Haruskah Beragama untuk Ber-Tuhan?
Saya adalah orang yang tidak percaya dengan kebetulan. Jika sesuatu hal yang tidak terduga terjadi, orang-orang atheis meyakini bahwa hal tak terduga tersebut adalah suatu kebetulan yang terjadi secara acak. Bagi saya, hal tersebut terjadi karena kehendak Tuhan. Mengapa? Karena kebetulan-kebetulan tersebut terlalu presisi untuk dapat terjadi secara acak. Saya yakin hal tersebut terjadi berdasarkan rencana Tuhan. Namun, keyakinan saya terhadap Tuhan tersebut sering kali dibantah dengan menyerang kekurangan pada agama. Contohnya, ketika pernyataan pada kitab suci agama bertentangan dengan fakta ilmiah, maka dikatakan bahwa pernyataan-pernyataan pada agama tersebut tidak valid yang berujung pada pernyataan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu hal yang fiktif. Tidak saya pungkiri bahwa memang pada agama terdapat beberapa “lubang’ yang membuat kebenaran suatu agama dipertanyakan. Tetapi, apakah keberadaan Tuhan bergantung pada kebenaran agama? Bukankah Tuhan berada di atas segalanya dan tidak bergantung pada apapun? Jadi, walaupun agama salah sekalipun, keberadaan Tuhan sama sekali tidak terpengaruh, bukankah begitu?
“Bagaimana kamu mengetahui Tuhan jika tidak melalui agama?”. Bukankah itu pernyataan yang merendahkan Tuhan? Seakan-akan Tuhan hanyalah atribut agama, seakan-akan keberadaan Tuhan didikte oleh agama, seakan-akan tanpa ada agama maka keberadaan Tuhan itu tidak ada.
Pertanyaan tersebut mengingatkan pada pilihan Saya saat masih SD dulu. Dulu saat SD, dengan tegas Saya memilih untuk menjadi agnostik, percaya pada Tuhan namun tidak percaya pada agama. Pilihan tersebut lahir dari pengamatan Saya bahwa setiap agama memiliki “lubang” yang menimbulkan keraguan bagi saya dalam beragama. Namun kemudian seseorang berkata kepada Saya, “Bagaimana kamu mengetahui Tuhan jika tidak melalui agama?”. Awalnya, Saya mengiyakan pernyataan tersebut, namun kemudian Saya berpikir, bukankah itu pernyataan yang merendahkan Tuhan? Seakan-akan Tuhan hanyalah atribut agama, seakan-akan keberadaan Tuhan didikte oleh agama, seakan-akan tanpa ada agama maka keberadaan Tuhan itu tidak ada. Bagi Saya, itu tidak benar. Jika Tuhan diibaratkan sebagai suatu tempat, maka agama adalah jalan yang dibuat pendahulu kita untuk menuju ke Sana. Jalan agama tersebut pun tidak selalu sesuai dengan semua orang, mungkin ada jalan yang dekat namun sangat sulit untuk dilalui atau mungkin ada jalan yang mudah dilalui namun sangat jauh jaraknya yang harus ditempuh, tergantung mana jalan yang dianggap lebih sesuai oleh diri kita masing-masing. Apakah tanpa jalan tersebut kita tidak bisa menuju Tuhan? Tentu saja bisa, kita bisa melalui jalur lain di luar jalan-jalan tersebut yang bisa jadi lebih sesuai untuk diri kita. Jika semua jalan itu hilang, apakah Tempat tersebut ikut hilang? Tentu saja tidak, keberadaan jalan tidak mempengaruhi keberadaan Tempat, keberadaan agama tidak mempengaruhi keberadaan Tuhan. Tuhan akan selalu ada sekalipun keberadaan semua agama hilang dari dunia ini. Kita tidak harus beragama untuk bisa ber-Tuhan, apalagi jika agama tersebut memiliki “lubang” yang berdampak negatif bagi kehidupan.








