seen from Sweden
seen from Sweden

seen from United States

seen from Sweden
seen from Germany
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Sweden
seen from United States
seen from Taiwan

seen from Malaysia
seen from China

seen from Singapore
seen from Switzerland
seen from China
seen from India

seen from Sweden
seen from Switzerland
Betek - Driver License
Berhias Payung, Jembatan Kampung Betek Tampak Cantik nan Manis
MALANGTODAY.NET - Kemunculan kampung tematik diberbagai sisi Kota Malang ternyata terus membuat masyarakat mengembangkan kreativitasnya. Karena dari waktu ke waktu, ternyata masyarakat tak mau kalah untuk ikut mempercantik kawasannya. Salah satunya jembatan penghubung antar kampung yang berada di kawasan Betek. Kampung yang berada di sepanjang aliran sungai itu memang memiliki sebuah jembatan penghubung. Dulu, jembatan tersebut hanya berupa penghubung saja, layaknya jembatan pada umumnya. Tapi sekarang, jembatan yang berada di kawasan RT. 06 RW. 05 Kelurahan Penanggungan itu, tampak lebih cantik dan manis. Karena atap jembatan sudah dihiasi dengan beragam payung berwarna hijau dan merah. Bahkan, warga yang melintas pun kali ini tak hanya dapat dimanjakan matanya dengan sesuatu yang segar. Sesekali, mereka bisa berfoto di atas jembatan sepanjang kurang lebih 20 meter itu. Jembatan yang bisa mengubungkan Kelurahan Penanggungan dengan Kelurahan lainnya seperti Jatimulyo ini, menurut salah seorang warga sekitar, Laatul Hani tampak lebih cantik. Dia pun merasa senang melewatinya karena terasa lebih teduh dibanding sebelumnya. “Kan disini agak seram ya jalan masuknya aja sudah turun curam. Orang makai jembatan ini karena motong jalannya cepat mau ke daerah suhat. Makin menarik aja jika semua jembatan ada beginiannya cantik,” paparnya ketika hendak melintasi jembatan. Sementara itu, Ketua RT. 06 RW. 05 Kelurahan Penanggungan, Karya Dianto Rakenan menjelaskan, ide payung diatas jembatan tersebut adalah hasil kerja bakti warga pada Hari Minggu (12/11) lalu. “Rencananya, warga di RT. 06 akan melakukan kerja bakti lagi pada Minggu depan. Gang 18 yang menjadi akses masuk ke jembatan itu, juga akan dihias dengan payung-payung lainnya,” papar pria yang akrab disapa Anto ini. Lebih lanjut dia menjelaskan, terdapat 800 payung yang disipakan untuk menghiasi jembatan tersebut dan akses masuknya. Sementara ini, masih sekitar 280 payung yang terpasang. Nantinya, selain dihias dengan payung, jembatan gantung yang dibangun sekitar tahun 1990-an itu, juga akan dicat dengan beragam warna. Nantinya, jembatan akan dilengkapi dengan lampu oleh anak-anak karang taruna. Hal ini dilakukan pihaknya untuk menciptakan kampung mereka bersih dan menarik bagi warga Malang dan sekitarnya. Diharapkan pula menjadi kampung tematik seperti kampung-kampung lainnya. (Pit/Ans)
Source : https://malangtoday.net/malang-raya/kota-malang/payung-jembatan-kampung-betek/
New Post has been published on Memo-X
New Post has been published on http://www.memo-x.com/67503/dprd-kota-malang-ancam-gunakan-hak-angket
DPRD Kota Malang Ancam Gunakan Hak angket
Jika Walikota Abaikan Aspirasi Warga Betek
Kejengkelan Ketua DPRD Kota Malang Arif Wicaksono terkait lambannya respon Pemkot Malang atas laporan warga Betek, hingga memakan korban 3 warga.
Warga Betek saat hearing dengan dewan (ist)
Menurut Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono, dengan tegas menyatakan, rekomendasi yang dikeluarkan terkait jalur satu arah merupakan peringatan terakhir dari badan legislatif.
Ancamnya jika Pemkot masih mengacuhkan rekomendasi, maka Dewan tak segan-segan melayangkan hak angket kepada Walikota HM Anton.
“Ini peringatan terakhir kami, kalau diacuhkan, maka kami tak segan layangkan hak angket,” kata politisi asal PDIP Senin (7/12) di gedung dewan tegas.
Perlu diketahui bahwa DPRD Kota Malang, hari ini kembali mengeluarkan rekomendasi kepada Pemkot terkait jalur satu arah di lingkar Universitas Brawijaya (UB).
Salah satu bunyi rekomendasi adalah mengembalikan marka jalur menjadi dua arah, memperbaiki traffic light di pertigaan jembatan Soekarno-Hatta, serta fasilitas penyebrangan di sepanjang jalan itu.
“Hasil laporan disana sudah banyak korban berjatuhan, sehingga kami harus memutuskan dengan tegas,” katanya.
Padahal warga Kelurahan Penanggungan sendiri, kata dia, sudah melakukan cara yang santun untuk menyampaikan keluhannya soal jalur satu arah.
“Malahan mereka kabarnya mau demo lagi, tapi nyatanya kan warga datang dengan santun, ini yang jadi apresiasi kami terhadap warga,” pungkasnya.
Sementara juru bicara warga Kelurahan Penanggungan, Feri Al Kaffi, menegaskan, selama ini Pemerintah Kota Malang terkesan abai terhadap kasus meninggalnya warga sekitar, karena kecelakaan yang disebabkan kebijakan jalur satu arah.
Katanya , jika saat dua warga meninggal, ia bersama warga sudah mengadu kepada kelurahan dan kecamatan, namun dua institusi itu tidak menghiraukan. “Ini menunjukkan bahwa Pemkot Malang arogan,” tegas Feri, usia hearing dengan DPRD
Karena jengkelnya , Ia juga menyitir ihwal kajian abal-abal yang dilakukan pemerintah, karena kajian itu terkesan dipaksanakan untuk menjustifikasi kebijakan jalur satu arah.
“Kenapa satu nyawa di Lumajang melayang satu Indonesia geger. Di Malang ada tiga nyawa melayang karena kebijakan Pemkot Malang,kok dianggap biasa ” ungkapnya.
Lanjut pengusaha jasa pencucian mobil itu pun memohon dan meminta secara hormat agar DPRD menekan Pemerintah Kota untuk mencabut Perwal No 35 tahun 2014.
Terpisah Wali Kota Malang, HM Anton, menegaskan, pihaknya masih menunggu hasil kajian terkait jalur satu arah di lingkar Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Alasannya, pemerintah sebenarnya tidak masalah jalur itu berlaku satu arah atau dua arah, asalkan problem kemacetan di kawasan itu bisa diatasi dengan baik.
“Kalau kita lihat kemacetan dari Betek sampai pertigaan jembatan Soekarno-Hatta, ini kan problem yang harus diselesaikan,” katanya tegas.
Menurutnya, akibat kemacetan yang panjang, pasti berdampak kepada perekonomian yang ada di sana, karena warga pengguna jalan sulit menyeberang. “Kalau ada pengendara dari arah MT Hariyono masuk ke Betek dengan kondisi jalan macet seperti itu, malah tidak bisa menyebrang,” katanya.
Karena itu, ketua DPC PKB kota Malang itu menekankan pentingnya hasil kajian sebagai pijakan untuk meneruskan kebijakan jalur satu arah atau mengembalikannya menjadi dua arah. “Pertumbuhan kendaraan selama ini cukup besar, sehingga perlu ada kajian holistik,” tandasnya.
Saat ditanya soal pengecatan marka di Jalan Gajayana, ia mengaku ada miskomunikasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU). “Sepertinya sudah dihentikan, karena ada miskomunikasi soal pengecatan marka,” katanya beralasan. (riz)