DI BALIK BINTAL: PELATIH-PELATIH LUAR BIASA
Di balik kesuksesan dan keseruan selama bintal lima hari yang lalu, tentu tidak terlepas dari pelatih-pelatih yang kece luar biasa. Saya tidak ingat semua namanya, wkwk. Yang jelas, mereka keren-keren semua.
Ada Bang Kapten Baja Sirait. Ini nih, Komandan Latihan (Danlat) kami. Doi anak Depok (deket dari UI, dong? Yoi). Dia dulu saat tamat SMA, sudah diterima lewat jalur undangan di Teknik Industri FT UI. Tetapi, memilih untuk ikut tes AKMIL, dan lulus. Pintar? Pasti. Keren? Yes! Di usianya yang masih muda (kelahiran tahun 1986, masih single), sudah jadi Kapten, dan memimpin orang-orang yang lebih tua dari dirinya. Doi juga jago nembak (sepertinya semua anggota Kopassus jago nembak, nih), dan juga atlet karate. Kamu tau kenapa namanya Baja? Karena dia campuran antara Batak – Jawa. Jadi, deh, Baja. Wkwk. Sudah pernah ditugaskan di Papua.
Ada Pak Edi Kusnaedi. Pertama kali bertemu Bapak yang satu ini, kami mengira bahwa beliau adalah orang Batak, atau orang Indonesia Timur. Ternyata, beliau adalah orang Sunda. Bapak yang satu ini hobi bercerita dan memotivasi kami.
Ada juga Pak P. Nababan (dengan cerita teribu teribu nya). Dari namanya, jelas bahwa Bapak ini adalah orang Batak. Beliau juga senang bercerita tentang pengalamannya saat bertugas di daerah-daerah konflik dulu. Bayangkan, beliau pernah berada di hutan, tidak mandi selama 21 hari. Luar biasa. Pak Nababan ini juga dulu paling cepat dalam menyelesaikan semua tantangan di arena halang rintang militer, sewaktu masih muda. Hehe.
Ada juga Pak Rachmad, sang wakil asisten intel Grup 3 Kopassus. Bapak ini dulunya S1 Ilmu Politik di UGM, dan S2-nya di UI. Beliau bercerita, bahwa saat kelahiran anak pertama dan keduanya, beliau tidak berada di rumah. Pulang-pulang anaknya sudah lumayan besar, dan memanggil dirinya “Om”. Sedih gak tuuh.
Ada Pak Herwan Singh Raikapoor. Bapak ini campuran India – Indonesia. Ibu beliau India, sedangkan ayahnya Jogja. Bapak inilah yang mengabadikan foto-foto keren selama bintal kemaren. Beliau juga jago stand up comedy (juara satu stand up comedy se-TNI AD). Beliau juga jago 6 bahasa asing selain bahasa Inggris. Beliau jugalah yang menjadi guru bahasa Inggris bagi Pasukan Kopassus Grup 3 Cijantung ini.
Tidak lupa, ada juga Pak H. Amin. Pak Haji ini merupakan Danton kami, Pleton dua. Beliau mengajarkan bahwa jangan pernah merasa terlalu tinggi untuk bermimpi. Beliau juga berasal dari sebuah kampung kecil, dan hanya dia sendiri yang lulus Kopassus dari daerahnya. Kemudian, ada juga Pak Sularso yang jago free fall alias terjun bebas dan paralayang, serta menjadi pelatih terjun bebas dan paralayang militer. Ada juga Pak Dokter yang lulusan terbaik FK UGM.
Ada juga kakak-kakak Kowad (pasukan wanita-nya Kopassus) yang tidak kalah kerennya. Mereka jago-jago bela diri. Satu orang tidak hanya menguasai satu bela diri, tapi banyak. Karate, taekwondo, silat, jago panahan juga, paralayang, terjun bebas, bulutangkis, gak ngerti lagi. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa wanita itu tidak harus pinky pinky ala Barbie, seorang wanita itu tidak harus menye-menye. Tapi, wanita juga harus bisa tegas, multitalent, dan simpan keanggunanmu untuk orang-orang tertentu saja.
Bapak-bapak dan kakak-kakak yang lain juga luar biasa. Sebagai anggota Kopassus dan bagian dari intelijen, mereka harus menguasai bahasa-bahasa daerah di Indonesia, sehingga bisa ditempatkan di mana saja. Mereka juga harus menguasai silat Merpati Putih, bisa berenang, menembak, paralayang, terjun bebas, panjat tebing, dan lain sebagainya. Yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari keluarganya. Nggak kebayang bagaimana rasanya jadi anak dan istrinya, ditinggalkan berbulan-bulan, bertugas demi menjaga keutuhan NKRI.
Jadi, sekali lagi. Bagi yang mengira bahwa anggota militer itu keras, kasar, ada sisi lain dari kehidupan mereka. Ada tugas mulia yang mereka emban. Sewaktu belajar, kita tidak pernah membayangkan bahwa rasa aman yang kita miliki dalam belajar, salah satunya karena perjuangan mereka membela negeri ini. Dan entah sampai kapan perspektif saya akan berubah, saya jauh lebih hormat kepada TNI daripada Polri. Dua kata untukmu Kopassus: hormat dan bangga! Semoga kita dipertemukan lagi.
http://kopassus.mil.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=754
Pagi ke sekian di bulan Ramadan 1436 H