Beda Batasan
Apa jadinya jika seorang Shakespeare ketika di jamannya tidak menciptakan Romeo dan Juliet, dan apa yang mungkin terjadi jika Marah Rusli tidak menuliskan Siti Nurbaya dikertas-kertasnya ? Aku akan tetap sangsi bahwa cinta masih terus ada batasannya tanpa harus ada hadirnya pencipta-pencipta intrik romansa. Naturalistis cinta mampu membuat paradoks antara logika dan negasinya. Lalu untuk apa orang saling mencintai jika terbatas itu ada. Batas yang aku tahu didefinisikan sebagai ketentuan atau hal dalam bentuk dan bidang tertentu yang tidak boleh dilampui atau dilalui, sedangkan orang mencinta tanpa batasan dan keraguan. Jika ada pepatah mengatakan cinta mampu mengalahkan logika, maka secara silogis, batasan menjadi tidak eksis dan tidak ada. Aku tidak mengerti seromantiskah cinta hingga orang rela bunuh diri untuk menunjukkan cintanya, atau seironiskahnya cinta dimana banyak orang rela merubah dirinya hanya demi cinta. Aristoteles menemukan bentuk nyata cinta dimulai dengan mendefinisikan keindahan dan rasa (Aesthetics) dari proses meniru (mimata) dan seni, lalu dimanakah seharunya kita meletakkan cinta untuk mencintai dan posisi cinta untuk dicintai. Dengan intrik dan problematika cinta akhirnya orang mulai mendefinisikan cinta dengan persepsi mereka, bahkan secara hermeneutika banyak literatur yang secara implisit menguraikan definisi cinta agar menstimulasi orang untuk mencari cinta secara defenitif. Tetapi lagi orang akhirnya sadar bahwa cinta adalah bentuk yang tidak terdefinisi, sehingga ukuran cinta menjadi absurd ketika orang lain sadar bahwa mencintai bukan bentuk melainkan sebuah tanda. Akankah aku bersama orang lain terkurung dalam bentuk mencinta, bentuk yang direalisasikan, terlihat seperti benda yang terdefenisi atau memang seharusnya cinta tidak perlu dipikir tetapi hanya dirasakan?
Aku mungkin satu dari beberapa orang yang pernah menanyakan hal yang sama; Dimanakah letak cinta jika cinta dirasakan dan berada di hati? Aku tidak pernah setuju dengan proses deskripsi cinta yang merujuk pada ke-tidak logis-an. Bagiku cinta itu nyata, bisa dijelaskan, dirasakan juga mungkin, bahkan mampu dipikirkan. Apa bedanya aku mencintai orang tua, aku mencintai Tuhan dan aku mencintai pasanganku? Ketika aku mengajukan pertanyaan seperti ini kepada orang lain mungkin ucapan pertama yang muncul adalah : “ya bedalah!” , dan akhirnya keraguanku bahwa mencinta tidak ada batasnya ternyata benar. Manusia memberi sekat, sebuah pembeda sendiri agar memiliki batasan mencinta, apakah aku sadar bahwa selama ini cinta begitu diskriminatif? Sangat pemilih? Tidak memihak? Egois? Aku sadar bahwa kadang menulis soal cinta seperti sedang mencari sebuah koin di dalam kolam renang. Bisa ditemukan, tapi membutuhkan proses dan waktu. Aku hanya kecewa dengan orang yang mengatas namakan cinta, tetapi mereka menolak cinta mereka; Orang berbondong-bondong menikah hanya untuk alasan cerai jika tidak cinta lagi, orang mencinta diukur dari cintanya mereka pada Tuhan yang sama, orang ingin dicintai karena ada alasan mencinta yang logis tapi mereka bersembunyi di dalam kotak yang bertuliskan tidak cinta. Adakah solusi lain ketika cinta itu tidak ada batasan? Apakah takut menghancurkan tembok disekitar paradigma cinta agar batasan cinta runtuh? Apakah mencintai Tuhan harus dengan batasan dan ada faktor pembedanya? Entah dengan cara apalagi menjelaskan dan menyelaraskan bahwa cinta bukan berada di HATI tetapi berada di OTAK. Neuroscience, Psychological, Humanistic and Philosophy sudah mampu menjelaskan kenapa-mengapa kita bisa menangis, perih dan sakit ketika berhadapan dengan cinta. Seaindainya saja orang mau menutup dan menitipkan tutupnya pada orang lain tanpa harus menitip agar ditutup terlebih dahulu maka proses dan skema mencintai terlihat menjadi sebuah tanda bukan bentuk.















