Setiap orang dipanggil untuk menjadi manusia bagi sesamanya. -- #BaduyTrip #BaduyTribe #VisitBaduy #GoBaduy
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Czechia

seen from Germany
seen from Romania

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Canada

seen from United States
Setiap orang dipanggil untuk menjadi manusia bagi sesamanya. -- #BaduyTrip #BaduyTribe #VisitBaduy #GoBaduy
Menurut laporan salah seorang anggota trip kami kemaren, . . “Di jam saya 12,9km sampai tempat yg ojek. 23.200 langkah kaki, hari ini 2.758 burn dan 219 anak tangga. Kemarin total 15.9km.” . . So, total 29 km, more or less, dengan medan naik turun curam. Ya pantes kalo kemropok sikil lan awake. Kalo kata tehe otot berasa mrengkel.. 🤣🤣. Mungkin udah lama gak nge trip dan saatnya lbh rajin olahraga 💪🏼 🙈. . . #baduytrip #baduyluar #baduydalam (at Kampung Baduy)
Selayang Pandang Masyarakat Baduy, Eksistensi di Tengah Arus Modernitas
~
“Apalah arti sebuah nama?”, ujar sastrawan terbesar asal Inggris pada jamannya, William Shakespeare. Sekarang bayangkan anda berdiri tanpa identitas yang (belum) diakui.
~
*bersama Ayah Mursyid (tokoh adat Baduy Dalam)
Ayah Mursyid, begitu dia dipanggil dengan nama anak laki-lakinya. Begitu pula kebiasaan masyarakat Baduy, yang kerap menyebut nama seseorang setelah statusnya, dengan nama anak-anak mereka. Perbincangan dengan Ayah Mursyid siang itu membuka mata penulis, tentang mereka yang tak pernah mendapat banyak mata dari sekeliling. Tentang mereka yang terhimpit aturan-aturan resmi pemerintah, lantaran bukan itu yang mereka percayai. Tentang mereka yang bertahan dalam sebuah tatanan hukum adat, di tengah arus modernitas yang terjadi, dan terus berkembang. Kalau penulis tanyakan kepada rekan penulis siapa sih ayah Mursyid itu, dengan ringan rekan seperjalanan penulis menjawab “PR (public relations)nya Baduy lah”. Ketertarikan akan segala sesuatu memang bisa datang dari mana saja, termasuk mengikuti perbincangan atau wawancara rekan jurnalis penulis dengan ayah Mursyid. Ayah Mursyid yang katanya termasuk agak susah ditemui, membuat keingintahuan penulis bertambah, well sedikit banyak merasa bangga bisa bertemu dengan beliau yang memiliki kharisma yang tidak bisa terungkap melalui sekedar kata yang tertuang.
Seberapa banyak kita mengenal kebudayaan lokal yang ada di sekitar lokal? Masyarakat Baduy hanya merupakan salah satunya. Baduy diketahui sebagai nama gunung dan nama sungai, di kawasan Kanekes, pada akhirnya menjadi sebuah sebutan yang lebih akrab di telinga. Warga Baduy sendiri mengaku sebenarnya adalah “Urang Kanekes” (orang Kanekes), dan lebih suka disebut seperti itu, namun biarlah kali kita tak berpolemik antara penyebutan Baduy atau Kanekes. Perlu ahli bahasa atau bahkan sejarah apabila ingin dibahas lebih lanjut. Masyarakat Baduy sendiri yang merupakan kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda, yang secara geografis terletak di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Jumlah penduduk Baduy sendiri berdasarkan sensus tahun 2014, mencapai 11.620 orang, hampir 1400 diantaranya merupakan penduduk Baduy dalam. Jumlah yang cukup banyak, dan tak pernah menyangka bahwa masyarakat Baduy yang katanya terkenal ‘menutup diri’ itu, bisa mencapai jumlah belasan ribu. Aahh, itu hanya karena jarangnya masyarakat kota melihat warga Baduy berkeliaran, dan bahkan tidak sedikit yang tidak mau datang dan berkunjung melihat keadaan tetangga di Banten itu.
Ayah Mursyid yang masih tampak gagah dan penuh wibawa (penuh pesona kalau kata rekan penulis yang mewawancarai beliau), bercerita masyarakat Baduy bermatapencaharian dengan berladang maupun bertani, mulai dari padi, talas, mentimun, duren, pete, dan sebagainya. Ooh iya, sebagai seorang yang tidak menggemari buah Duren sama sekali, akhirnya penulis memutuskan untuk menikmati buah Durian hasil ladang warga Baduy. Kenapa? Mengapa? Kok bisa pada akhirnya?, semua pertanyaan terlontar oleh orang-orang yang mengenal penulis saat itu. “Supaya bisa merasakan buah durian di musim durian saat berada di baduy dalam”, jawaban singkat penulis atas mata-mata yang memandang heran, jawaban itu juga terinspirasi kakak-kakak rekan seperjalanan penulis. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan dengan menjual kerajinan anyaman, atau mengumpulkan madu hutan. Baduy dalam menjual hasil kerajinan mereka dengan berjalan kaki ke kota, untuk harga yang tidak mahal. 15 - 100 ribu rupiah untuk tas anyaman, atau sebotol madu hutan yang dijual dengan kisaran harga yang sama. Murah bukan?
Kehidupan mereka bukan tanpa masalah berarti, mereka juga bukan tidak pernah mengkhawatirkan eksistensi mereka sebagai penduduk yang menempati tanah adat. Ayah mursyid mengungkapkan keinginanannya untuk memajukan warga Baduy, memajukan yang sesuai dengan tatanan adat oleh lembaga adat mereka. Di kawasan Baduy dalam terdapat 3 kampung yakni Cibeo, Cikesik, Cikertawarna, dan jumlah kampung itu tidak boleh bertambah meski jumlah penduduk Baduy bertambah. Meski demikian penambahan rumah di ketiga kampung kawasan Baduy dalam itu masih diijinkan. Tidak ada sistem kepemilikan tanah, pembagian blok hanya berdasarkan kampung saja, dan terkait penambahan jumlah rumah harus musyawarah dengan tetua kampung. Penambahan rumah juga tidak boleh dilakukan sembarangan, nantinya puun (pimpinan adat) akan menentukan tanggal, hari, yang dinilai sesuai dengan adat. Sementara itu untuk kawasan Baduy luar pertumbuhan penduduk terjadi lebih cepat, dan tidak ada lembaga adat yang membatasi jumlah kampung. Pertambahan penduduk Baduy luar juga lebih cepat, lantaran banyak warga Baduy dalam yang memutuskan tinggal di kawasan Baduy luar, mulai dari karena alasan menikah atau menginginkan sedikit kebebasan seperti yang tidak didapatkan sebelumnya.
Dengan sedikit banyaknya “keistimewaan” yang dimiliki oleh warga Baduy luar, memang tidak jarang warga Baduy dalam ingin berhijrah. Namun Ayah Mursyid mengaku, tidak ada kekhawatiran akan terus berkurangnya penduduk di Baduy dalam, meski hingga saat ini belum ada lembaga adat yang mengatur hal terkait secara khusus. Menjalankan tata aturan Baduy dalam memang lebih berat, apabila sudah tidak sanggup, mereka memutuskan untuk keluar dari 3 kampung di Baduy dalam. Lembaga adat diketahui memang mencegah adanya warga Baduy dalam ke luar, adat menghimbau warga untuk memenuhi aturan adat. Apabila ada warga yang keluar, di situ hukum adat ditegakkan. Pada dasarnya lembaga adat menjalankan aturan sebatas tatanan hukum adat, dan setiap warga Baduy sudah seharusnya menghormati, menjalani, dan mematuhi. Lebih lanjut ungkap Ayah Mursyid, beliau juga tidak khawatir ada warga yang akhirnya memutuskan keluar dari Baduy, lagi-lagi lantaran ada aturan yang mengatur. Lembaga adat Baduy dalam dan luar memang berbeda, ciri dan kebiasaan mereka juga berbeda, bisa dilihat dari sejumlah tata cara hidup, penggunaan berbagai macam fasilitas, dan sebagainya, namun masih satu kesatuan.
Lembaga adat bagi masyarakat Baduy ini, seperti pemerintah yang mengatur jalannya suatu kehidupan bermasyarakat di suatu daerah. Tatanan Hukum Adat menjadi suatu yang dijunjung oleh masyarakat Baduy, mereka tidak menolak apabila ada perubahan. Lembaga adat akan mempertimbangkan sejauh mana perubahan yang masih mungkin dilakukan, atau aturan mana yang dipertegas. Perubahan yang terjadi juga sudah ada seperti akses ke kawasan Baduy yang dahulu terbilang lebih susah, dan sudah jadi kawasan wisata. Sebagai desa wisata, Baduy juga jangan disamakan dengan tempat wisata lainnya. Mengingat aada pengaturan, tata cara yang harus dihormati, dan yang terpenting menghargai lingkungan. Perubahan sekali lagi harus sesuai dengan tatanan hukum adat, disesuaikan mana yang diterima atau tidak. Hal itu ditegaskan kembali oleh Ayah Mursyid, mengingat tidak sekali atau dua kali pemerintah membujuk warga Baduy terkait perubahan, namun mereka menegaskan kalau apa yang ditawarkan pemerintah seperti fasilitas listrik, pendidikan formal, atau penggunaan alat transportasi, memang tidak sesuai dengan tatanan hukum adat. Tapi bukan berarti mereka menolak mentah-mentah kemajuan jaman, berbincang dengan warga Baduy lainnya, penulis mengetahui bahwa mereka (warga Baduy dalam) juga pernah menikmati menonton TV, menggunakan HP, menikmati aliran listrik sebagaimana mestinya.
*Pak Yaldi, salah seorang Warga Baduy dalam yang bersama rombongan
Perubahan apalagi yang seharusnya ada sehingga bisa memajukan warga Baduy? Pendidikan itu pasti. Pemerintah sudah tak terhitung menawarkan pendidikan formal kepada warga atau anak-anak Baduy. Bagi masyarakat yang terbentuk dengan tatanan hukum adat, belajar (istilah yang digunakan mereka menggantikan kata sekolah) saja sudah cukup, sekolah puun (belajar kepada pimpinan adat atau adat) istilahnya, sudah merupakan hal yang sama dengan sekolah. Menyesuaikan dengan aturan-aturan adat yang berlaku, anak-anak Baduy tetap belajar dari lingkungan. Mereka tak terbentur oleh jadwal dan jenjang SD, SMP, SMA, dan seterusnya. Proses belajar sesuai dengan aturan adat. Tatanan hukum adat, yang masih menjadi pegangan bagi seluruh masyarakat Baduy, namun berarti. Bahkan mereka tak perlu menempuh pendidikan formal untuk mengetahui bahwa tak ada gunanya mereka bertikai antar sesama, bahwa apabila ada pertikaian, diselesaikan dalam waktu 1 – 2 jam saja, karena itu tidak berguna. Setidaknya itu pelajaran yang lagi-lagi penulis dapat dari Pak Ralim, warga Baduy dalam lainnya.
Hidup dan berkembang mengikuti tatanan hukum adat, bukan tanpa masalah. Mereka mengungkapkan keinginan mereka, kepada siapa lagi kalau bukan pemerintah. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat tentunya. Penulis kembali dibawa oleh Ayah Mursyid tokoh muda adat Baduy, ke dalam sebuah impiannya untuk memajukan masyarakat Baduy. Dalam perayaan 17 Agustus tahun lalu, ternyata Ayah Mursyid bersama sejumlah warga Baduy lainnya sempat mengikuti upacara di Istana Negara. Bersama rombongan Ayah Mursyid mengucapkan selamat atas “agustusan”, dan berharap bisa bertemu dan bersilahturahmi langsung dengan presiden Jokowi. Namun impian ayah Mursyid belum bisa terwujud kali itu. Padahal sejumlah hal ingin diungkapkan Ayah Mursyid langsung kepada presiden, semua terkait dengan kebutuhan, seperti identitas, peningkatan taraf hidup masyarakat, dan pemberdayaan lahan.
Lahan kawasan tinggal masyarakat Baduy kini menjadi permasalahan pelik, mereka hanya memiliki 5136 hektar yang 3500 hektar diantaranya merupakan hutan lindung. Dengan jumlah itu praktis hanya sekitar 30 persen lahan yang bisa dibudidayakan oleh masyarakat Baduy. Kebutuhan lahan memang menjadi mendesak bagi warga Baduy lantaran setiap mereka yang sudah berkeluarga wajib memiliki rumah. Dulu 1 hektar bisa untuk 1 orang, namun semakin banyaknya jumlah penduduk hal itu sudah semakin tidak memungkinkan. Padahal pemberdayaan lahan dengan bercocok tanam, digunakan warga Baduy untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hidup, bekerja, dan bergantung pada alam. Mereka berharap pemerintah mau mengembangkan lahan untuk masyarakat Baduy, dan warga bisa bercocok tanam. Sederhana, sesederhana apa yang mereka lakukan untuk alam dan menjaga alam. Terkait pengembangan lahan, warga luar Baduy sudah pernah ada yang menawarkan, tapi semua itu tetap kembali lagi ke pemerintah dengan segala pertimbangan yang penulis belum tahu. Mereka masih menunggu kebijakan pemerintah.
*di Kampung Gajeboh, Baduy Luar
Permintaan atau mungkin lebih tepat apabila penulis katakan keinginan masyarakat Baduy tidak hanya itu saja, salah satu yang mereka ingin perjuangkan sampai sekarang adalah diakuinya agama mereka yakni Sunda Wiwitan, dan bisa masuk ke dalam kolom KTP. Sebagian dari masyarakat Baduy sudah memiliki KTP, namun tidak memaksa siapapun yang belum memiliki KTP untuk segera punya. Kekecewaan mereka terkait kosongnya kolom agama di KTP, ini merupakan sebuah ketidakadilan, mengingat beragama adalah hak paling dasar. Kalau memang tidak diperbolehkan penulisan Sunda Wiwitan dalam kolom agama, bagi masyarakat Baduy yang memiliki KTP, lebih baik dihapuskan saja kolom agama itu. Adil bagi masyarakat Baduy ya seperti itu. Sebagian masyarakat Baduy yang memiliki KTP, merasa senang dan bagi mereka itu sebuah pegangan dan tanda bahwa mereka diakui, mereka merasa dianggap ‘jelas’. Sederhana, sesederhana ingin diakui oleh pemerintah apa yang mereka anut dan percayai itu. Bepergian membawa KTP membuat masyarakat Baduy diakui, tapi tetap saja seperti ada sesuatu yang hilang.
Bagi penulis masyarakat Baduy itu istimewa, seperti keistimewaan lainnya yang banyak dimiliki mereka. Seperti keistimewaan hak pilih atau hak coblos pemimpin daerah yang mereka sandang, dengan atau tanpa KTP.
Kearifan Budaya Lokal, Warga Kanekes, dalam 50.000 langkah
~
Mereka yang melakukan perjalanan hanya dengan langkah kaki, menempuh ratusan kilometer, entah untuk berapa hari lamanya. Akhirnya apa yang saya idamkan atau saya tahu inginkan dari dulu, yakni mengunjungi perkampungan Baduy, tercapai sudah.
~
Panas terik langsung menyambut kedatangan saya bersama rombongan trip kali ini di stasiun Rangkas Bitung, Banten. Awal dari perjalanan kami menuju perkampungan urang Kanekes, atau yang lebih dikenal sebagai warga Baduy. Menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dengan kereta ke Stasiun Rangkas Bitung, sekitar 3 jam perjalanan masih kembali harus kami tempuh dengan menggunakan mobil sewaan ke titik awal perjalan kami di Cijahe (luar baduy). Disambut ramah oleh warga Baduy Dalam yang memang sudah menunggu kedatangan rombongan, kami bersiap trekking dengan rute masuk Cijahe yakni luar Baduy – Baduy Luar – Baduy dalam. “Paling sekitar 60 menit kita sudah sampai tujuan akhir (perkampungan Baduy Dalam)”, ujar ketua rombongan saat saya bertanya berapa lama perjalanan akan ditempuh. Setelah beristirahat sejenak (sholat, makan siang, dsb), kami mengawali langka-langkah kaki ini dengan riang gembira. Berdoa bersama, briefing tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan, selama berada di kawasan Baduy luar atau Baduy dalam, dicermati dengan baik oleh setiap peserta kunjungan wisata yang sekitar 20 orang.
Oh iya karena sejak awal saya sudah tahu akan ditemani oleh warga Baduy Dalam, maka mereka juga menawarkan jasa untuk membawa barang-barang wisatawan yang akan berkunjung. Ini merupakan salah satu cara mereka untuk mendapatkan tambahan penghasilan, 50 ribu untuk perjalanan pulang – pergi. Jumlah yang tidak banyak, apalagi kalau harus dibandingkan dengan sekali jajan di mall dengan mengendong bawaan di rute yang terkadang tidak ramah bagi pengunjung. “Bapak mau bawa tas saya, berapa tarifnya?”, tanya saya kepada Pak Yaldi warga Baduy dalam yang belum kebagian ‘jatah’ membawakan tas pengunjung. Dengan ramah dan tersenyum Pak Yaldi menjawab “Serelanya aja neng, bapak bawa ya tas-nya”. Pak Yaldi tidak lagi muda, guratan dan lipatan sudah tampak di wajahnya, sebagian rambut mulai dihiasi selembar atau 2 lembar yang berwarna putih. Ada juga Darwan, warga baduy dalam yang berusia 5 tahun (kalau saya tidak salah), dengan kulit putih bersih, yang juga membawakan tas salah satu rombongan kami.
Menempuh perjalanan selama kisaran waktu seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, dengan rute yang cukup merepotkan bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung, seperti berbatu, berlumpur, melewati jembatan gantung, melewati sungai dengan air yang lagi tidak tinggi, akhirnya kami tiba di kawasan Baduy dalam. Melewati kawasan Baduy luar terlebih dahulu, kami masih bisa menggunakan alat elektronik seperti handphone, kamera. Namun setibanya di perbatasan antara Baduy luar dan Baduy dalam, kami sudah diingatkan untuk mematikan semua alat elektronik yang dimiliki tanpa terkecuali. “Hal itu sudah sesuai dengan tatanan adat yang berlaku, yang selama ini dijunjung oleh masyarakat Baduy dalam”, jawaban yang diberikan saat pertanyaan mengapa terlontar atas hal terkait. Di kawasan Baduy dalam juga tidak boleh menggunakan bahan kimia saat mandi, menggosok gigi, buang air, mencuci baju dan peralatan lain. Sebuah bentuk kearifan lokal tatanan masyarakat yang masih dipertahankan sampai sekarang, dan pendatang atau wisatawan diharapkan menghormati hal itu.
Kang Asmin atau yang sekarang lebih dikenal dengan panggilan Ayah Rayti, pimpinan rombongan dari warga asli Baduy Dalam, dengan ramah menyambut kami. Kesan suram, mistis, kuno, primitif, dsb seperti yang saya pernah dengar tentang Baduy, sama sekali tidak dirasakan. Mereka murah senyum, tidak ada kesan negatif yang ditimbulkan seperi cerita yang beredar di luaran sana. “Katanya sih mistis, katanya sih seram”, yang teman-teman saya bilang saat mereka tahu saya akan menghabiskan waktu sepanjang minggu bersama Baduy dalam. Well, tidak benar sama sekali. Apa yang kita ketahui tentang peradaban warga Baduy dalam atau Baduy luar, harus dilengkapi dengan perjalanan seperti ini terlebih dahulu. Warga Baduy menekankan kearifan budaya lokal, kearifan masyarakat setempat. Bahkan saya tak menghiraukan gurauan rekan-rekan saya yang mengatakan, “bisa tambah primitif donk kalau ke Baduy, ngapain juga capek-capek ke sana cuma buat jadi orang primitif”. Saya hanya tidak perlu repot menjelaskan, untuk mencoba “meluruskan” pikiran mereka yang tidak sepaham.
Warga Baduy tidak primitif, mereka juga tidak bodoh, apalagi terbelakang. Warga Baduy mengenal apa yang namanya teknologi seperti smartphone, televisi, pemutar musik, atau bahkan sebagian dari mereka malah tahu perkembangan berita terkini yang beredar di masyarakat. Baduy dalam dan Baduy luar memang berbeda. Warga Baduy dalam mengenakan ikat kepala berwarna putih, dengan baju yang hanya boleh berwarna hitam atau putih. Di perkampungan mereka, tidak boleh ada alat elektronik, tidak ada toilet di dalam rumah, dan rumah yang ditempati juga tidak boleh menggunakan paku atau hanya dari anyam-anyaman akar-akaran atau rumput, dan bahan tradisional lainnya. Kegiatan mencuci baju, mandi, buang air, yang tanpa bahan kimia, dilakukan di sungai yang terletak di sekitar rumah mereka. Mereka tidak mau merusak alam, itu salah satu cara mereka menghargai alam dan apa yang alam telah berikan kepada mereka. Bahkan penerangan yang mereka gunakan hanya dari lampu minyak, dengan minyak yang dibeli dari luar kawasan Baduy Dalam. Mereka juga tidak diijinkan naik mobil, motor, dan segala bentuk perkembangan teknologi lainnya.
“Pak Ralim, kangen gak mau ke Taman Lawang (Jakata) lagi”, tanya salah satu anggota rombongan kepada pak Ralim, yang memang sudah beberapa kali ke Jakarta. Warga Baduy dalam tahu kok Jakarta itu kayak apa, bahkan Pak Sardi (pemilik rumah tempat kami menginap) sudah pernah menjamah kota Bandung. “Bapak cuma mau tahu Bandung kayak apa, jadi bapak sama temen-teman ke Bandung jalan kaki, 5 hari, jauh pokoknya Bandung mah”, saat ditanya selain Jakarta, kota besar apa lagi yang pernah mereka lihat. Mereka mengetahui kok perkembangan teknologi, berita terkini, atau kasus apa yang sedang ramai. Mereka mengakses itu semua saat tidak berada di kawasan Baduy dalam, atau dalam kunjungan mereka ke Jakarta (yang katanya hanya memakan waktu cukup singkat, yakni 4 hari perjalanan pulang – pergi, dengan jalan kaki). Bahkan kang Asmin tahu kok adanya kasus ledakan Bom di Sarinah yang menyebabkan korban jiwa, pembangunan MRT yang digalakkan oleh Gubernur DKI Jakarta, teroris ISIS yang lagi “ngetrend”, dan sederetan berita lainnya.
Masih ada sejumlah hal lainnya yang bisa dipelajari dari warga Baduy, yang memang mengedepankan Tatanan Adat serta asas sama rata. Tidak ada yang pernah merasa lebih kaya dari yang lainnya, lebih pintar dari yang lainnya, lebih berkuasa satu sama lain, semua hanya untuk satu tujuan yakni hidup dalam keselarasan antar sesama warga Baduy. Bukannkah itu yang jarang kita terapkan sebagai anggota masyarakat yang selalu mengklaim kita lebih maju dan modern dibanding mereka-mereka yang tinggal di pedalaman tanpa sentuhan dunia luar? Tertulis di papan, sebelum memasuki kawasan Baduy sejumlah pesan atau disebut dengan “Amanat Buyut”. Diantaranya buyut yang dititipkan kepada puun (pimpinan adat), lembah tak boleh dirusak, gunung tak boleh dihancurkan, larangan tak boleh dilanggar, buyut tak boleh diubah, panjang tak boleh dipotong, yang bukan harus ditiadakan, dan masih banyak lainnya. Apa istimewanya? Luar biasa istimewa, lantaran mereka masih menjungjung tinggi nilai-nilai keseragaman yang diamanatkan. Bukankah kita belajar jauh lebih banyak dari mereka, dibanding mereka belajar dari kita yang mengaku ‘anak kota’? Kalau begitu masih mau mengaku kita lebih maju dari mereka, atau mengklaim mereka masyarakat terbelakang dan primitif?
Berbeda dengan warga Baduy dalam, warga Baduy luar sedikit lebih longgar aturannya namun mereka tetap menjungjung asas tatanan adat dan keselarasan yang sama. Warga Baduy luar sudah boleh menggunakan baju bebas (kaos berwarna-warni, celana panjang, celana pendek), penerangan dengan menggunakan solar cell, lampu portable dengan solar cell (yang merupakan hasil CSR sejumlah perusahaan), serta menaiki kendaraan (tapi kendaraan bermotor tetap tidak boleh memasuki kawasan Baduy luar). Keramahan mang Idong, tuan rumah kami di Baduy luar juga memberi kesan manis. Mang Idong sudah mempunyai toilet dalam rumahnya, pintu rumah juga lebih dari satu, memakai kaos dan celana, dan tampak senang memainkan handphonenya untuk mengambil gambar kami semua yang sedang menikmati makan siang hasil masakan istrinya. Tanpa mengenal batasan mana kaya atau miskin, mana cantik atau jelek, mana lebih pintar atau tidak; wisatawan, warga Baduy luar dan Baduy dalam bersatu dalam irama kebersamaan. Tanpa canggung, tanpa kesan meremehkan, suasana siang itu terasa hangat seperti keluarga.
Pak Yaldi, Kang Asmin, Yuli, Pak Ralim, dan si bocah kecil Darwan bahkan senang saat saya ajak berkelana melihat foto-foto liburan saya di berbagai tempat. Mereka senang diajak bercerita, mereka senang bertanya, mereka senang membagikan pengalaman mereka kepada kami. Darwan kecil bahkan mulai tertawa dan tersenyum sumringah, saat saya tunjukkan bagaimana saya menggunakan telepon pintar. Entah apa yang ada di pikiran Darwan kecil yang misterius, apakah terpesona dengan segala kemajuan yang bisa didapatkan di Baduy luar atau senang menjalani hari-harinya sebagai warga Baduy dalam, dengan segala keistimewaannya. Rombongan tiba di rumah mang Idong setelah berjalan kaki sekitar 3 – 4 jam, melewati sungai, lembah, jalan berbukit, curam, basah, dipenuhi ilalang dan sebagainya.
Beristirahat di rumah mang Idong memberi semuanya tambahan tenaga untuk kembali berjalan sekitar 45 menit, dan sampai tiba akhirnya di ujung perjalanan. Pak Yaldi masih setia mendampingi saya, Pak Yaldi yang mengkhawatirkan saya jatuh saat mulai turun hujan besar, dan jalanan menjadi licin. Pak Yaldi yang begitu gembira saat saya memberikannya cokelat favorit, dan Pak Yaldi yang berjanji untuk mengunjungi saya di Jakarta dan akhirnya berkata “neng, jangan lupa sama bapak ya, nanti bapak main ke Jakarta”. Juli salah satu warga Baduy dalam yang menjadi local guide saat itu malah berkata “mba, catat nomor saya donk, nanti saya main ke Jakarta saya telp ya”. Seperti diceritakan di awal warga Baduy dalam memang diperkenankan menggunakan teknologi saat berada di luar kawasan Baduy dalam. Mereka yang sudah mempersiapkan buku telepon kecil bahkan dengan tidak ragu meminta alamat lengkap kediaman saya di Jakarta, tidak hanya Pak Yaldi tapi begitu juga kang Asmin, Yuli, dan Pak Ralim – yang bahkan sempat bilang bahwa tulisan saya jelek.
50 ribu langkah kaki saya akhir pekan itu memang berat, tapi apalah artinya itu semua dan ditukar dengan pelajaran banyak tentang apa yang namanya menghargai, berbagi, dan hidup damai seperti yang warga Baduy jalankan. Entah perasaan apa yang membuncah namun saya merasa bahagia, dan bersyukur bahwa masih bisa merasakan kearifan lokal masyarakat Baduy. Menjadi bagian dalam sebuah kebudayaan lokal, yang sungguh tak ternilai harganya. Waktu semalam dihabiskan di kawasan Baduy dalam memang terasa tidak cukup, tapi begitulah aturan yang sudah ditetapkan. Bahwa pengunjung atau pendatang tidak boleh menginap lebih dari satu malam di kawasan Baduy dalam. Tapi saya pastikan akan ada kunjungan untuk yang kedua kalinya. Gurauan saya kepada mereka-mereka saat mereka tanya kapok apa gak main ke Baduy, “nanti pak saya pasti balik lagi, saya ajak anak-anak saya ya kemari”. 50 ribu langkah kaki saya banyak mengajarkan saya nilai-nilai yang gak bisa saya dapat di sekolah formal atau hasil wawancara narasumber terkenal. Langkah-langkah kaki ini tak lagi mengeluh lelah, namun bersyukur.