/warung bambu barokah/

seen from United States

seen from United States
seen from Switzerland
seen from Brazil

seen from United States
seen from Italy
seen from China

seen from Australia
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Italy

seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Italy
seen from China

seen from Türkiye
/warung bambu barokah/
Chanel lovers
Sudah tiga minggu saya di Bandung.
Sudah biasa sarapan di pinggir jalan, nasi uduk pakai telor balado atau bubur ayam 13k. Lalu siang makan nasi padang 18k. Malamnya makan nasi goreng 15k atau indomie telor 10k.
Di saat yang sama, saya perlahan menurunkan gaya hidup, terutama dalam order makan online dan ke kafe.
Point Coffee 25k (no) vs kopi susu botolan 5k-9k (yes!)
Seporsi mie blabla di kafe 65k (no) vs makan 2 porsi di warung tenda 42k (yes!)
Gaya hidup ini emang variabel yang bisa ditekan atau bisa juga dibiarkan.
Keinget dulu waktu di Inggris, pengen banget ada abang tukang bubur ayam pagi-pagi atau akang batagor/bakso sore-sore lewat depan rumah. Nah! Ini dia, nikmatilah.
Mungkin juga udah umurnya. Akan tiba saatnya kamu tidak lagi penasaran. Akan tiba saatnya kamu bisa mengatakan dalam hati "toh sama saja kenyangnya". Di level berikutnya, kita akan meniatkan makan banyak di rumah sebelum ke mall biar ga jajan atau menahan ga beli ini itu saat di mall dan nanti cari makan di warteg atau beli minum di minimarket/warung tenda di luar.
Great appreciation to my wife @syofarahals for her big heart to adjust quickly to the culinary life "we wished for when we were abroad".
Bye upper middle class life style!
"Ibu yang baik hati menawarkan jagung bakar dengan ramah, 'Hanya 20 ribu untuk 3 biji, Nak. Mau?' Saya dengan senang hati menjawab, 'Mau bu. Saya ingin rasa yang pedas manis satu, dan yang manis dua, Bu. Terima kasih atas kebaikan Ibu.'"
Ibu penjual jagung bakar tersenyum tipis. Entah, kenapa melihat senyuman ibu itu. Hati saya jadi luluh. 🥹 sehat-sehat yah ibu. Laris manis jualan jagung bakarnya.
Tempat: TAMAN KITA, KABUPATEN TAKALAR. SULSEL.
My mood...
Pagi-pagi muter nyariin dia, eh ketemunya di pasar. Yaa meski ngga langsung Nemu dipasarnya. Hihi
.
AR
What makes a good steak, good? Kalo kamu minta jawaban paling sederhana: tentu saja dagingnya, kualitas daging! Kurang panjang? Ashiyap! Pertama, kamu harus tau apa itu marbling? (bukan main kelereng ya!). Dalam perkulineran duniawi, marbling adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kandungan lemak yang simpang-siur di bagian merahnya, yang seperti jaring laba-laba, umm gimana ya? Nonton gambar aja ya Marbling juga disebut intramuscular fat (lagi-lagi aku tidak menemukan padanan yang pas). Pada umumnya more marbling = better meat! Ingat, bukan lemak yang putih-putih gemoy ya, tapi putih-putih bergaris! Nah, marbling ini adalah pemrakarsa utama rasa sepotong steik. Kemudian, setiap bagian daging punya tingkat ke-marbling-an beda-beda. Misalnya has dalam (tenderloin) adalah bagian paling empuk pada sapi, biasanya malah punya marbling yang sedikit, sirloin (has luar), dan rib-eye (daging rusuk) malah lebih banyak. Terakhir, apa? Tentu saja, steik nikmat, dimasak dengan tingkat kematangan yang baik (sesuai dengan selera si pemakan), terbumbui dengan baik, juicy, dan empuk! Aish, jadi lafaaar... ——— #cook #cooking #steak #wagyu #steaklover #tasty #delicious #foodstagram #cookingtips #resep #resepmasakan #tipsmasak #kuliner #gorontalo #indonesia (at Bone Bolango) https://www.instagram.com/p/ClPv9B8Pxa5/?igshid=NGJjMDIxMWI=