koko krunch
yang putih masih lebih enak seperti biasanya, cuma mengunyahnya ngga seberisik biasanya juga. kenapa kok bisa ya aku lebih suka yang putih, padahal aku sukanya warna cokelat. oiya, kadang rasa memang lebih jujur dari apa yang terlihat. makanya katanya jangan terjebak. tapi iya sih, bagaimana ia terlihat masuk penilaian juga. asal ngga lupa aja substansinya dan mana yang didahulukan. koko krunch putih mengesankan, seperti oreo. tapi lama-lama koko krunch melempem emang bisa jadi aneh aja sih rasanya. oreo kalopun melempem dan ancur, enaknya ngga berkurang, kena susu full cream misal, hehe. koko krunch itu kalo melempemnya udah rada parah, ngga dibuang sih, paling dimakan sama ikan. mereka suka. kalo melempemnya masih bunyi kalo dipatahin, ada lah sweeper makanan sisa di rumah. iya, ngga tau kenapa suka “gapapa, ada teteh ‘kan” kata mereka. aduh apaansi teks ini wkwk
mau deh tetep berguna, bermakna, dan manis walaupun udah melempem. abah selalu banyak belajar, menyampaikan, dan mengobrol dalam rangka “nanti kalau memang Allaah kasih umurnya panjang, ya harus persiapan, dong? gimana supaya tetep bisa menanggapi isu masa itu, tetap bisa menjawab kebutuhan zaman, bisa ditanya-tanya sama orang-orang. tuanya berguna, ngga diem aja”. iya kalo sendiri susah. mungkin kalau bisa bicara, koko krunch bakal bilang minta tolong supaya dia ditaro di toples yang rapat. walau tau bakal expired, seengganya di masa-masa yang ada, bisa lah hadir dengan performa terbaik yang bisa diusahakan.
jadi ingat, survei random tentang negara yang ingin dikunjungi selain untuk berhaji, abah ngga jawab karena bingung. tapi kalau bicara persiapan sekian abad yang akan datang, abah (selalu) bisa menjawab. Allaah memang Maha Memampukan.
ya biasalah ya coba ada berapa gagasan di teks di atas?













