𝘉𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪
𝘋𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘢𝘴𝘪,
𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺.

seen from United States
seen from Taiwan

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Canada
seen from South Korea
seen from United States
seen from Spain

seen from Netherlands
seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Spain
𝘉𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪
𝘋𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘢𝘴𝘪,
𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺.
Ada orang,
yang seumur hidupnya hanya tahu cara berlari dan pergi.
Seolah tak ada pemberhentian.
Ia terus bergerak,
menjauh dari apapun
yang bisa mengikat.
Menghindari perasaan berumah,
ia terus berjalan,
bukan untuk mencari
apalagi menemukan,
hanya untuk menjauh
dari apa yang terlalu dekat.
Hingga pada akhirnya, yang masih dirindukan hanyalah tertawa bersama sembari saling berkeluh kesah. Meski pada akhirnya saling lupa dan kemudian tenggelam di cerita yang berbeda.
52. Bersembunyi dibalik Kata
Bahwa ternyata, yang ada dipelupuk mata bukan hanya impian, tapi berbagai macam peliknya kehidupan.
Pagi, sudah tidak menceritakan tentang kabar seseorang yang pergi. Segala yang timbul saat mentari menyapa adalah rasa “kemana harusnya aku mencari berbagai bentuk jawaban dari semua ini”.
Mungkin hidup berjalan bukan hanya tentang kita sampai atau telah menemukan. Tapi, tentang kemana arah dan tuju perpadu pada satu-satunya pemberhentian dan pengabul segala harapan.
Duka yang mendewasakan
Luka yang mendewasakan
Matahari memilih bersembunyi dibalik awan, mengintip dan bertanya tentang sejauh mana memoar rasa telah menghanyutkan kenyataan yang harusnya dijalani bukan dibiarkan lari?
Begitu lucu, saat kenyataan mengatakan tentang menjalani hidup memang tidak memerlukan arah yang jelas-jelas bisa dibaca oleh mata. Kita dituntut mencari jalan sesuai arahan pemilik semesta. Kemudian cerita dari Dia membuat kita berjalan sesuai dengan yang Dia tuliskan. Bertemu dengan persimpangan, berhenti di tempat yang sunyi atau justru menemukan jalan yang tidak pernah diduga akan dilalui.
Semua begitu tidak mudah pahami.
Akan ada, sesuatu yang ditemukan. Entah beban atau hadiah dari Tuhan. Semua itu akan diterima dengan sebaik-baik waktu dan ketepatan.
Yang dipahami dari perasaan ingin berlari adalah aku ingin mengetahui tentang jalan cerita selanjutnya.
Pundak yang kecil ini sudah menampung begitu banyak beban. Aku jadi teringat, bagaimana dengan baiknya ayah menyembunyikan duka, luka dan beban dari tangis berubah tawa. Aku tidak pernah membayangkan, betapa terlukanya perasaan tidak bisa mendapatkan untuk membuat yang dicintai tersenyum lebar.
Allah tahu, aku mampu. Maka dari itu, jalan yang terlalui dibuat demikian. Kehilangan satu pintu surga, harus merawat pintu yang lain supaya tetap mendapat rahmat dari-Nya.
Hidup ini terlalu lucu bila hanya menginginkan hal yang sama dari makhluk-Nya terjadi pada kita. Meskipun penulisnya sama, tapi kemampuan menerima cerita dan pengalaman pahit adalah bentuk dari kepercayaan Allah pada kita. Kita adalah hamba yang kuat, maka dari itu jalannya dibuat tak sama.
Yang perlu kita pahami hanya, tetaplah berjalan meskipun jalan yang kamu lalui bukan jalan yang kamu inginkan. Ada sesuatu yang menantimu di depan.
Dalam Hati yang Gundah Gulana
6 September 2020
Berlari untuk menjauh
Mencoba tegar, meski terkadang bayangmu terlintas dibenakku.
Mencoba menahan, agar air mata tak menetes dari mataku.
Untukku kau pernah ada, hingga akhirnya menghilang tanpa jejak dan kata.
Wujudmu terpampang nyata,
Hanya saja sebatas bersama dengan kesamaan satu jalur pencapaian tetapi berbeda tujuan.
Bahkan kau tengkok pun tidak.
Apalagi memperhatikan seperti dulu.
Sebenarnya egomu atau egoku yang terlalu tinggi?
Dulu, setiap detik kau mencariku, bahkan ketika aku sengaja menghilang, kau masih mencariku.
Dulu kukatakan "berhenti mencariku, sehari saja?! Tidak bisa kah? " kini aku yang bertanya "di mana seseorang yang dulu selalu menyebut namaku?"
Dulu kau kuanggap pengganggu, dan saat aku mulai terbiasa kini kau meninggalkanku.
Dengan penuh penyesalan. Aku berlari menjauh memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja.
Yang nyatanya di balik persona yang ku tunjukkan, ada bayangan yang menginginkan ku berlari tuk mendekat. Dan berkata "aku sedang tidak baik-baik saja".
Malang 14 feb 2020.
Agité
Aku pun masih heran. Hendak kemana perginya ia. Berlari tanpa arah tujuan. Kadang berjalan. Bahkan berhenti ketika ia letih, sembari merenung.
Ingin menyapa dan sekedar bertanya, tapi sudahlah. Aku rasa ia tak ingin diganggu. Wajahnya penuh kerut dan pikirnya terlihat melayang. Pandangannya pun kosong.
Hatinya mati. Tak bisa lagi merasakan apa yang orang lain rasa. Entah karena terlalu lama tak berinteraksi, atau karena rasa letih yang melanda.
Mungkin secangkir teh hangat dapat menyadarkan ia. Mengobati rasa perih yang sepertinya sedang menyelimuti. Menahan luka yang sedang deras berkucuran darah. Dan memberi rasa nyaman sejenak di tengah ramainya lalu lintas pemikirannya.
Namun tak ada yang berani. Karena semua orang menganggapnya kuat. Sudah terbiasa dengan beban hidupnya. Tapi siapa sangka. Tak ada yang tau sekarang arah pikirnya kemana.
Aku mencoba mendekat. Bertanya perihal kondisinya. Karena Aku pun tak yakin dia sedang baik-baik saja.
Sambil merenung dan menatap dengan tatapan sayu, ia mencoba berkata. Ternyata, terlalu lama mencoba mengerti perasaan orang, sampai ia lupa untuk mengerti perasannya sendiri. Terlalu lama mencoba membuat orang lain nyaman, sampai ia lupa menenangkan pikirannya sendiri. Terlalu lama fokus kepada orang lain, sampai ia lupa untuk mencintai dirinya sendiri. Bahkan ia tak tau bagaimana caranya..
Memang terlihat tak logis. Tapi ternyata itu yang sedang melanda dirinya.
Sepintas terlihat baik, berusaha sekuat tenaga untuk kebahagiaan orang lain. Namun ternyata menjadi penyakit ketika diri sendiri pun terzholimi..
Mungkin, tak ada salahnya. Untuk membiarkannya sendiri. Mencoba sendiri dan menyapa kembali hatinya yang telah lama terabaikan. Menanyakan apa inginnya. Mengapa, dan bagaimana caranya untuk bangkit kembali. Tapi sepertinya itu sulit. Jika memang sulit, semoga saja ada orang yang tepat untuk membantunya. Setidaknya kembali menyadarkan bahwa ia cukup berharga..
Atau, jika mungkin aku bisa, sepertinya aku akan. Berjalan bersama, bangkit bersama, dan kembali sadar bersama bahwa masih ada Allah swt., tuhan pencipta kita yang mau mendengar rintihan hati, menjawab ingin hati, dan membelai lembut hati meskipun sekotor apapun pemiliknya..
-رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ-
Hujan pilu
Aku lupa caranya mengenang belakangan ini, lupa caranya tersenyum saat senja mulai meringsek turun ke peraduan, aku lupa bagaimana desiran lembut aroma tanah tiap kali hujan datang menyapa.
Kotaku jarang hujan. Dia tandus sekali, aku sering merindukan hujan datang disaat saat tertentu. Itulah mengapa aku suka senja, abadi untukku.
Di kotaku malam ini turun hujan, deras, setelah lama tidak tersentuh air, aroma tanah yang kusuka dengan liarnya mengajakku berlarian dengan kenangan. Aku bingung kenangan mana yang hendak kularungkan bersama derasnya hujan. Aku mulai membongkar ceruk hatiku dan berharap kenangan itu lekas kutemukan. Aku menangis.. aku tak menemukan kenangan itu disudut manapun, aku mulai berkeringat, aku tidak pernah merubah posisi apapun dalam hatiku. Kemana perginya kenangan itu??
Aku berlari kehalaman, hujan malam ini tak memberiku kesemptan lebih untuk mencari, lekaslah, jangan melarung sepi disini, muara akan penuh dengan tangismu nanti!
Oh hujan, tak bisakah kau membantuku mencari kenangan itu? Aku tak bisa melihatnya kalau kau menjatuhkan hujanmu dengan rapat. ratapku sendu
Aku kehilangan kotak kenanganku. Bagaimana aku bisa hidup esok hari?? Aku tak punya kenangan apa2 lagi.
Hujan diluar, deras, dihatinya, seribu belati menghujam tanpa henti.
—– Dikota yang berbeda, hujan yang sama, lelaki itu menunduk dalam-dalam, ditangannya, sekotak kenangan diambilnya tanpa suara subuh tadi dari hati perempuannya
42,2 km Setelah Subuh
"Long distance running is 90% mental and the other half is physical." -Rich Davis-
Kalau mengingat masa kecil, sebagian besar ingatanku memang dipenuhi suara bola, raket badminton, dan badan penuh keringat menjelang magrib. Aku memang sering menang kalau bermain dengan teman-teman seusiaku, walaupun tentu tidak sampai di level atlet yang serius berlatih. Tapi setidaknya, olahraga itu membuat soreku terasa menyenangkan dan badan penuh keringat sebelum magrib datang.
Saat menjadi mahasiswa, olahraga yang paling kugemari adalah futsal dan badminton. Hampir setiap hari, terutama malam hari aku sering bermain futsal, bermain dengan rekan kelas, kakak tingkat, atau kadang sparing dengan tim lain. Kalau badminton masih rutin seminggu sekali, terutama saat pagi hari, saat tidak ada jadwal kuliah.
Hidupku lalu berjalan semakin dewasa. Kuliah selesai dan dunia kerja pun dimulai. Rutinitas semakin padat. Masalah hidup bergantian datang satu per satu. Tanpa sadar, tubuhku semakin jarang dipakai untuk berolahraga. Berat badan pun mulai naik, napas gampang ngos-ngosan, serta badan cepat lelah.
Dan seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, aku mulai sering berkata:
“Besok aja deh mulai olahraganya.”
Lalu besoknya lupa lagi. Begitu sampai beberapa tahun berlalu.
Sampai sekitar awal tahun 2024, aku mulai mencoba berlari lagi. Selain karena ingin kepalaku sedikit lebih tenang, aku juga ingin tubuhku terasa hidup lagi seperti masa muda dulu. Agar saat bercermin, aku tidak merasa asing dengan badanku sendiri.
Aku mulai membiasakan lari setelah subuh. Saat rumah masih sunyi dan anak-anak masih tidur. Aku pakai sepatu pelan-pelan agar tidak menimbulkan banyak suara, lalu keluar rumah saat langit masih pucat dan jalanan belum benar-benar hidup.
Di jam-jam seperti itu, semuanya terasa lebih tenang. Hanya ada suara langkah kaki, suara napas sendiri, serta isi kepala yang perlahan mulai lebih teratur.
Beberapa hari yang lalu aku membaca buku What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. Ada satu hal yang terasa dekat sekali denganku: lari jarak jauh bukan tentang terlihat hebat, tapi tentang bertahan melakukan sesuatu yang melelahkan secara terus-menerus.
Memang begitu rasanya awal aku mulai membiasakan berlari lagi. Dua minggu pertama terasa begitu berat. Napasku pendek dan kakiku cepat pegal. Baru satu atau dua kilometer berlari saja, rasanya sudah ingin berhenti. Tapi, tubuh ternyata akan belajar banyak hal kalau diberi waktu.
Hari ini, 14 Mei 2026, setelah 2 tahun berlari, akhirnya aku berhasil menyelesaikan full marathon pertamaku, 42,2 Km.
Marathon pertamaku bukan di race besar dengan cheering dan water station di mana-mana. Aku justru memilih melakukannya sendiri. Self support. Membawa running vest berisi air dan isotonik seberat tiga kilogram di punggungku. Jujur saja, sampai saat aku menulis tulisan ini, aku sendiri masih agak tidak percaya kalau aku mampu melakukannya.
Aku mulai berlari pukul 05.10, setelah shubuh. Sebenarnya itu waktu yang tidak ideal untuk mulai lari marathon. Tapi, saat itu aku tetap yakin bisa menyelesaikannya.
Km 1 sampai 10 lariku terasa ringan. Badan masih segar, napas masih aman terkontrol.
Masuk km 11 sampai 24, semuanya masih cukup terkendali. Kaki mulai terasa bekerja lebih keras, tapi ritme lari masih terjaga.
Saat masuk km 24 sampai 36, semuanya mulai berubah. Cuaca semakin panas dan vest di punggung mulai terasa berat. Kakiku mulai pegal dan kepala mulai ribut sendiri. Di titik itu, marathon terasa seperti percakapan panjang antara tubuh dan pikiran. Tubuh mulai meminta berhenti, sedangkan kepala sibuk mencari alasan untuk menyerah.
Bagian paling berat ternyata datang di km 38 sampai finish. Lucu ya, padahal tinggal empat kilometer lagi. Secara logika harusnya sudah dekat. Tapi, justru di situ jarak terasa panjang sekali dan waktu terasa berjalan begitu lambat.
Otak rasanya sudah mendidih. Badan mulai kosong. Di jalan, aku berlari sendirian di bawah panas matahari. Tidak ada keramaian race, tidak ada suara penyemangat, hanya ada suara langkah kaki sendiri, bunyi vest yang bergoyang, dan napas yang mulai terasa berat.
Beberapa orang di pinggir jalan menatapku dengan ekspresi heran. Aku malah sempat membayangkan mereka berpikir:
“Itu orang stres kali ya ... panas-panas lari.”
Dan jujur saja, di titik itu aku juga merasa sedikit tidak normal. Karena di titik itu, marathon terasa seperti kegilaan kecil yang sengaja dipilih manusia. Tubuh capek, kepala penuh, tapi kaki tetap lanjut melangkah. Ada momen ketika aku benar-benar ingin berhenti, berjalan saja, duduk di pinggir jalan atau menyerah.
Tapi setelah sejauh ini berlari, aku sadar kalau yang sedang kulawan sebenarnya bukan jarak, melainkan diriku sendiri. Versi diriku yang mudah menyerah. Yang selalu merasa terlambat memulai sesuatu. Yang sering berpikir tubuh dan hidupnya tidak akan berubah lagi.
Mungkin itulah alasan kenapa aku sangat bangga hari ini. Bukan semata karena berhasil menyelesaikan lari jarak 42,2 kilometer. Tapi karena di usiaku sekarang yang tak muda lagi, ternyata aku masih bisa bertumbuh lagi.
Masih ada tubuh yang mau diajak kuat pelan-pelan.
Masih ada kepala yang mau belajar bertahan sedikit lebih lama.
Masih ada garis finish yang bisa kukejar dengan kakiku sendiri.
Sekarang aku mulai mengerti kenapa banyak pelari tetap kembali berlari, bahkan setelah tahu betapa capeknya olahraga ini. Mungkin kita hanya butuh satu tempat kecil untuk bernapas sebentar dari hidup. Dan bagiku, tempat itu ada di jalanan setelah subuh. Saat dunia belum terlalu ramai. Saat langkah kaki terasa lebih jujur daripada isi kepala sendiri.