As the night ends with a nice dessert Our lips tremble, blowing out 'good bye' As your gaze shines with a lot of hurt Our kiss rumbles, longing for someday

Discoholic 🪩
Peter Solarz
One Nice Bug Per Day
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA

pixel skylines
Noah Kahan
hello vonnie
h
wallacepolsom

blake kathryn
Lint Roller? I Barely Know Her
tumblr dot com

★
d e v o n
untitled
art blog(derogatory)

#extradirty

oozey mess

No title available
seen from Netherlands

seen from Germany
seen from Taiwan
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
@rainindra
As the night ends with a nice dessert Our lips tremble, blowing out 'good bye' As your gaze shines with a lot of hurt Our kiss rumbles, longing for someday
Tiap agama berbeda namun intinya sama-sama mengajarkan bahwa di dalam diri manusia terdapat sifat kehewanan dan sifat keilahian, maka minimalkanlah sifat kehewanan tersebut dan maksimalkanlah sifat keilahian tersebut untuk mewujudkan dua buah tujuan, yaitu bermanfaat bagi dunia dan kembali kepada Sang Ilahi.
Monologi Persepsi
Parasut
Dulu, aku pagar di tepian jurang, tapi kau robohkan aku karena kau ingin terjun ke dalam jurang. Lalu, aku jaring di dalam jurang, tapi kau koyak aku karena kau ingin jatuh ke dasar jurang. Kini, aku parasut di punggungmu, memastikan kau jatuh ke dasar jurang dengan selamat, itupun jika kau izinkan, karena parasut hanya terbuka jika tuasnya kau tarik.
Haruskah Beragama untuk Ber-Tuhan?
Saya adalah orang yang tidak percaya dengan kebetulan. Jika sesuatu hal yang tidak terduga terjadi, orang-orang atheis meyakini bahwa hal tak terduga tersebut adalah suatu kebetulan yang terjadi secara acak. Bagi saya, hal tersebut terjadi karena kehendak Tuhan. Mengapa? Karena kebetulan-kebetulan tersebut terlalu presisi untuk dapat terjadi secara acak. Saya yakin hal tersebut terjadi berdasarkan rencana Tuhan. Namun, keyakinan saya terhadap Tuhan tersebut sering kali dibantah dengan menyerang kekurangan pada agama. Contohnya, ketika pernyataan pada kitab suci agama bertentangan dengan fakta ilmiah, maka dikatakan bahwa pernyataan-pernyataan pada agama tersebut tidak valid yang berujung pada pernyataan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu hal yang fiktif. Tidak saya pungkiri bahwa memang pada agama terdapat beberapa “lubang’ yang membuat kebenaran suatu agama dipertanyakan. Tetapi, apakah keberadaan Tuhan bergantung pada kebenaran agama? Bukankah Tuhan berada di atas segalanya dan tidak bergantung pada apapun? Jadi, walaupun agama salah sekalipun, keberadaan Tuhan sama sekali tidak terpengaruh, bukankah begitu?
“Bagaimana kamu mengetahui Tuhan jika tidak melalui agama?”. Bukankah itu pernyataan yang merendahkan Tuhan? Seakan-akan Tuhan hanyalah atribut agama, seakan-akan keberadaan Tuhan didikte oleh agama, seakan-akan tanpa ada agama maka keberadaan Tuhan itu tidak ada.
Pertanyaan tersebut mengingatkan pada pilihan Saya saat masih SD dulu. Dulu saat SD, dengan tegas Saya memilih untuk menjadi agnostik, percaya pada Tuhan namun tidak percaya pada agama. Pilihan tersebut lahir dari pengamatan Saya bahwa setiap agama memiliki “lubang” yang menimbulkan keraguan bagi saya dalam beragama. Namun kemudian seseorang berkata kepada Saya, “Bagaimana kamu mengetahui Tuhan jika tidak melalui agama?”. Awalnya, Saya mengiyakan pernyataan tersebut, namun kemudian Saya berpikir, bukankah itu pernyataan yang merendahkan Tuhan? Seakan-akan Tuhan hanyalah atribut agama, seakan-akan keberadaan Tuhan didikte oleh agama, seakan-akan tanpa ada agama maka keberadaan Tuhan itu tidak ada. Bagi Saya, itu tidak benar. Jika Tuhan diibaratkan sebagai suatu tempat, maka agama adalah jalan yang dibuat pendahulu kita untuk menuju ke Sana. Jalan agama tersebut pun tidak selalu sesuai dengan semua orang, mungkin ada jalan yang dekat namun sangat sulit untuk dilalui atau mungkin ada jalan yang mudah dilalui namun sangat jauh jaraknya yang harus ditempuh, tergantung mana jalan yang dianggap lebih sesuai oleh diri kita masing-masing. Apakah tanpa jalan tersebut kita tidak bisa menuju Tuhan? Tentu saja bisa, kita bisa melalui jalur lain di luar jalan-jalan tersebut yang bisa jadi lebih sesuai untuk diri kita. Jika semua jalan itu hilang, apakah Tempat tersebut ikut hilang? Tentu saja tidak, keberadaan jalan tidak mempengaruhi keberadaan Tempat, keberadaan agama tidak mempengaruhi keberadaan Tuhan. Tuhan akan selalu ada sekalipun keberadaan semua agama hilang dari dunia ini. Kita tidak harus beragama untuk bisa ber-Tuhan, apalagi jika agama tersebut memiliki “lubang” yang berdampak negatif bagi kehidupan.
Take a moment to think of just, flexibility, love, and trust
(via https://www.youtube.com/watch?v=dHg50mdODFM)
Tempat Yang Indah
by: Classmate Journal
mungkin dengan kau diam sejenak kau mulai merasa mungkin dengan kau tutup telinga kau mulai mendengar mungkin dengan kau pejamkan mata kau mulai melihat apa yang ada di sekitar kita
coba dengarkan suara – suara yang berbicara ingat setiap kata – kata tanpa ada prasangka mungkin dengan jatuh terinjak, kau mulai bergerak ke tempat yang indah,
reff :
Coba cari, jangan lari, masih ada hari ketahui, tempat pasti, untuk-mu berdiri karena ada ruang bagimu yang mencari di tempat yang indah
Perlahankan laju pikirmu, agar jelas semua tanda di depanmu Percaya waktu yang akan membawamu, hingga lelah tak lagi menganggu
Bridge :
Pejamkan mata ‘tuk melihat Bebaskan dirimu melayang
Kita
Mungkin kita jodoh yang bertemu pada ruang dan waktu yang salah. Atau mungkin, kita tidak berjodoh sama sekali. Hanya dua insan yang tak sengaja saling menatap, mengisyaratkan rona kesunyian, lalu berpaling kembali pada jalannya masing-masing. Entahlah, jalani saja hidup kita masing-masing. Meniscayakan segala citamu dan citaku hingga suatu hari takdir ikhlas, ikhlas menyingkap selubungnya.
Penderitaan dan Kualitas Hidup
Setelah membaca artikel "You probably know to ask yourself, “What do I want?” Here’s a way better question" (http://qz.com/584874) yang di-share teman saya, saya menarik kesimpulan bahwa kualitas hidup kita ditentukan oleh penderitaan apa yg mau kita jalani. Banyak orang yang mempunyai keinginan untuk memiliki hidup yang berkualitas tetapi tidak mau menjalani penderitaan yg diperlukan untuk mewujudkannya. Misalnya, ingin keuangan yg stabil tapi tidak mau menanggung penderitaan dari rutinitas pekerjaan, atau ingin fisik yg bagus tapi tidak mau menanggung penderitaan berolahraga. Akan selalu ada penderitaan yang harus dijalani untuk mewujudkan suatu kualitas hidup yang kita inginkan. Jadi, apakah penderitaan yg mau kita jalani sudah sesuai dengan kualitas hidup yg kita inginkan?
Hidup
Hidup. Hidup terus berputar, bagaikan planet yang berotasi ataupun gangsing yang menari. Setiap perputaran hidup akan bertemu perputaran hidup lainnya. Pertemuan tersebut akan menyebabkan gesekan yang mengikis, mengasah, dan membentuk pribadi dari hidup-hidup tersebut. Semakin dekat suatu pertemuan, maka semakin kuat pula gesekannya. Semakin kuat gesekannya, maka semakin besar perubahan yang terjadi. Pertemuanmu dengan hidup lain yang menentukan bentukmu. Maka bertemulah dengan hidup yang tepat untuk menjadi bentuk yang tepat.
Mengapa terobsesi dengan kebebasan?
Mungkin memang siklusnya begitu. Dahulu manusia hidup dengan sangat bebas, bahkan bebas berbuat jahat. Maka manusia terobsesi untuk mengatur dengan aturan untuk membatasi kebebasan tersebut agar tercegah terjadinya perbuatan jahat. Seiring berjalannya waktu, aturan tersebut semakin banyak dan semakin terbatas kebebasan manusia, bahkan kebebasan yang tidak jahatpun juga terbatasi. Maka dari itu, kini manusia sangat terobsesi untuk menghapus aturan² agar kebebasannya tidak terbatasi. Dalam jangka waktu panjang, maka kebebasan mutlak pun akan terjadi dan kehidupan manusia kembali seperti dahulu lagi. Mungkin saat ini memang kita sedang kembali menuju ke keadaan dahulu kala. Mungkin kita sedang berada pada masa ketika manusia berusaha kembali ke ketidakberadaban. Atau mungkin ini hanya kekhawatiran berlebihan semata.
Indra-indra
Dulu kita diajarkan untuk bisa mengendalikan indra-indra pada diri kita agar tidak liar, sekarang kita didoktrin untuk memuaskan indra-indra kita seliar-liarnya.
live @ pharcyde studio Bunga Di Telinga (Accoustic Ver.) by Noh Salleh
Menyikapi Situasi Buruk
Malam ini saya ke sekretariat unit kegiatan di kampus karena ada latihan. Semestinya latihan dimulai pukul 18.00 WIB, tetapi latihan tertunda karena mati listrik. Sekretariat menjadi gelap sehingga tidak dapat dipakai untuk latihan dan hampir semua anggota keluar dari gedung. Pada kejadian ini, saya menyaksikan suatu hal yang menarik. Hal yang menarik itu adalah bagaimana cara seseorang dalam menyikapi situasi buruk.
Hal menarik pertama terjadi ketika saya masuk ke dalam sekretariat. Keadaan gelap gulita dan hanya ada cahaya laptop sehingga sulit untuk melihat sekitar. Masih ada beberapa orang di dalam sekretariat. Yang membuat saya tercengang adalah
walaupun keadaan gelap gulita, orang-orang tersebut tetap menjalankan latihan seperti biasa!
Mereka menyikapi keadaan tersebut dengan beradaptasi dan menjadi terbiasa dengan situasi buruk tersebut.
Hal menarik kedua terjadi ketika saya keluar dari sekretariat dan melalui lorong yang gelap. Teman saya berdiri di salah satu sisi lorong dan sedang mengutak-atik saklar lampu. Ternyata mati listrik tersebut disebabkan konslet pada saklar lampu tersebut dan dia sedang berusaha memperbaikinya. Usahanya tersebut mendapat komentar negatif dari teman lain yang intinya berkata jangan sok tahu, nanti malah tambah rusak. Dan apa yang dia lakukan?
walaupun mendapat komentar negatif, dia tetap berusaha memperbaikinya dan akhirnya berhasil!
Dia menyikapi keadaan tersebut dengan tidak menyerah pada keadaan dan berusaha memperbaiki situasi buruk tersebut.
Akhirnya listrik kembali menyala dan semua anggota dapat melanjutkan latihan.
Dalam hidup ini kita pasti akan menemui situasi yang buruk. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa ada 2 hal yang biasa orang lakukan untuk menyikapi situasi buruk tersebut:
Beradaptasi dengan situasi buruk tersebut, atau
Berusaha memperbaiki situasi buruk tersebut
Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang akan kita lakukan dalam menyikapi situasi yang buruk?
Pilihan ada di tangan kita, ingin menjadi terbiasa dengan keadaan buruk atau tidak menyerah dengan keadaan buruk tersebut dan menjadikannya lebih baik.
Afternoon at Cisitu, Bandung
Tim Yang Kuat
Seorang teman berkata:
"hargai tim lo sebagai teman lo, jangan cuma ngobrol soal kerjaan, care for their life tapi hargai juga privasi"
Intinya, kita harus memperlakukan anggota tim kita sebagai seorang teman karena tim yang kuat adalah tim yang dipersatukan dengan ikatan pertemanan. Jika hanya karena ikatan pekerjaan/tugas, seseorang bisa pergi ketika tim menghadapi masalah yang sulit. Tetapi sebagai teman, anggota tim kita akan selalu ada walau menghadapi masalah seperti apapun.
Protect Jungle by Dialog Dini Hari Let's save EARTH'S LUNGS!