Parenting
Baru juga usia kehamilan segini, kok mendadak pusing soal parenting. Sepagi ini udah debat aja sama ibu sendiri, wkwk. Nanti kayak gimana ya kalo anak dah lahir 😅
Yang mengherankan, kenapa mancingnya pake menjatuhkan role model? Pake nyindir? Padahal, bakal lebih enak dan terbuka lagi kalau diajak diskusi terbuka.
Dalam hati rasanya dongkol. Pingin bantah tapi tau kalo gak guna karena yaa..beliau memang begitu. Tidak terbantahkan! Poinku dan poinnya selalu berbeda, persis kalau lagi adu argumen sama bapak. Kalau nggak ada yang ngalah lha mbok sepanjang hari, dan mungkin sepanjang hidupnya akan diungkit terus.
Kalo diinget, jadi ngeri sendiri. Setelah sahabat yang satu itu, ibu sendiri ada "bakat orang teraniaya" yang doanya pasti dikabulkan. Kalau treatment nya nggak bener, you know what i mean kan... Kenapa mendadak hidupku penuh dengan mereka? 😓
Pingin sebenernya punya rumah sendiri, paling tidak sebelum masa balita anak selesai. Oke, tambahkan list doa.
Hanya sekedar karena ibu tau, aku mengidolakan ibu kirana, bukan berarti aku bakal njiplek cara dia mendidik anak 100% kan? Yaiyalah, beda kelas. Beda kebutuhan, beda kondisi. Banyak juga yang jadi role model ku soal mendidik anak. Beliau hanya tau itu saja, kemungkinan besar begitu.
Sama sekali tidak memungkiri kalau beliau termasuk guru senior, berpengalaman menghadapi banyak anak, orang tua wali, teman guru dan masyarakat sekitar. Sangat malah.. Sudah sukses dengan kelarganya, dengan image bagus dan keren yang sudah dibangun bertahun lamanya. Jelas aku gak ada tandingan apa apa lah kalau disandingkan.
Hanya saja, aku tipe yang terus belajar. Melakukan semua dengan dasar yang jelas, ilmu dan agama, karena hanya itu saja yang ku punya. Itu juga kudapat dari beliau. Nanti, dan selamanya pun kalau aku bertemu jalan buntu, pasti juga akan mendengarkan saran beliau. Apa yang beliau katakan pasti juga bakal ku turuti.
TAPI...
Nanti. Biarkanlah ku berproses sendiri dulu seperti yang kuinginkan. Kenapa mereka suka nggak sabaran gitu ya? Apa karena mereka merasa sudah memberikan yang paling baik, paling benar?
Padahal kebobrokan sebuah sistem itu yang paling dapat merasakan adalah mereka yang menjalani, bukan yang membuat.
Lalu, apakah aku akan berhenti? Atau aku akan terus melawan beliau? Tentu saja tidak.
Tetap berusaha dan berargumen dengan baik kepada beliau. Bismillaah...
Smoga Allah selalu melimpahkan kasih sayangNya di keluarga ini sehingga kami tetap bisa menjalani hidup dengan rukun, damai, dan berkah. Aaamiin.








