Indonesia oh Indonesia...
Hujan sedang turun. Waktu itu, jam menunjukkan pukul 15.10 WIB, Minggu, 4 April 2012. Entah mengapa, otakku seakan memberikan perintah untuk membuat teh sehingga kubangkitkan badan malasku, kutumpangkan panci tua berisi air yang seperempat penuhnya dan kunyalakan komporku. 10 menit berlalu begitu saja. Ku hampiri lagi air yang ku rebus tadi dan ku dapatinya telah mendidih. Perlahan ku tuang air panas itu ke dalam teko porselen dan ku tabur daun teh diatasnya. Teh telah siap. Lalu ku tuang air teh itu kedalam cangkir porselen bergambar menara Eiffel yang sudah kuberi gula sebelumnya dan ku minum secangkir teh manis hangat buatanku. Ah... Betapa nikmatnya.
Sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan hawa dingin serta hujan yang terus-menerus turun, jempolku yang sedari tadi menekan terus tuts CH + pada remote TV, terhenti pada sebuah channel nasional, TVOne, yang saat itu sedang menyiarkan program Bukan Jalan-Jalan Biasa. Ada yang menarik dari program Bukan Jalan-Jalan Biasa edisi kali ini. Eduardus, sang pembawa acara, saat itu meliput sebuah universitas di Massachusetts yang menambahkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kulaihnya. Wow. Bahasa Indonesia? Pikiranku terhenti sejenak dan berpikir, mengapa Bahasa Indonesia? Bukankah ada banyak sekali bahasa-bahasa di dunia ini yang lebih menarik untuk dipelajari, seperti bahasa Latin, Perancis, Korea, Mandarin, dan bahasa-bahasa lainnya? Setelah bertanya pada beberapa mahasiswa yang mengikuti mata kuliah itu, mereka menjelaskan bahwa ternyata saat ini Indonesia mulai menjadi negara yang dianggap penting dan perlu diperhatikan keberadaannya di dunia internasional. Ekonomi Indonesia yang meningkat tiap tahunnya, sejarah yang berliku-liku serta terpilihnya Barack Obama sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, menambah Indonesia menjadi salah satu negara yang dianggap menonjol dan menarik perhatian masyarakat Amerika.
Jika di dalam negeri sendiri, kita beranggapan bahwa Amerika men-cap Indonesia sebagai negara teroris dan sebagainya, tidak demikian dengan masyarakatnya. Mereka melihat Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya, keberagaman masyarakat, dan keindahan panoramanya. Sungguh bertolak belakang dengan apa yang ada di benak mayoritas masyarakat Indonesia (garis keras) akan pandangan Amerika terhadap Indonesia. Tak hanya mata kuliah Bahasa Indonesia yang bisa ditemukan di beberapa universitas-universitas di Amerika, kita-pun juga akan mendapati mata kuliah gamelan - kali ini di sebuah universitas di New England, masih di Amerika. Gamelan. Kumpulan dari beberapa alat musik tradisional Bali, Jawa, dan Sunda, dapat didapati juga di sana. Peminatnya? Banyak. Tak kurang dari 30 sampai 40 mahasiswa selalu ikut tiap semesternya di mata kuliah yang satu ini. Mereka-pun cukup terampil memainkannya dan alunannya-pun tak kalah harmonis dengan pemain gamelan yang ada di Indonesia.
Cukup ironis nampaknya saat para warga asing yang notabene kurang paham atau bahkan tidak tahu letak dimana Indonesia di peta dunia, dapat fasih berbahasa Indonesia dan memainkan gamelan – musik tradisional Indonesia – sedangkan kita sendiri malah asyik sendiri memodifikasi Bahasa Indonesia yang sekarang kita sebut dengan “Bahasa 4L4Y” dan kurang peduli dengan alat musik tradisonal kita. Indonesia bukanlah negara kecil. Indonesia adalah negara besar yang keberadaannya sudah mulai diperhitungkan dunia dari segi budaya, sejarah, dan ekonominya, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah serta budayanya. Apakah kita – anak muda – sudah menghargai nilai-nilai dasar Indonesia dari bahasa hingga budayanya? Tak terasa teh di cangkir yang tadinya hangat ini perlahan mendingin dan habis kuminum, yang disusul juga dengan berakhirnya program Bukan Jalan-Jalan Biasa edisi Minggu 4 Maret 2012. Selamat menikmati hari ini dan salam teh hangat! (?)