Kalau ada salah satu dari sekian hal yang kurang aku sukai di dunia ini, satu yang sangat mengganggu adalah sexism. Banyak yang menganggap punya anak laki-laki itu lebih berharga, padahal apa lah artinya punya anak laki-laki kalau tidak tumbuh menjadi manusia yang kompeten. . Mungkin akan ada yang bilang: “Gampang lah ngomong gitu kalau udah punya anak laki-laki.” Iya aku memang punya anak laki-laki, tapi aku sendiri anak perempuan yang selalu hidup di lingkungan budaya patrilineal dari lahir sampai sekarang di rantauan. Dari yang kualami & amati selama ini, anak laki-laki lebih sering dinanti. Kalau belum ada anak laki-laki, usaha lagi. Pokoknya kalau sudah ada anak laki-laki, baru aman. Sudah ada penerus marga. Lalu anak laki-laki ini akan dibesarkan dengan kasih & sumber daya melimpah ruah. . Walau terdengar asal & bercanda, suamiku pun pernah bicara tentang lebih berharganya anak laki-laki. Berhubung aku penganut paham “selalu ada ugly truth di setiap bercandaan”, saat itu juga dia langsung kuceramahi. Sangatlah dangkal memberi status penerus marga tanpa membekali ia dengan kualitas kepala keluarga. Punya anak perempuan yang percaya diri & berprestasi tentu lebih membawa damai dari pada punya anak laki-laki yang hanya dikenal sebagai akamsi. . Di sisi lain, memberi penghargaan berlebihan kepada pencapaian seorang perempuan juga menurutku merupakan bentuk sexism. “Wah, hebat ya perempuan bisa baca peta.” atau “Keren banget cewek bisa ganti ban mobil sendiri.” Sebenarnya mau perempuan atau laki-laki, semua bisa mengerjakan apapun asal mau belajar & dikasih kesempatan. Jadi paham ya, anak perempuan dan laki-laki itu sama berharganya.. Sama-sama berkat & titipan Tuhan. . . #tiatampithought #insomniathoughts #besokmasihlibur #motherandson #stopsexism https://www.instagram.com/p/CO0k5RwN4B8/?igshid=1misudrc0yf9w













