独占欲と取り残さしまった 両面コインのように感じ、異なるが、切っても切れない。
possesiveness and got left behind—
Kalau kau melihat ke arah barat Hakodate Park, lebih tepatnya ke arah deretan pohon-pohon sakura yang mulai menggugurkan kelopaknya, tepat, tepat di bawahnya—di salah satu petak dengan hamparan kain kotak-kotak khas piknik, maka kau akan melihatnya. Gadis dengan rambut hitam panjang bergelombang, dengan kaus berwarna merah terang yang mulai lusuh karena terlalu sering dipakai, juga jaket tipis berbahan rajut yang melapisi, terduduk di sana, terpekur memandang langit. Sorot matanya sendu, kontras dengan pengunjung lain yang terlihat bahagia menangkapi kelopak sakura yang berdatangan bagai hujan. Tangannya dikaitkan satu sama lain, tanpa membentuk suatu pertahanan yang berarti. Di luar sana, mungkin dia dikenal sebagai gadis yang tomboy, ketua klub kendo—tapi kali ini, momen ini, gadis itu bukan siapa-siapa. Hanya salah satu orang dengan keberadaan insignifikan yang berada di bawah pohon sakura, tanpa melakukan apa-apa, tanpa teman,
"Oneechan, kenapa sendirian?"
Bahunya dicolek, dan sedikit enggan, gadis itu menoleh. Gadis kecil—kira-kira lima tahun usianya, berdiri di sebelahnya tanpa malu-malu, tanpa presensi orang dewasa yang terlihat mengiringi. Anak kecil tak dikenal itu tersenyum manis, mempertunjukkan gigi depannya yang tanggal, membuat lengkung tipis muncul di bibir si gadis yang tadinya, sendirian. "Aku temani, ya, Oneechan? Kalau Oneechan sendirian, kelihatannya [i]sediiih[/i], banget. Kalau kayak tadi, kan, Oneechan kelihatan cantik."
Dan kali ini tak lagi senyum tipis, tapi kekehan tawa yang keluar. Renyah, riang nadanya, menyenangkan—dalam hati mendadak gadis ini bertanya, kapan dia terakhir kali tertawa seperti itu? Ditepuknya spasi di depannya, sekaligus membersihkannya dari kelopak bunga yang gugur entah sejak kapan. "Sini, sini, duduk sama Oneechan, kalau begitu, ya?"
Kaki kecil yang melangkah mantap ke depannya, juga bunyi hentakan kala bokong si gadis kecil menghantam tanah—mendadak, semua itu mengingatkannya kepada dirinya kala masih berada dalam usia yang sama. Gelengan keras yang diberikan kala tangan si gadis menyentuh kepala kecil itu, mencoba menyisir surai-surainya yang halus—gestur penolakan akan kuncir kuda yang perlu dirapikan yang membuat tangannya berhenti mendadak dan terkulai di sisi si gadis kecil dengan kikuk. "Ibumu pergi ke mana, adik kecil?"
"Kaasan? Tidak tahu... tadi aku lari-lari mengejar sakura, mendadak Kaasan tidak ada, lalu ada oneechan yang sendirian, jadi aku ke sini." Tanpa beban, seakan sudah terbiasa sendirian—walaupun ada getar yang mendadak terselip di akhir. "Oneechan nggak apa-apa, kan? Tadi kelihatan kayak mau nang—"
"Nggak apa-apa, adik kecil tidak usah khawatir," buru-buru dipotongnya perkataan yang keluar dari bibir mungil berwarna oranye itu. Tidak ingin menjawab, tidak ingin membahas tentang apa yang dilakukannya sedari tadi di tempat itu, sendirian. "Adik kecil namanya siapa, kalau Oneechan boleh tahu?"
Tangan kecil yang bergerak menangkapi kelopak yang turun begitu perlahan mendadak berhenti. Kepalanya menoleh antusias, menunjukkan biner obsidian yang berkilat riang, juga surai-surai cokelat muda yang bergerak ringan mengikuti tolehannya. "Chiasa, namaku Chiasa! Namanya Oneechan?"
Tangannya bergerak, mengambil satu kelopak yang menyangkut di kepala, "Chiasa, ya? Namanya Chiasa-chan bagus sekali. Nama Oneechan—"
"Kaasan!" belum sempat gadis itu melanjutkan, suara seorang wanita paruh baya memanggil si gadis kecil yang bernama Chiasa tersebut, membuat si gadis kecil bangun dari duduknya secara tiba-tiba dan menghampiri sesosok ibu-ibu yang terlihat panik. Tangannya bergerak, ingin mengekang, tetapi terlambat—sosok kecil Chiasa sudah keburu melesat ke pelukan wanita tak dikenal tersebut—membuatnya mendadak, merasa kehilangan.
"Chiasa ke mana? Kaasan dari tadi nyari, lho! Jangan menghilang kayak tadi, nanti Chiasa diculik orang." Sosok ibu-ibu itu mendelik ke arahnya, kasar, membuat gadis ini menatap balik, menantang, seraya berpikir tajam, apa benar sosok ibu-ibu itu benar ibu dari Chiasa yang terlihat terlalu manis? "Chiasa nggak tahu, apa, Oneechan yang itu... kelihatannya nggak baik."
Ibu-ibu itu tak berbisik-bisik, justru berbicara dengan jelas—membuat si gadis merasa tersindir.
"Nggak kok, Kaasan!" Chiasa menyergah, suaranya nyaring, dengan nada yang begitu lepas. "Oneechannya baik, Chiasa dikasih duduk.[i] Oneechan[/i]nya kesepian, kayak Chiasa kalau nggak ada Kaasan!" Di detik ini gadis berkaus merah itu sudah kembali menatap langit, tak memperdulikan lagi argumentasi yang terjadi di sekitarnya. Sampai satu suara nyaring yang sama kembali berteriak, kali ini dibawa oleh angin musim semi yang berhembus bersamaan dengan gugurnya sakura...
"Oneechan jangan bersedih lagi, ya! Chiasa sayaaaang sama Oneechan! Nanti kita ketemu lagi, ya!"
...dengan satu kata yang membuatnya terpaku di tempat, berpikir keras akan satu hal, dengan suara Chiasa yang terngiang-ngiang di telinganya, berulang-ulang layaknya angin musim semi yang senantiasa berhembus ke arah yang sama.
`Chiasa sayaaaang sama Oneechan!`
Would you tell me the definition of love?
Dia tidak pernah mengerti konsep mencintai maupun dicintai.
Rumah tangga yang menaungi dirinya terjadi karena perjodohan, sesungguhnya. Keluarga sang ibu yang turun temurun kontra terhadap pemerintahan The Great Dictator diindikasikan melakukan pemberontakan, maka anak satu-satunya—ibunya, kala itu—dinikahkan dengan anak lelaki tertua sebuah keluarga yang pro-pemerintahan—ayahnya. Tak pernah ada definisi `cinta` yang terselip, tak pernah ada afeksi yang ditunjukkan sebelum mereka berdua diikat janji suci—seluruhnya diatur oleh pihak keluarga, sesempurna yang terlihat orang-orang. Mereka terlihat akur di luar, serasi, dan tak ada yang memperdulikan apa yang terjadi di dalam.
Kalau pernikahan diibaratkan sebagai rumah dan perasaan sebagai pondasi, maka ayah dan ibunya terlebih dulu membangun dinding sebelum menancapkan tiang pancang.
Tapi pernikahan itu tetap bertahan, walau bagaimanapun juga—dengan hal-hal yang tak dapat dimengerti gadis berusia lima belas tersebut. Bertahan dengan dua buah hati yang mewarnai rumah mereka, dirinya dan juga adik laki-lakinya. Bertahan tanpa afeksi khusus yang lazim berada di rumah-rumah—tak ada pelukan dari sang ibu saat berangkat sekolah maupun cium tangan khidmat dengan sang ayah saat mereka semua berkumpul saat malam—hanyalah detil-detil kecil demi memenuhi target keluarga yang berfungsi baik. Asal dapur masih mengebul, pakaian anggota keluarga tetap bersih dan rapi, dan wajah anak-anak tetap terlihat ceria setiap hari, maka tak masalah. Keluarga itu kekurangan satu hal—afeksi, kasih sayang—karena keburu termakan kebiasaan dan tradisi.
Suatu hal yang disesali setelah perlahan, empat orang itu pergi menuju jalannya masing-masing, yang tak pernah berani diucapkan karena satu hal mendasar—rasa takut. Dan tahukah kau? Rasa takut itu berubah menjadi sesuatu yang baru; candu, adiktif yang menyiksa. Rasa kepemilikan yang berbeda. yang berubah menjadi keinginan melindungi yang teramat besar walaupun gadis itu tak pernah bisa mengungkapkan.
"Kalau sudah besar nanti, jangan pernah lupa dengan keluarga, dengan tempat tinggal. Dengan negara. Berbaktilah."
"—hng?" Keningnya berkerut, bingung. Kata-kata sang ayah terdengar seperti riddles, seperti teka-teki, saat itu. Terlalu jauh untuk dicapai anak berumur empat belas tahun, bahkan yang terbiasa ditinggal oleh orang tua semacam dirinya.
"Iya. Kalau sudah siap nanti—" mendadak sang ayah terdiam, terlihat seperti berpikir ulang. "Iie, sudahlah. Pokoknya jaga dirimu baik-baik, jaga Eiji baik-baik, dan jangan seperti kacang lupa kulitnya."
Of hurt; of missing someone;
Ayahnya meninggal saat gadis itu berusia empat belas, di suatu hari yang berhujan karena kecelakaan lalu lintas.
Gadis itu terlalu kalut untuk menangis, untuk mengeluarkan air mata—hanya bisa terdiam di sisi jenazah sang ayah sementara sang ibu di sebelahnya menangis, meraung. Adiknya sendiri berusaha menarik sang ibu menjauh, walaupun usianya belum genap dua belas tahun saat itu—demi keberlangsungan acara pemakaman. Kremasi, yang diiringi isak tangis yang seakan tak berkesudahan. Memberikan suatu kenangan yang terbentuk dalam suatu kalung berisi sisa abu sang ayah, dengan ukiran `Hanamura Eita` tergambar tipis di sekeliling tabung sebagai mata kalung.
Ayahnya. Sosok yang kehadirannya di rumah bisa terhitung jarang—tetapi tetap dianggapnya sebagai sesuatu yang berharga. Tak pernah diucapkan, tapi waktu-waktu yang berlalu selalu dibuatnya sebagus mungkin demi menarik sang ayah agar tetap tinggal. Seseorang yang diklaimnya sebagai miliknya, sejak kali pertama.
Yang tersimpan di memorinya saat itu bukanlah sang ibu yang menunjukkan rasa sayangnya di akhir ketika melepas jenazah sang ayah ke dalam bara api, mengelusnya wajahnya perlahan, lembut, sangat lembut—bukan lagi adiknya yang menangis dalam diam yang sedikit banyak didorong oleh ego sebagai seorang lelaki. Tapi kata-kata terakhir sang ayah kepadanya, sesaat sebelum ayahnya memasuki mobil yang berubah menjadi rongsokan hanya dalam hitungan menit—
Kalung berisi abu itu ditanggalkannya esok hari, ditaruhnya dalam kotak terdalam di lemari bajunya, tempat seluruh kenangannya disimpan. Tak ada gunanya lagi mengenang yang sudah tiada, pikirnya. Lebih baik memikirkan masa kini.
Tapi yang disesalkan adalah, mau sekuat apa gadis itu mengklaim sang ayah sebagai miliknya, mau sedekat apapun gadis itu dengan sosok Hanamura Eita, atau sesering apapun tangan yang dulunya kuat memegang pergelangan kecilnya dahulu, ayahnya tetap pergi juga. Meninggalkannya, meninggalkan ibunya, adiknya, keluarganya....
Tetap pergi juga, tanpa mengucapkan selamat tinggal, tanpa memberikan pandangan terakhir yang begitu berarti.
"Sepi, ya, tidak ada Tou-san."
Kata-katanya diucapkan semata-mata demi memancing reaksi sang ibu, mencari tahu bagaimana Hanamura Kanae akan bertindak jika sosok sang suaminya disebutkan. Mencari tahu, bagaimana kesan sang ayah di mata sang ibu—mengingat tak ada kata-kata penuh afeksi yang pernah ditukarkan—tapi yang keluar dari bibir sang ibu hanyalah "Iya," yang terdengar kuat, tegas.
Dan gadis itu sama sekali merasa tidak puas, sedikit pun. "Kaa-san tidak..." bagaimana mengatakannya, memikirkan orang itu sepanjang hari, teringat sepanjang detiknya, merasa hampa tanpanya, semua perasaan yang didefinisikan orang-orang sebagai— "...kangen? Sama Tou-san?"
Alih-alih menjawab dengan mudah dengan jawaban ya atau tidak, sang ibu malah menepuk tempat di sebelahnya, meminta Kazumi untuk duduk di sebelahnya tanpa suara, dan si anak menurut. "Kau tahu bahwa kami selalu mengusahakan yang terbaik untukmu dan Eiji," tangan perempuan setengah baya itu bergerak, menyelipkan beberapa helai rambut anak gadisnya ke balik telinga sementara gadis itu mendengarkan sepenuh hati. "Dan kematian ayahmu tak mengubah semua itu. Seberapa tomboynya kamu, seberapa nakal Eiji, kalian tetap anak kami. Tetap anaknya Kaa-san."
Dan gadis itu menunggu dengan sabar saat sang ibu mengambil jeda sebentar, menarik napas, menahan getar tangis yang nyaris tumpah. "Dan kalian juga begitu, kan? Tou-san dan Kaa-san akan tetap menjadi orang tuamu, tak peduli seberapa banyak waktu yang kami habiskan untuk kalian, atau sebanyak atau sesedikit apapun uang yang kami berikan... kami akan tetap menjadi orang tuamu. Blood is thicker than water, Kazumi. Selalu ingat itu."
She hold on too long, it almost broke.
Pada dasarnya gadis itu berharap dengan kepergian sang ayah ke alam sana, sang ibu akan lebih sering berada di rumah, lebih sering bersama anak-anaknya. Maka tangan sang ibu dipegangnya begitu kuat seakan tak ingin lepas, tak ingin berpisah—insting sang anak yang ingin dekat kepada sosok orang tua, satu-satunya, mulai kali jenazah sang ayah diberitakan ditemukan di rangka mobil mereka yang sudah remuk tak berbentuk. Tapi justru yang dipegangnya melepaskan diri, melepaskan genggamannya—
—karena tak lama waktu berkabung yang dibutuhkan oleh sang ibu untuk tetap di rumah. Hanamura Kanae tetap pergi bekerja seperti masa lampaunya tepat setelah satu bulan kematian suaminya, tepat ketika masa cutinya habis dan ada kasus yang menunggu untuk dibela. Justru pergi jauh, jauh lebih lama dari pada yang lampau, masa tinggalnya jauh lebih sempit sementara masa absennya bertambah pesat. Semakin lama gadis itu dan adiknya ditinggal, semakin berkembang pula isu yang tersebar di kalangan tetangga kalau sang ibu memulai sesuatu yang lain, tak hanya bekerja sebagai pengacara, tetapi memulai sesuatu dengan julukan perempuan malam.
Tak dipedulikannya semua itu, walaupun nama sang ibu masih dibelanya mati-matian—Hanamura Kanae bekerja dengan layak, bukannya serangga yang senang hinggap di berbagai tempat. Bukannya marah atau apa, perasaan si gadis terhadap sang ibu lebih ke arah kecewa.
Kecewa, karena setelah apa yang terjadi—setelah kata-kata yang diucapkan dan gestur yang disuguhkan—sang ibu tetap saja pergi, meninggalkannya, meninggalkan Eiji. Kecewa karena kata-kata yang menjadi harapan, menjadi tumpuan, menjadi sandaran telah gugur menjadi debu, rontok satu persatu dengan sentakan hebat karena direnggut tangan tak kasat mata.
Kecewa karena sudah ditinggalkan, rasanya lebih buruk daripada ditampar tepat di depan orang-orang, tahukah?
`Blood is thicker than water, Kazumi.`
Rasanya semua tak ada bedanya, bagi Hanamura Kanae... kan?
"Hm?" dirinya menoleh, begitu dipanggil oleh sang adik dengan nada yang begitu... serius setelah sebelumnya tertawa-tawa karena lelucon yang diutarakan si adik. "Kenapa, Eiji?"
"Eiji sayang Kazumi-neechan."
Kata-kata sang adik mau tak mau membuatnya terpaku, terdiam sejenak sementara langkahnya mendadak berhenti. Jarang, gadis itu mendengar kata-kata itu dikatakan oleh anggota keluarganya—bukan sesuatu yang diobral murah hingga terdengar begitu langka, bahkan malah terasa miris karena di luaran kata-kata tersebut terlalu sering diucapkan sehingga terdengar seperti sampah. Tapi bukan berarti gadis itu terbiasa. "Eh?"
"Kazumi-neechan seharusnya bilang sayang sama aku juga, dong!"
"He?" kali ini gadis itu sepenuhnya tak dapat berkata-kata apapun. Kata `sayang` tak ada di kamusnya sejak dulu, dan kenapa mendadak kata-kata itu tercuat dari lisan sang adik? "I-iya, neechan juga—" apa tadi, katanya? "—sayang, sama Eiji."
"Nah, begitu, dong!" sosok anak laki-laki yang baru saja menginjak umur dua belas tahun sehari sebelumnya itu kelihatan puas, dari kedua tangan yang diayunkan tanpa beban. Tersenyum cerah yang menular kepada sang kakak, membuat senyum lebar yang jarang tersungging itu terbit di wajah si gadis Hanamura. "Neechan janji ya, nggak akan ninggalin aku, bakal terus sama-sama—nggak kayak Tousan dan Kaasan."
Gadis itu termenung sejenak, berpikir. Seperti Tousan dan Kaasan, katanya. Seperti Tousan yang meninggalkan mereka tanpa pamit, sementara Kaasan yang seringkali absen untuk mengurus urusan rumah tangga? "Nggak, nggak akan kayak mereka. Neechan nggak akan ninggalin kamu, Neechan janji."
of butterflies: because I don't think I know any.
Tanpa bermaksud menyamakan maupun menggolongkan, tapi kenyataannya, semua terlihat sama.
Orang-orang terdekatnya datang, singgah, lalu pergi—hal itu juga berlaku kepada adiknya. Hanamura Eiji, di usianya yang terlampau muda, mengambil resiko dengan menaiki kereta, sendirian, menuju rumah Hanamura Momoko yang terletak begitu jauh dari Hakodate. Bukan, bukannya gadis itu yang melanggar janjinya, tetapi sang adik sendiri yang memilih untuk mengikuti kemauan sang ibu yang mengatakan dengan perpindahan, semua ini akan lebih baik untuk mereka semua, lebih sedikit beban yang ditanggung si gadis di tahun ketiganya, sementara sang adik akan lebih terurus bersama sosok bibi yang ditunjuk.
Muak, sesungguhnya. Semua perpindahan ini membuatnya tak percaya pada suatu yang stagnan—sekuat apapun tangannya mencengkeram, sekuat apapun keinginannya ditancapkan, tapi tetap saja, ada yang akan pergi. Tak ada yang terasa seperti rumah, seperti bangunan kokoh yang menaungi kepala.
Sejauh apapun gadis itu mencurahkan seluruh usahanya untuk mengucapkan sekedar kata `sayang`, seberharga apapun kata tersebut dilisankan, tetap saja adiknya pergi, tanpa mempedulikan perasaannya, berdalih demi kebaikan semua orang. Dan mau sebanyak apapun rasa
bencinya karena keputusan sepihak itu, tak ada yang dapat dilakukannya untuk mencegah, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti permainan alam bernama takdir yang terasa begitu kejam. Inginnya menyalahkan—tetapi kepada siapa?
`Eiji sayang Kazumi-[i]neechan[/i].`
Gadis itu tahu kalau sang adik tidak berbohong, tetapi dalam hati, ia marah, kecewa.
Tapi tahukah kau, kalau kata-kata yang diucapkannya tempo lalu—benar adanya?
"Gak usah ngaco, baka. Aku yakin nilaiku jauh lebih bagus dari aku."
Langkah mereka saling bersisian, sesekali diselangi dengan argumen semacam tadi. Si gadis tampak puas, sementara anak laki-laki di sebelahnya terlihat menggerutu akan apa yang dikatakan si anak perempuan. "Nggak, baka, nilaiku pasti jauh lebih bagus dari pada kamu. Lihat nanti."
"Masuk toko itu, dulu, yuk," tangan si gadis ditarik secara tiba-tiba, membuat langkah si gadis limbung sejenak, kaget sementara dirinya tak kuasa memprotes kencang-kencang karena—hei, nanti kalau mereka ditegur, bisa-bisa bikin malu, kan? Sementara si anak lelaki terlihat mengobrol dengan seseorang—perempuan, rasanya, adik kelas (dan gadis itu tidak suka melihatnya, mind you)—si gadis bergerak menuju sektor aksesoris, melihat-lihat berbagai kalung yang dipajang dengan sekali-kali melirik si anak lelaki.
Tidak suka, Kami-sama, tidak suka—
"Pffft—HAHAHAHAHA!" tawanya tak bisa dibendung, keras, terbahak-bahak, sementara beberapa pengunjung menoleh ke arah si gadis dengan tatapan terganggu yang tak digubris. Terlalu asyik tertawa, karena sebuah objek yang mendadak memasuki lingkup penglihatannya beberapa menit lalu, sebuah mata kalung couple yang teronggok di sudut gantungan, nyaris tertutup debu.
"Apaan sih, bikin malu," bisik si anak lelaki, sepupunya, yang mendadak menghampiri, kesal. Konversasinya dengan si adik kelas kelihatannya terputus—dan apakah gadis itu sudah bilang kalau dia menyukainya? "Ketawamu kayak sadako, tahu nggak?"
Tawanya berusaha ditekan, sementara tangannya mengambil mata kalung yang tadi menjadi objek tawanya, menunjukkannya di depan si pemuda. "Ini, 'chi. Lihat. Mirip kita, kan?" Menunjukkan mata kalung dengan display berbalut debu, dengan mata kalung berbentuk puzzle yang bergambar figur laki-laki dan perempuan, dengan perempuan yang memegang suatu tongkat yang memukul si kepala laki-laki, yang menjadikannya tidak populer, tentu—karena mana ada pasangan yang mau membeli semacam ini?
"Nggak, enak aja! Harusnya kebalik, yang pegang tongkat itu anak laki-lakinya," si anak lelaki memprotes, sementara mata kalung itu berpindah tangan. "Harusnya aku yang pukul kamu, baka."
"Terserah!" alih-alih marah, nadanya menunjukkan suatu yang lain, terhibur, gembira. "Pokoknya kayak kita. Aku beli, kamu harus pakai, ya. Harus!" disambarnya mata kalung itu dari tangan si lelaki, dan dengan cekatan menghampiri meja kasir.
Dan tahukah kau, senyumnya terkembang, tanpa bisa gadis itu cegah saat si anak lelaki tidak melihat.
All I know is posessiveness, motives, truth, lie, white lie. The concept of love is foreign; dark; depressing.
Dan mungkin gadis itu tidak mengerti apa yang disebut oleh orang-orang sebagai cinta kasih.
Yang diketahuinya sejak kecil, adalah orang-orang yang berada di dekatnya itu miliknya. Satu-satunya, tak ada yang lain. Tingkahnya mungkin cuek, tak pedulian—tapi siapa yang bisa mengatakan kalau gadis itu, sesungguhnya, peduli juga? Tak pernah ingin diduakan, tak pernah ingin berbagi, posesif. Posesif dengan apa yang dimiliki, dengan apa yang berada di dalam jangkauannya—
—bukankah hal itu... diperbolehkan?
Diliriknya sosok sang sepupu yang sedang menonton televisi. Tak apa, kan, kalau dia merasa... protektif, terhadap sepupunya ini? Dia itu sepupunya, jadi wajar saja kalau gadis itu ingin memonitor walaupun dengan cara diam-diam yang kadang begitu menyusahkan. Dia itu sepupunya, jadi wajar kalau gadis itu ingin si anak laki-laki berhubungan dengan orang yang baik, dengan anak perempuan yang sempurna—mengayomi si sepupu dengan begitu baik tanpa cela sedikitpun, walaupun si gadis sendiri merasa belum ada gadis yang menyamai standarnya dalam daftar `anak-perempuan-yang-dapat-dikencani-oleh-Yoichi`.
Daftarnya sendiri, masih kosong.
"Apa lirik-lirik," suara keluar dari si anak lelaki, menyadari.
"Nggak, nggak lirik-lirik. Ge-er." Jawaban singkat yang diutarakannya, sementara pandangannya menelusup ke leher si pemuda. "Kalung yang dulu kuberikan—mana? Jangan bilang nggak dipakai."
Tangan si anak lelaki merogoh dalam kausnya, menarik sebuah rantai tipis yang bermuara ke satu hal, mata kalung yang mereka temukan di toko dekat sekolah, berbulan-bulan lalu. "Nih, aku pakai. Berisik ah, lagi nonton, juga," pandangan si anak lelaki tetap lekat ke layar televisi, merekam gerak-gerak figur artis yang berada di sana, terlalu tidak menarik bagi si gadis untuk peduli dengan jalan cerita.
"Bagus, deh." Dalam diam, gadis itu tersenyum kecil—senang. Sudut pikirannya berkata bahwa anak lelaki itu melakukannya supaya dirinya berhenti mengomel, tetapi mayoritasnya menganggap dengan kalung tersebut sebagai penanda. Sebagai tanda kekuasaan, cap tak terlihat yang tak bisa hilang—bahwa si anak lelaki itu miliknya, bukan yang lain. Tak ada yang lain. "Yoichi?"
"Anak perempuan yang di toko dulu—siapamu?"
"Bukan siapa-siapa," si anak laki-laki langsung menoleh dengan tatapan tidak suka, terganggu—dan entah kenapa, gadis itu malah senang melihatnya. "Kenapa? Cemburu?"
"Nggak!" Disanggahnya cepat-cepat, sementara tangannya bergerak ke kepala si anak lelaki, tabok. Dia nggak mungkin cemburu—apa juga itu cemburu. Gadis itu tidak pernah mengerti apa maksudnya, tak pernah mencari pula karena tak merasa hal itu penting, walaupun mungkin, mungkin, dia memang pernah mengalami. "Cuma tanya. Kamu sendiri, masih belum punya pacar?"
"Nggak. Apa sih! Berisik. Kusumpal nih, mulutmu," mengancam, si anak lelaki itu, sementara si gadis hanya menaikkan sebelah alis, bersikap menantang. "Kamu sendiri juga nggak punya pacar, baka."
"Biarin. Emangnya bedanya apa, aku punya pacar atau nggak? Sama aja."
Si anak lelaki kembali mengalihkan perhatiannya ke layar televisi, kesal, sementara si gadis menunduk di sebelahnya. Senang. Senang karena tak ada orang lain di dekat si sepupu saat ini, senang karena sosok si adik kelas berubah menjadi figur insignifikan yang dapat disingkirkan. Senang karena mereka tak diganggu, karena tak ada sosok orang lain yang mendekati si sepupu.
Miliknya, dan akan begitu terus sampai kapanpun, gadis itu akan mengusahakannya. Gadis itu, pada dasarnya akan melakukan apapun demi si anak lelaki, menjaganya agar tak menjadi milik orang lain selain dirinya. Tak ada lagi, cuma dirinya seorang.
Karena jauh, jauh di dalam hatinya, dia takut kehilangan.
So tell me. Teach me. Make me. In return, you'll be mine. And I, never, ever let go what's mine.
Dari hangatnya Chiasa yang tadi sempat dirangkulnya beberapa saat lalu—yang sudah keburu melesat dan menghilang beserta sosok perempuan separuh baya yang terlihat tak begitu menghargai. Tapi di dalam, gadis itu tak merasa hampa—ada sesuatu yang terasa hangat di dada, mendengar Chiasa meneriakkan kata asing namun entah bagaimana, bermakna. Kata-kata yang jarang sekali diumbar di keluarganya, yang dulu sempat dianggapnya sebagai tak bermakna karena seringnya diumbar oleh orang lain yang mengaku dimabuk perasaan semu.
Sayang.... sudah berapa lama gadis Hanamura itu tidak mendengar kata itu diucapkan oleh orang yang dikenalnya?
Dan gadis itu refleks menoleh, kaget. Suara itu—bass itu, dikenalnya dengan baik, membuat gadis itu secara refleks berkata `apa?` yang tak begitu kentara karena deru angin. Sosok pemuda itu memanggil lagi, kali ini, dengan gestur yang meminta untuk bangkit, mendekat, dan sesaat gadis Hanamura itu ragu.
Tapi ragu itu disingkirkannya, dan gadis itu bangkit—meninggalkan alas kotak-kotak yang sedari tadi didudukinya. Menghampiri si pemuda tersebut dengan senyum tipis tersungging di wajah, yang walaupun begitu tetap sincere, tanpa paksaan. Mendorong ragu, mencoba mengenal lebih dekat—karena semata-mata dorongan impulsif otak yang membuatnya tertarik.
Dan ya, gadis itu posesif, gadis itu tak ingin berbagi, egois—
—tapi boleh, kan, kalau gadis Hanamura itu ingin belajar untuk mencintai? Dan sebagai gantinya, kau akan menjadi miliknya, miliknya sepenuhnya, tanpa dibagi, tanpa membagi. Dilindunginya, dijaganya sepenuh hati, tanpa pamrih, tanpa rengekan yang begitu menyakitkan telinga. Cuma satu hal yang dimintanya, agar kau tak meninggalkannya, itu saja.
—felt like a two-sided coin; different, but inseparable.