tubuh, ia berubah serupa burung yang pergi ke angkasa, tapi satu hal yang tak pernah ia lakukan: melihat pemakaman dirinya sendiri. Mampus-lah, bagi orang-orang yang kerap memikirkan siapa yang menangis untuk siapa saat ajal tiba. Kalau saya bercerita begini, Stopkontak (nama samaran kalau boleh; tapi, ya, nggak ada orang di dunia ini yang memiliki nama ini), bakal terbatuk sebentar sebelum bilang: tua banget, sih. Saya bakal berada di sana untuk membalas: memang hanya orang tua saja yang boleh bicara tentang ini? Saya membenci Stopkontak, sampai dia bertanya: kamu pernah berdoa biar Sokrates masuk surga, ya? Ampas sekali.
Kenyataannya, pos ini bukan tentang Stopkontak. Ini tentang hal lain, yang seharusnya nggak saya pikirkan, tapi ia secara sukarela menyumbang pikiran. Seharusnya, saya bisa duduk tenang sambil minum kopi atau mencari di internet: cara hidup tenang dan bebas hambatan. Tapi masa bodoh-lah. Saya merasa bego sekali. Sampean mesti gagal paham dan merutuk saya habis-habisan: apa yang sebenarnya bocah ini coba katakan? Pos ini secepatnya bakal saya hapus karena ya kenapa gitu?
Memang, apa, sih hal di dunia ini yang bebas dari komodifikasi? Kesedihan, pesan religius, cinta, mental health, isu lingkungan dan sebagainya dan sebagainya berbondong-bondong dijadikan komoditas alias alat jualan. Lalu satu orang bicara: heh, kamu rela jualan di atas derita orang lain?
Butuh waktu lima hari bagi saya untuk menuntaskan buku ini. Kecepatan membaca saya memang payah, tetapi menyelesaikan sebuah buku merupakan kemenangan dan kesenangan tersendiri.
Burung-Burung Manyar memiliki cerita sejarah yang menyenangkan. Jujur saja (bukan berarti selama ini saya berbohong terus-terusan; saya mengerti bagaimana sampean sungguh benci dengan awalan kalimat ini), saya agak malas melanjutkan buku ini di pertengahan jalan karena ada bentangan jarak kosong yang, pada awalnya, bikin saya bingung. Saya mesti berpikir ulang kalau: Oh, Sutadewa (Teto) sudah bekerja sebagai ahli komputer dan mungkin nyaris beruban. Lalu, kehidupan kedua tokoh utama berpencar dengan cara menyedihkan, tetapi cukup bikin tenang. Saya diajak menyelami pikiran Sutadewa (Teto): kenapa belio skeptis terhadap kemerdekaan Republik, kenapa belio tidak berpihak kepada Republik, alih-alih mengabdi sebagai tentara KNIL. Atik, perempuan Jawa tulen, diceritakan sebagai sosok yang kuat, bebas, pintar, dan merdeka dalam membikin pilihan. Cerita ini ditutup dengan kekalahan yang bikin menghembuskan napas lega, meskipun melalui cara yang tidak biasa.
aneh, ya, betapa perasaan sentimentil bisa datang secara tiba-tiba, tanpa ketuk assalamualaikum dan sebagainya. anak bapak kos, sebut saja anggrek (omong-omong, di masa dahulu sekali, di masa hindia-belanda, lagu als de orchideeen bloeien yang berarti bunga anggrek mulai tumbuh adalah salah satu trek top 40 yang senang didengar londo), berhasil lolos finalis duta cilik cabang lamongan (salah satu kabupaten di jawa timur, ya). dan bapak kos mengirimkan tautan instagram buat kami beri like dan comment sebagai tanda dukungan. lalu, saya teringat dengan bapak nabi (saya memang punya panggilan khusus buat bapak yang begitu cinta akan kebijaksanaan). belio baik sekali, seperti orang tua yang memang mesti baik dengan anaknya, seperti yang dilakukan bapak kos kepada anggrek. belio berkenan berbuat apa saja asal anaknya senang, tentram, damai, dan bahagia. saya merasa jahat sekali kalau tidak bahagia.
tulisan ini dibikin dalam rangka ulang tahun bapak nabi. sebenarnya di KTP tertulis tanggal 22 april, tetapi bapak nabi kerap menyangkal. kata belio, dulu umur bapak nabi dibikin lebih muda entah karena apa. lalu belio menyimpulkan kalau; saya ulang tahun di bulan februari, tapi entah tanggal berapa, ya? selama ini kalau kami mengobrol, saya selalu melupakan bagian kalau bapak nabi pernah menjadi anak kecil. padahal, saya pengin mendengarkan itu lebih banyak. mungkin, kapan hari, kita mesti ngobrol lagi, ya?
Ini adalah buku ke-7 yang berhasil saya tuntaskan setelah 'Bila Malam Bertambah Malam' karangan Putu Wijaya yang bertutur tentang kasta saklek di Bali dan kegagapan beradaptasi dengan situasi masa kini. Saya menyukai bagian: sampean mesti merunut kembali apakah orang yang dijadikan pahlawan benar-benar berbuat hal yang semestinya dilakukan oleh seorang pahlawan; tapi untung dieksekusi secara melegakan.
'Of Mice and Man' keparat gelap (tokoh, plot, dan eksekusi benar-benar sontoloyo); nggak ada hal yang melegakan dalam novel ini. Saya mrebes mili pukul tiga pagi usai menyelesaikan sepuluh halaman terakhir dan ini membuat saya, sampai sekarang, tidak baik-baik saja. Ini adalah alegori sosial yang, saya sebal mengucapkan ini, masih relevan sampai sekarang dan seterusnya dan seterusnya. Novel ini sebenarnya menggambarkan situasi krisis ekonomi yang terjadi di Amerika tahun 1930-an sekaligus masa-masa Depresi Besar.
Saya memikirkan ulang kutipan ini: "Dia orang baik. Orang tidak harus cerdas untuk jadi orang baik. Sepertinya menurutku kadang justru sebaliknya. Orang yang cerdas biasanya bukan orang baik." Lennie, orang dungu dengan ingatan payah, berpindah dari satu peternakan ke peternakan lain bersama George. Mereka selalu mengimpikan hal utopis: memiliki tanah dan peternakan sendiri sehingga mereka tidak perlu bekerja untuk orang lain. Mereka merapal impian itu di kala sulit; berandai pada masa menyenangkan suatu saat nanti lalu berlindung di balik: "Aku punya kau, kau punya aku dan kita tidak akan kesepian." Tapi, memang itu saja cukup?
Novel tipis ini juga bicara tentang diskriminasi ras (Si Negro yang selalu diasingkan), lalu tentang keselamatan kerja yang tidak pernah dipikirkan pemilik peternakan, lalu tentang sampean bakal didepak kalau tidak punya sesuatu berharga, lalu tentang beberapa hal dalam hidup yang, sepantasnya, cuma diimpikan saja. []
setiap kali saya mendengarkan lagu fantasy dari kurosuke, selalu ada ‘perasaan asing’ yang tertinggal dan menetap sebentar lalu mengabur pelan-pelan. ini seperti ‘perasaan asing’ saat menghadapi hari-hari penuh kejutan beruntun dan saya mendapati diri sendiri belum siap untuk itu. tetapi kenyataan berbisik kepada saya dengan santun kalau: sampean nggak perlu mempersiapkan segala hal untuk berhadapan dengan kejutan. meskipun nggak sepenuhnya benar, bisikan itu membuat saya lebih tenang dan hal-hal terasa lebih mudah. padahal, sebenarnya, segala hal cuma tampak lebih mudah.
loving you is easy
it's a tragedy
it's a fantasy
lagu ini menyedihkan dan benar-benar keparat karena memulainya dengan kalimat: loving you is easy lalu saya disuguhkan realita kalau barang kali mencintai seseorang bakal lebih mudah dan sederhana kalau berakhir di angan-angan (it’s a fantasy); atau mencintai seseorang memang nggak pernah mudah untuk siapa pun. kemudahan itu cuma ada dalam bayangan dan pikiran. kedua premis ini sama-sama meyakinkan saya akan satu hal: tragis.
Meneladani kisah suri tauladan: Diogenes, Sang Raja Punk. Dikisahkan, Diogenes hidup dalam tong keramik karena menafikan rumah. Diogenes tidak memiliki apa pun, kecuali sebuah mantel, tongkat, dan kantong roti.
Betapa banyak benda yang tidak kuperlukan!
Setiap kali kami membicarakan Diogenes, saya selalu memulainya dengan: “Oh, si Anjing?” Setidaknya, saya bisa melewatkan satu menit tanpa bimbingan moral tentang bagaimana menjadi manusia arif dan bijak, tanpa mengucapkan kata kasar atau rutukan. Diogenes bisa dijumpai dalam filsafat Sinisme yang didirikan Antisthenes. Belio tidak pernah kedapatan mewujudkan pemikirannya dalam sebuah buku atau risalah.
Kisah paling terkenal tentang Diogenes adalah pertemuannya dengan Alexander Agung; saat sang Maharaja berniat membantu Diogenes. Ketika itu, dengan kesadaran penuh, Diogenes hanya meminta: “Bergeserlah ke samping. Sampean menghalangi matahari.” Lewat ucapannya, Diogenes menekankan kalau belio telah memiliki semua hal yang dia pengin; segala penderitaan dan kematian tidak bisa menganggu Diogenes--bahkan masing-masing dari kita. Diogenes juga tidak berhasrat pada segala jenis kekuasaan; ia tidak mau terikat pada aturan-aturan sosial, baginya aturan adalah produk dari para pemilik kuasa.
---
Catatan:
[1] Dalam cerita yang berbeda, saat Diogenes bertemu dengan Alexander Agung, belio memperkenalkan diri dengan: “Saya Diogenes, si Anjing.”
[2] Saya rasa, Diogenes mengilhami lagu punk rock jalanan.
Semua orang selalu tergesa-gesa—atau selalu tampak tergesa-gesa. Saya kadang heran: memang dengan begitu beberapa hal berubah menjadi lebih mudah? Orang-orang membuat resolusi di tahun ini; berharap semua lekas tercapai dalam tiga bulan pertama atau paling tidak berdoa biar hidup tidak berlaku berengsek untuk sementara. Orang-orang berusaha untuk berteman dengan banyak ketakutan; di satu momen, hidup bisa bercerita tentang perkara menjinakkan ketakutan.
Saat teman-teman saya berlomba mengikuti seabrek kepanitiaan dan organisasi; saya malah memikirkan hal lain. Hal ini sampai sekarang urung saya pahami lalu saya terlena lalu saya memutuskan tanpa sadar kalau: oke, semester satu sudah berlalu, dan mungkin di semester dua kamu bakal memutuskan untuk nggak mengikuti organisasi apa pun. Rasanya, dan memang betul, segala hal di dunia ini selalu dilombakan—kesedihan, kasih sayang, emosi, kebaikan, pekerjaan. Dan, saya selalu ada di pihak yang malas mengikuti lomba itu. Tapi, saya paham kalau bukan begini cara hidup mempermainkan kamu.
Saya menangis di suatu malam gara-gara terjebak dengan pikiran sendiri. Lalu, entah di perenungan keberapa, saya gemas dengan dalil motivator; saya geram karena mereka tidak pernah menggunakan data untuk apa pun bacotan mereka, lalu menyimpulkan seenak jidat kalau: saya bisa dapat banyak duit. Kenapa kamu enggak? Saya agak marah, mungkin, gara-gara ketidak-sanggupan mengatur diri sendiri atau kenyataan kalau saya memang buruk dalam hal apa pun.
Saya bertanya kepada diri sendiri: apa saya baik-baik saja? Tapi saya tidak tahu bagaimana suatu kondisi bisa dikatakan baik-baik saja. Sudah saatnya kamu menyemangati saya dengan: semoga dapat hidayah, ya.
---
Catatan:
Dua malam terakhir, saya mendengarkan Bill Evans; ini cukup membantu saya dalam sedikit hal, tetapi berarti banyak.
Tiga hari terakhir, saya khusyuk menonton serial Netflix: Vagabond. Mengesampingkan ending yang kurang ajar atau meminjam rutukan Cha Dal-gun ‘bedebah sialan’, akting Lee Seung-gi cemerlang sekali. Saya sampai merelakan diri sendiri menonton ‘Little Forest’ tanpa subtitle (Lee Seung-gi mengurusi balita dengan tekun dalam serial ini).
Ketimbang menyebut drama ini open ending, saya lebih rela menyebutnya mandek secara tiba-tiba di episode ke-16. Mari kita memakan kutipan uncertainty is the only certainty untuk kehadiran musim ke-2 dalam drama ini.
Ketidak-becusan ending malah meyakinkan saya kalau kejahatan (korupsi, pemerkosaan, pembunuhan; silakan sebut segala bentuk kejahatan paling berengsek sesuai preferensi pribadi) adalah lingkaran setan yang nggak bakal mati.
Layaknya pornografi yang sama tuanya dengan peradaban manusia dan sekiranya bakal mati saat kehidupan di dunia berakhir; saya kira, kejahatan bekerja dengan cara yang sama.
Saat menonton drama ini, saya berpikir kalau: (1) politik memang busuk dan busuk sekali, (2) kebenaran dikonstruksi elite penguasa, (3) dunia berlaku resek pada orang-orang baik, (4) saya teringat dengan sajak milik Agus Noor, “Mengapa ada surga, bila yang nikmat adalah dosa?” dan merapal sajak belio: “Neraka hanyalah ketakutan yang kita ciptakan.” []
Akhir-akhir ini, saya lagi memikirkan tentang pilihan. Saya bangga dengan diri sendiri saat membikin keputusan merantau ke Surabaya dalam rangka berkuliah. Ini adalah satu-satunya pilihan yang nggak pernah ditawarkan Bapak. Pun, jurusan yang saya tekuni nggak pernah ada dalam daftar pilihan dari Bapak. Saya seakan bikin pilihan baru (meskipun kadang kala merasa bersalah, tapi saya juga senang).
Beberapa hari yang lalu, saya dan Nasyong sempat menonton NKCTHI. Awan, salah satu tokoh utama di film ini, bilang kalau dia nggak pernah punya pilihan. Baginya, pilihan selalu terbatas; ada keluarga yang selalu memberikan pilihan untuk Awan. Saat sampai di dialog ini, saya bilang ke diri sendiri, "Wah, saya gokil juga, ya, bisa bikin pilihan sendiri."
Di sore hari, saya membaca Declutter Your Mind. Di buku itu tertulis kalau punya banyak pilihan pun bisa membikin stress. Saya jadi memikirkan tentang pilihan-pilihan yang akan datang, sekaligus merasa butuh untuk meninjau segala pilihan yang ada. []
Saya jadi teringat cerita pendek 'Senyum Karyamin' karangan Ahmad Tohari yang sempat muncul di UAS Kajian Sastra. Kalau sudah mentok, segala hal cuma butuh diberi senyum atau ditertawakan. Ini adalah bentuk perlindungan diri paling akhir 😈
Di Campo de Fiori terdapat patung Giordano Bruno dengan wajah sedih. Keterangan di bawah kaki patung Bruno: Qui dove il rogo arse atau di sinilah api berkobar.
saya lagi menekuni buku terbitan mojok yang berujudul, “hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.” saya habis menuntaskan tujuh dari dua puluh bunga rampai (karangan atau cerita) di buku ini. saya menyukai tulisan yang saya kutip di halaman tiga dalam karangan berjudul “terbenam dalam waktu yang hilang.”
memori, pikirmu, benar-benar menakjubkan. tanpanya hidup seseorang cuma sekarang, dan sekarang kelewat sering tak tertanggungkan. dengan ingatan, seseorang dapat memanggil kembali saat-saat yang menentramkan.
sepanjang tujuh karangan yang saya baca, topik yang dibahas nggak jauh dari pusaran sastra, buku, dan film. mulai dari novel in search of lost time (a la recherche du temps perdu) karangan marcel proust yang dianggap sebagai tantangan paling angker bagi pembaca karya sastra di seluruh dunia. butuh keheningan mendalam dan waktu yang benar-benar senggang untuk menyelesaikan novel bertempo lambat setebal tiga ribu halaman ini.
lalu tentang hemingway dan ulasan terkait karangannya. the new york times (1926) menyebut novel pertama hemingway, the sun also rises, telah "mempemalukan karya-karya lain dalam bahasa inggris." salinger, penulis novel the catcher in the rye, dan gabriel garcía márquez mengaku ngefans dengan hemingway.
sejauh ini, saya paling suka dengan karangan yang berjudul, "di mana ada penulis, di situ ada cemooh." di bagian ini ditampilkan kritik antarpenulis--sebut saja hemingway (lagi dan lagi), jane austen, mark twain, edgar allan poe hingga idrus, pengarang cerita terbaik di angkatan '45 yang berkata dengan ringan kepada pramoedya ananta toer, “pram, kamu itu tidak menulis. kamu berak!”
cemooh antarpenulis, terutama di dunia berbahasa inggris, lumrah diklipingkan sebagai dokumen kebudayaan yang penting. di dalamnya kerap terkandung rekaman pertentangan ideologi, visi estetik, dan lain-lain. dan yang nilainya tak kalah besar, saling cemooh adalah pertunjukan keterampilan mengolah kata-kata.
Beberapa hari terakhir, saya sering mendengarkan orang-orang bicara serius. Saya merekam omongan mereka lewat tulisan ini. Saya senang mendengarkan bunyi tuts keyboard laptop yang ditekan; untuk itu tulisan ini dibikin. Mungkin, ini satu-satunya alasan yang bisa diterima. Karena tulisan ini terlalu panjang, saya bikin tautan lebih lanjut, ya.
[1]
Saya menonton sampai habis dialog Sabda dan Cania di Bincang Nalar. Ketika orang-orang berbondong-bondong menginginkan pendidikan merata; Sabda malah mengingatkan kita tentang hal lain. Ini bukan tentang semua orang harus mendapatkan informasi, tapi bagaimana orang-orang bisa mengolah informasi. Akses pendidikan yang merata, nggak menjamin negara makin maju kalau pola pikir masyarakat dalam mengolah informasi masih carut-marut. Mencatut omongan Sabda, kurikulum pendidikan saat ini sebatas menekankan pada pengetahuan (berbagai informasi dijejalkan secara bebarengan), tanpa menekankan pada pentingnya pola pikir. Padahal, pola pikir sifatnya paten alias menetap.
[2]
Saya mengamini semua omongan Pak Bagong di kuliah umum MKWU. Tentang peran orang yang belum mapan secara ekonomi di Revolusi Industri 4.0. Kalau tiga narasumber yang lain menekankan optimisme; Pak Bagong serius dengan pandangan pesimistisnya. Mungkin, belio capai mendengarkan kata ‘millennial’ yang terus-terusan dibicarakan; semua orang selalu memakai kata ini di tiap seminar, diskusi, bahkan sapaan. Lantas mereka menghubungkan millennial dengan Revolusi Industri 4.0; menjadikan millennial sebagai objek dalam helatan apa pun. Padahal, ini bukan tentang millennial, tapi “saya kira ini tentang ketulusan hati dan kemampuan berkolaborasi, bukan tentang seseorang dikatakan millennial atau nggak.”
“Kalian harus berjarak dengan realitas,” ucap Pak Bagong. Belio pengin kami memandang realitas dengan cara yang berbeda; hal-hal di balik realitas (yang nggak tampak) seharusnya bisa kami ungkap. “Jangan pernah berpikir seperti orang yang sedang pacaran,” lanjut Pak Bagong. “Mereka nggak pernah bersikap kritis terhadap pasangannya.”
Saya tipikal orang yang menyakini kalau dunia nggak pernah berlaku adil. “Tapi, Fah, God doesn’t play dice.” Bodoh amat, deh. Omongan Pak Bagong seakan-akan menyoraki saya untuk bermental miskin biar makin tabah (betapa saya pengin menertawai hal ini) dan nggak takut terhadap kejaran dunia.
[3]
Ini bukan pembicaraan penting; tapi saya senang sekali menonton CreamHeroes. Kalau saya berkenan memelihara kucing, saya kepikiran dengan omongan ini: “Tahu nggak, sih, kalau sesungguhnya kamu diperbudak sama kucing?” Ini konyol: memikirkan manusia diperbudak binatang. Lulu (nama salah satu kucing di CreamHeroes) betulan imut dan menenangkan untuk ditonton.
[4]
Saya sempat menonton kuliah Qureta dengan judul: Propaganda dan Konstruksi Media. Akhir-akhir ini, saya mencoba melihat modus dari suatu hal. Semisal ‘propaganda’ Gudang Garam dengan slogan pria punya selera yang sempat saya lihat di toko rokok dekat Tugu. Ini memperkuat pandangan ‘rokok sebagai lambang maskulinitas’; nggak diperuntukkan untuk perempuan. Lalu, iklan pembalut yang menampilkan darah menstruasi dengan warna biru; seakan-akan membikin konstruksi kalau darah haid menjijikkan sehingga perlu diganti warna.
Pembicara-yang-saya-lupa-namanya ini melemparkan pertanyaan, “Kalau kelak kamu nggak menikah, kamu bakal merasa bersalah atau nggak?” Perasaan bersalah ini datang gara-gara konstruksi media (film, buku, majalah, medsos). Media melekatkan pernikahan dengan ‘imaji’ kebahagiaan. Akibat hegemoni ini; rasanya kalau seseorang belum menikah, kebahagiaan belum tercapai. Konstruksi media mempengaruhi pilihan-pilihan hidup kita. Saya pikir, dosa media sungguh banyak.
Peradaban dimulai dari ide. Dulu, transfer ide dari satu kepala ke kepala lain dilakukan lewat salinan tangan. Lalu, datanglah Gutenberg yang memperkenalkan mesin cetak pada abad ke-19. Ini memungkinkan penyebaran ide menjadi lebih cepat dan masif. Martin Luther, orang yang menerjemahkan Injil, mengkritisi pemuka agama yang meyalahgunakan agama demi kepentingan pribadi. Mulai dari membayar uang untuk gereja saat melakukan dosa hingga hukuman bagi Galileo saat mengemukakan teori Heliosentris. Konstruksi pengetahuan sangat ditentukan oleh guru, ulama, elite pemerintah, pemilik media. Layaknya Hitler yang membenci orang Yahudi lantas menjerumuskan mereka ke kamp konsentrasi Nazi. Lewat teori Darwin; ia memberitakan bahwa orang Yahudi dan orang cacat bakal merusak spesies manusia kalau dibiarkan terus-terusan berevolusi sehingga perlu dihabisi. Ini cermian kalau kita adalah produk dari konstruksi media; kita menerima kebenaran yang dibikin otoritas.
Meminjam kalimat dosen saya, “Kehidupan adalah mozaik kutipan.” Segala pemikiran kita merupakan saduran dari kutipan orang lain yang kita anggap benar dan cocok dengan idealisme yang kita pegang. Sampai sini, saya meragukan omongan just be yourself. Sulit untuk menjadi diri sediri saat mengetahui kalau kita adalah produk konstruksi sosial dan hasil dari suatu sistem.
[5]
Omong-omong tentang modus, saya menarik ulang omongan saya di pos yang sempat saya terbitkan. Kita nggak bisa membebaskan diri sendiri dari kata pamrih. Selalu ada modus saat kita melakukan sesuatu. Terkadang ini menyeramkan untuk diketahui. []