Simple, tapi Past Tense.
Mungkin tulisan ini lebih tepat disebut curahan hati ketimbang kritik. Dan benar jika semakin tinggi ekspektasi semakin tinggi pula kekecewaan.
Tentu bangga sekali bisa menjadi mahasiswa Kajian Budaya dan Media di universitas nomer 1 di Indonesia. Universitas berkelas dunia.
Namun ekspektasiku perlahan luntur lantaran melihat kampus lebih peduli soal kursi kantin ketimbang kualitas mahasiswa didiknya. Sepertinya lebih mudah merantai kursi kayu agar tidak diambil dan dipindahkan ke meja yang lain, daripada menghidupkan budaya diskusi yang bisa saja muncul di meja-kursi kantin.
Kulempar pandanganku ke beberapa dosen yang ternyata juga mengecewakan, ketika blio-blio mengisi perkuliahan dengan menceritakan harta duniawinya, dan kenyinyiran yang menyita hampir tigaperempat jam pertemuan, belum lagi dengan mudahnya absen masuk kelas.
Dan sepertinya lebih mudah mengatur tata cara berpakaian mahasiswa; dilarang memakai ini itu, ketimbang mengakomodasi kegiatan kreatif mahasiswa.
Sebagai penutup, ada sepenggal syair bebas yang kutulis sendiri sambil membayangkan sepiring lotek kantin SPS.
“Karena ini hanya curahan hati, jangan harap ada solusi. Solusinya pun masih kucari”.
Salam lotek kantin sps.











