Bukan Membesarkan tapi Membenarkan
Orang benar dilarang takut. Ingat itu. - Fiersa Besari -
Yak itu adalah kata-kata Bung di salah satu obrolan kami, masih saya kasih credit loh ya. Gapapa sih biar keren aja gitu, sekalian pengingat bahwa apa pun yang menjadi karya dan memang bukan kepemilikan pribadi tidak sepantasnya diakui, kecuali udah sah dengan ijab qobul menjadi kepemilikan (?) jayus astagfirullah >.<
Prakata doang kok tadi, akan panjang ini tulisan, tapi ya namanya blabbering bebaskan saja dan mari langsung~
Jadi gini, inget engga kalo saya pernah post tentang plagiarisme? Apa perlu dicantumin lagi linknya? Hehe. Eh tapi bulan puasa deng, ntar memancing kontroversi lagi. Mending gausah dicantumin, tapi kalo mau stalk mah monggo *ehgmn
Postingan ini adalah hasil dari kelanjutan masalah tersebut, iya seperti yang saya bilang sebelumnya kalo saya memang akan memroses masalah ini sampai dengan ada solusinya. Karena saya tidak mau kalo kejadian ini berulang, at least ini bisa jadi pelajaran.
Diam tidak selamanya emas. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Ketika kamu tahu ada yang salah, diam bukan jadi solusi. Justru kamu harus bersuara untuk membenarkannya.
Kasarnya gini, orang salah tuh bukan cuma pelakunya aja. Tapi orang-orang yang tau kalo ada orang lain yang melakukan kesalahan tapi didiemin aja. Buat saya, itu juga salah. Mau berpendapat lain? Sok monggo, silakan.
Sebelumnya, mungkin ada beberapa orang yang berkata saya seharusnya menegur terlebih dahulu, jangan dipublik negurnya, engga perlu dibesar-besarkan dan blablablabla. Please, jangan berkata demikian sebelum kalian konfirmasi dulu ke saya. Saya jelas sudah menegur dengan halus langsung ke orang tersebut sebelum saya memosting tulisan saya tersebut, tapi apa yang saya dapat? Saya diblock, teman-teman saya yang berusaha menegur juga diblock (karena yang diplagiat bukan hanya tulisan saya), akun Instagram yang bersangkutan seketika diprivate, kolom komen di akun line@ nya juga dinonaktifkan. So, akses saya untuk menghubungi pemilik akun tersebut memang tidak ada.
Dan saya memilih memosting hal tersebut sekalian jadi pelajaran untuk orang-orang yang memfollow saya agar tidak melakukan hal serupa, bahwa akan ada konsekuensi terhadap akun-akun yang masih dengan sengaja melakukan kegiatan seperti ini dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa dikomersilkan. Pun niat saya menuliskan hal itu juga bukan untuk membesarkan, tapi membenarkan apa yang menurut saya salah. Jelas salahlah kalo ambil kepemilikan orang tanpa izin trus abis itu dijadikan media untuk mendapat keuntungan. Itu rejekinya? Itu keberuntungannya? Saya tahu betul rejeki sudah ada yang mengatur, tapi bukan berarti dengan cara yang tidak benar, kan? Well, you can blame me for my opinion, beda pendapat itu sah kok, sans lah~
Mennnn, ide tuh mahal, even ide bertebaran dimana-mana dan akan ada yang bilang kesamaan ide pasti bisa terjadi. Tapi buat saya, memplagiasi karya orang lain, mau itu secuil, sejumput bahkan dengan keterlaluannya dari awal sampe akhir dicopas tanpa ada tambahan apa-apa ya itu salah dan saya berhak memperjuangkan hak saya. Engga semua orang ketika karyanya diambil akan mau berkarya lagi, ada yang sehabis itu males karena merasa doi engga punya power apa-apa lagi.
Balik ke inti pembahasan, saya dan 9 orang kawan saya lainnya, yaitu:
@karenapuisiituindah, @kunamaibintangitunamamu, @estehmanistanpagula, @kolaborasirasa, @biashujan, @katadevi, @namarappucino, @elsasyefira, @giovannieldi
yang menemukan tulisan kami memang dicopas dalam buku tersebut sepakat untuk mengajukan tuntutan berupa:
Penarikan buku dari pasar karena 20% isi buku adalah copas (yang baru ketauan cyin),
permohonan maaf di seluruh akun media sosial pelaku,
pemberian ganti rugi terkait tulisan yang dicopas, serta
penghapusan seluruh materi dalam instagram dan line@ yang merupakan hasil copas.
Masalah ini memang pure antara si pemilik akun tersebut dengan kami, sekali lagi saya tekankan ya bahwa antara si pemilik akun dengan kami, bukan dengan pihak penerbit. Karena jelas di dalam kontrak SPPB dan SPPE sudah ada pasal yang mengharuskan karya adalah kepemilikan penulis asli atau orisinal. Penerbit di sini hanyalah sebagai mediator untuk mempertemukan kami dengan pemilik akun tersebut dan menjembatani kami menyelesaikan masalah ini. Saya dan teman-teman berterima kasih untuk tim penerbit, tentunya.
Dan lalu di tanggal 5 Juni 2017 lalu masalahnya sudah resmi usai dengan kesepakatan:
Permohonan maaf dari pihak yang melakukan kesalahan di seluruh akun media sosialnya, baik pribadi maupun akun statusmantan yang lama dan atau yang baru (ya, akun yang lama dijual),
pengembalian uang muka royalti kepada penerbit,
pengembalian hak penulis berupa royalti 10% kepada pihak penerbit,
buku tersebut tidak akan dicetak ulang,
dan nama statusmantan tidak diperbolehkan untuk menerbitkan buku lagi di Transmedia.
Ya, memang tidak sesuai dengan tuntutan kami, mungkin juga membuat kami merasa tidak puas, tapi nampaknya itu adalah hasil terbaik, solusi terbaik atas masalah ini.
Intinya aja sih, saya pribadi memang bukan penulis, apalagi penulis besar. Saya hanyalah seseorang yang suka menulis dan berkarya di mana saja, tapi saya tidak pernah akan tinggal diam jika karya saya diambil orang seenaknya dengan tanpa izin resmi dari saya sebagai pemilik konten, lalu karya saya tersebut dimodifikasi serta dikomersilkannya.
Saya kasih contoh deh, sahabat saya yang saya temui di tumblr ini, yaitu @aksarannyta, meminta izin kepada saya untuk menggunakan secuil kalimat saya di caption Instagram untuk kemudian dia modifikasi dan dia masukkan dalam bukunya. Saya marah? Tidak tentu saja, karena dia sepenuhnya sudah meminta izin saya. Gini loh ya, setidaknya hargai hasil ide atau karya orang lain dengan tidak menggunakan tanpa izin dan mengakui karya tersebut sebagai kepemilikan. Apa sih susahnya mencantumkan credit? Atau lebih gampangnya, minta izin aja deh, segitu susahnya?
Padahal kalo di Instagram jelas loh term of use-nya, “people on Instagram may not post copyrighted content on Instagram unless they own or are allowed to post the copyrighted content.”
Akhir kata, saya ingin meminjam dan saya setuju dengan pernyataan mas @/danartriatmojo di instastories beliau terkait penggunaan konten kepemilikannya oleh salah satu akun di Instagram dan memodifikasi dengan menggunakan watermark dan teks tanpa izin resmi dari mas Danar langsung,
“Yes they do credits. Tapi yang ga bisa diterima adalah tanpa seizin dan memodifikasi. Mungkin banyak kasus yang kemudian pemiliki tidak bertindak atas kejadian2 seperti ini. Dan mungkin juga ada yang berfikir “selama di credits” ga masalah. Kalau dibiarkan, oknum-oknum seperti ini bakalan semena-mena dan tetap melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Buat teman-teman yang mengalami hal yang sama, jangan tinggal diam jika mengalami hal kayak gini. Kejar dan minta pertanggung jawaban yang setimpal. Jangan tinggal diam kalo karya kalian mulai tidak dihargai. Please jangan komen “Kalo ga mau di repost atau di colong ga usah di upload” Kita bernaung di satu atap internet yg sama, dan ada manner, attitude didalamnya. Ga membenarkan lo bisa pakai dan memodifikasi seenaknya”
Jadi, berkaryalah dengan jujur, karena setiap karya akan selalu memiliki penikmatnya. Jangan pernah berhenti berkarya dan menghargai karya! :)