Luka Itu 'Harum' Bawang
Aku melihat darahnya bersebar di lantai tangga pasar dan bertanya-tanya, apakah bumi sedang mens ataukah Tuhan sedang mengiris bawang di langit kelima?
Ada seorang ibu. Atau seorang nenek. Atau mungkin bukan seorang ibu atau nenek. Mungkin ia hanya sebuah jam dinding yang terus berdetak di sudut kios, tapi lupa cara menunjukkan waktu yang benar. Ia tergelincir di antara harga dan kebutuhan, atau apa pun yang melatarbelakangi, lantas mencuri dua kilogram bawang putih diam-diam.
Dan pasar, oh pasar. Mimbar paling demokratis yang pernah diciptakan manusia selain kolom komentar YouTube, bergejolak. Sontak menjadi ruang sidang.
Para hakim tak berjubah, hanya bersendal jepit, menggenggam keadilan dalam bentuk pukulan. Mereka tak menyebut nama Tuhan, tapi menyebut harga. Sembilan puluh ribu.
Itu harga satu dosa dan satu jilbab berlumur darah.
Murah. Terlalu murah untuk nyawa yang tak mereka bunuh tapi mereka kuliti perlahan. Apakah itu amal? Apakah itu dosa? Ataukah hanya apa rusak dari peradaban yang kelelahan jadi manusia?
Pasar kita bukan sekadar tempat jual-beli lagi. Ia sudah berubah menjadi altar kurban. Dan yang dikorbankan? Siapa pun yang tak cukup kuat menawar harga hidup. Siapa pun yang lambat. Siapa pun yang lapar. Siapa pun yang tak punya kupon diskon dari dunia ini.
Aku pernah dengar bahwa cinta bisa menyelamatkan dunia. Tapi di sini, yang menyelamatkan hanyalah viralitas dan caption sepanjang empati dua ratus karakter. Sedang sisanya dibiarkan busuk seperti sisa cabai di karung belakang.
Kenapa tak kita berikan saja nenek itu dua kilo bawang dan segenggam pelukan? Atau setidaknya, setetes martabat?
Tapi mungkin aku memang naif. Mungkin darah di pasar memang jadi bagian dari promo bulanan. “Setiap penggasakan minimal dua kilo kebutuhan, gratis satu kepala berdarah, minimal lebam.”
Sekarang, aku mencium bau bawang itu di notifikasi, di mimpi-mimpi burukku. Tapi aku tak menangis karena asamnya yang menguar menyentuh bola mataku. Aku menangis karena aku merasa, kita semua, tanpa sadar ikut mengirisnya.








