Kisah petualangan dua gadis single pada 2 Januari 2019.
Kali ini pagi tak sendiri, ditemani rintik hujan sejak malam seakan bernostalgia kenangan semalam tadi. Begitu juga aku, kali ini aku tak pergi sendiri, karna ada mba Ana yang siap menjadi "tour guide" petualanganku hari ini.
Bude: (dengan logat betawinya) "mau kemana lu pada?"
Aku: "mau naik gunung bude" (dengan sumringahnya yg khas)
Bude: "nyari jodoh kok ke gunung?!"
Mba Ana: (juga logat betawi) "lah, ngapain ke gunung nyari jodoh. Nyari jodoh mah di "google" mah."
Hahaha, ya kurang lebih itu cara kami pamitan mau naik gunung 😁 unik, beda dari yg lain.
Aku, mba Ana, dan mbah Google-pun berangkat...
Jupi, pacar kedua saya, kali ini ia yang mengantar kami hingga ke tempat tujuan.
Melewati danau.. ilalang.. jalan raya.. komplek.. kubangan.. jembatan gantung.. hingga kami nyasar ke pabrik pembuatan pasir. Dan jalanpun buntu.
Mba: "kok jauh bgt si, perasaan ngga sejauh ini deh. Jalannya juga parah bgt. Sepatu gua sampe kotor bgt ini"
Aku: "kata mbah google masih lurus mba.. aku bahkan sampe ke celana ini lumpurnya"
Kamipun terjebak di jalan buntu, yang isinya truck pasir dan pabrik pasir. Agak malu.. soalnya banyak lelaki yg ngeliatin kami, matanya memberi arti dari mana mau kemana itu ada cewek2 naik motor berduaan kemari -_-" malu euy..
Aku berinisiatif mengganti kata kunci google-map. Aha! Benar, kami salah jalan cukup jauh -_-"
Singkat cerita, kamipun sampai ke tempat tujuan. Mata pemuda penjaga pintu gerbangpun seakan bertanya tanya.. ini dua gadis beserta motornya kenapa lumpur semua.. XD
Mba: "nyasar bang.. udah, susah dijelasinnya!"
Pemuda: " dari mana emang? Baru pertama kesini ya? Berdua aja?"
Mba: "iya berdua, ya dari sono lah pokoknya. Sebenernya udah yg ke dua sih."
Pemuda: "ohh, yaudah, ini tiketnya."
Disaat orang lain kotor ketika turun gunung, kami sudah kotor sejak menginjakkan kaki di garis start. XD
Beruntungnya tak jauh dari garis start ada sungai yg tidak deras. Kamipun bersih2 sepatu dan celana terlebih dahulu. Lanjut kita berpetualang!!!
Bedua, iya benar, dua gadis strong tepatnya! Melangkahkan kaki-kaki manja nan halusnya melewati tanah datar, tebing, becekan, sungai, jembatan bambu, dan jalan terjal, bahkan melewati goa batu yg sempit.
You must know, disana sepi.. bener-bener cuma berdua jalan ke atas gunung. Lewatin pohon bambu nan lebat, beserta suara gesekan bergemerinyit terdorong angin sepoy-sepoy. Untungnya kami nggak ada yg takut hantu. Kalo satu aja ada yg takut, aku bisa ikutan lari XD karna aku nggak suka "ditinggal" lari *uhuk
Semua track masih mudah dilalui meski licin dan becek sekali. Cuma masalahnya adalah napasku menggeh-menggeh.. maklum ya, sehari-hari hampir nggak pernah jalan kaki. Sepanjang perjalanan megangin jantung "takut copot" :Dv
Mba: "ngga kok, dikit lagi"
Aku: "mba, mana kok nggak sampe-sampe.."
Mba: "ya belum, masih di atas sana."
Aku: "mba, duduk dulu ya"
Mba: "yaudah duduk dulu.."
Berjalan kembali, 5 menit kemudian..
Aku: "mba, aku lemes nih, kok ngga nyampe2 sih. Berapa meter lagi?"
Mba: "tanggung.. dikit lagi kok puncaknya"
Aku: "haduh, laper mba, nggak ada yg dagang gorengan apa ya --""
Mba: " disini hutan, mana ada yg jualan, lagian pagi2 begini."
Aku: "mba, berapa meter lagi?? Aku udah mulai oleng nih.."
Mba: "jiah.. baru segini udah oleng. Ini baru gunung kecil lho, gimana kalo nanti kita mau ke gunung yg gede.."
Aku: "haduh, nggak cocok aku naik gunung."
Mba: "ini aja kita ngga bawa apa2 lho, gimana yg pada bawa barang"
Tiap 5 menit istirahat.. mengingat fisikku yg ringkih, karna jarang olahraga --"
Aku: "mba, lemes, udah yuk, turun aja.."
Mba: "ya kali udah sampe sini turun.. kamu nggak akan nyesel nanti kalo udah sampe puncak.. bagus pemandangannya.."
Aku: "oh, yaudadeh lanjut.."
2 jam jalan kaki.. akhirnya ketemu puncaknya!! Tapi harus mendaki pakai tali dan melepas alas kaki supaya nggak licin.
Ah, ternyata mudah. Hehe tapi buat orang sepertiku yg takut ketinggian, ini merupakan tantangan bisa naik gunung!
...Sesampainya di puncak...
Pemandangannya hijau.. terlihat sawah.. hutan.. bukit.. goa.. langit biru, angin sepoy2.. ada mata air.. ada burung berterbangan..
Masya Allah.. niat menikmati pemandangan ciptaan Allahpun Terwujud.. syukurku dalam hati bisa merasakan ketenangan dan kesejukan ini.. dan bangganya lagi, karna kami cuma berdua datang kesini! Aku bangga bisa mandiri.. ngga bergantung dengan orang lain.
Dari sini aku mengerti, mengapa Allah membuat skenario berupa ujian2 dan rintangan dalam hidup. Allah ingin tau seberapa yakinnya kita bahwa di depan sana ada keindahan, seberapa effort yang kita lakukan untuk mencapai hal tersebut.
Mungkin aku bakal sangat menyesal kalo tadi aku nyerah gitu aja dan berpikir untuk turun. Aku nggak pernah nyangka kalo di atas sana akan se keren itu.. dan aku semakin yakin, bahwa apapun takdir Allah di depan pasti sesuatu yang Indah, oleh sebab itu, kita perlu effort lebih untuk mencapainya!!
Aku yakin, ujian itu baik.. ujian itu cuma untuk menilai seberapa tangguhnya kita, seberapa iman kita. Ujian itu nggak bikin kita celaka! Meskipun licin, becek.. buktinya aku bisa!!
Mulai sekarang, nggak boleh mudah menyerah ya!!
Oleh: Anissa Maharani (5/1/2019)