Diantara maraknya kata bodo amat. Semoga kita masih peduli pada orang-orang disekitar yang untuk makan saja masih kesusahan.

#dc comics#dc#tim drake#batman#dick grayson#bruce wayne#batfam#dc fanart#batfamily




seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from South Korea
seen from China
seen from Australia
seen from United States

seen from Bulgaria

seen from Bulgaria
seen from United States
seen from Colombia
seen from Belgium
seen from Colombia
seen from Macao SAR China
seen from China
seen from United States
seen from United States
Diantara maraknya kata bodo amat. Semoga kita masih peduli pada orang-orang disekitar yang untuk makan saja masih kesusahan.
Review - Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Buku yang seharusnya ditarget tamat di tahun 2020, baru sempat terselesaikan di Januari 2021 karya Mark Manson terjemahan dari The Subtle Art of Not Giving A F*ck. Buku pinjaman yang mau ga mau harus dituntaskan dan segera diambil insightnya dan aku telan. Buku yang membuatku banyak berpikir dan harus aku akui, ini buku keren. Buku yang membuat orang berpikir ke arah sebaliknya, sudut yang belawanan. Jika semua orang menginginkan berada pada kuadran I, buku ini menawarkan keindahan pada kuadran III. Mulai dari subbab pertama 'Jangan Berusaha', yang awalnya membuatku geleng-geleng kepala. Buku apasih ini, kok gini tulisannya tetapi buku ini dengan jelas bercerita bahwa ternyata, kita tak perlu berusaha meyakinkan orang lain bahwa kita orang baik jika kita benar-benar orang baik. Jika kita saat ini sedang bahagia, kita tak merasa perlu untuk membuktikan kepada siapapun bahwa kita bahagia.
Ah, yaa ngapain dibuktikan jika kita sudah mengalaminya? Jika kita memimpikan sesuatu, sebenarnya kita sedang menguatkan realitas alam bawah sadar kita sendiri bahwa kita bukan berada pada posisi itu.
Mengapa kita sekarang merasa perlu untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa kita telah mencapai ini dan itu, sukses di bidang ini dan itu, punya skill di bidang ini dan itu. Dunia ini sedang mendikte kita bahwa hidup harus punya uang banyak, rumah mewah, mobil, tas brended, pasangan yang ideal, anak yang sehat, aset dimana-mana, liburan setiap bulan, maupun penghargaan dari A sampai Z.
Jika dulu gagal dalam perlombaan adalah hal yang biasa, dan berkata dalam hati "besok coba lagi, usaha lagi" dan kembali belajar lagi untuk perlombaan selanjutnya. Thats it, and Life must go on. Tapi sekarang, jika saat ini gagal dalam mencapai sesuatu, kita akan segera diserang dengan ratusan gambar orang-orang yang benar-benar memiliki hidup yang sangat menyenangkan, penghargaan yang kita inginkan dan sangat mustahil untuk tidak merasa seolah hidup kita sungguh tidak adil dan sangat keliru tujuh turunan. Kita dibombardir berjuta pemandangan etalase yang menyejukan mata, sedangkan etalase yang kita punya seolah awan gelap pun menutupi bayangan kita sendiri. Kita seolah diarahkan untuk menjudge bahwa kita tak sehebat yang dikira, dan ini yang selalu menghancurkan kita dari dalam setelah melihat etalase orang lain.
Saatnya untuk berkata, aku tak peduli dengan apapun yang ada diluar sana. Aku tak peduli dengan pencapaian dan harta mereka, kesenangan mereka, aku bahagia dengan hidupku, kegagalanku, jatuhku, bangkit serta proses belajarku, dan yang paling penting aku menerimanya.
Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang hal yang sederhana, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting.(Hlm.6)
"Kita tak benar-benar tak peduli pada sesuatu, kita hanya memilih mana yang benar-benar penting untuk dipedulikan."
"Anda sudah memilih, di setiap momen di setiap hari, apa yang Anda pedulikan, jadi berubah itu sesederhana memilih untuk memedulikan hal lain".
"Jangan hanya duduk-duduk.Lakukan sesuatu.Jawaban akan muncul".
Buku ini mengajarkan untuk menerima, bahwa dunia memang gak selamanya berwarna, bahwa saat abu dan hitam pekat pun kita perlu mengakui bahwa ia salah satu dari banyaknya warna yang ada. Tak perlu ambil pusing untuk mewarnakan semua langit menjadi warna biru dan jingga, kita perlu menerima bahwa hujan yang membawa keberkahan memberi aba-aba dengan abu-abunya di atas sana.
Kira-kira apa salah satu maksud Allah menciptkan kedua tangan untuk manusia?
Sebab Allah maha tau kalau tangan kita tidak cukup untuk menyumbat mulut orang-orang yang nyinyir dll kepada kita. Nahh, salah satu tujuannya adalah untuk menutup telinga dengan kedua tangan kita, agar tidak lagi mendengar coleteh-coleteh yang dapat menyakiti hati kita.
Punya sifat bodoamat sama kehidupan orang lain enak bgt sumpah, recommend lah pokonya.
Kita tidak bisa nyenengin banyak orang.
Terkadang bersikap bodoamat itu dibutuhkan untuk sesuatu yang seharusnya sederhana tapi terlihat rumit karena pemikiran-pemikiran kita sendiri. Terlalu takut sama penilaian buruk dari orang lain, hingga tak percaya dengan dirinya sendiri.
Terlalu banyak memilih dan menimbang - apa kata orang lain. Hasilnya diri gak berkembang-kembang. Gak percaya diri bahkan jadi penakut. Come on, lakukin apa yang hati kecil kamu ingin lakuin.
Rasa nya nyenengin sekali, saat hati ingin speak up apa yang kita ingin lakuin. Tanpa takut penilaian oranglain.
berani berkata ‘tidak’
berani izin sholat saat waktunya sholat tiba
Berani ngajak sholat meski kpd yg lebih tua
berani berbicara saat hati sudah meyakini sesuatu padahal otak menolak
Yumisstrynsh | 27 jan 2020
Cerpen : Diamnya Seseorang
Suatu ketika aku melihat dia sedang duduk sendirian, tatapnya jauh melayang ke langit yang tengah mendung, seolah langit baru saja menjawab isi hatinya bahwasannya langit ikut sedih untuk setiap sedih yang ia tak sampaikan. Bahkan dalan sujud terdalamnya.
Ku hampiri pelan, takut mengganggu buyar lamunan yang membuatnya teduh seperti pohon dimusim semi. Ku lihat baik-baik wajahnya, ribuan cemas terpancar, khawatir yang tak masuk akal.
"Kau sedang memikirkan apa?" Ku tanya pelan. Tak ada respon. Seolah tak melihatku duduk di depannya.
Mata kecoklatan itu ku tatap lebih lama, didalam ada seorang perempuan yang tengah sibuk memikirkan sebuah perkataan, "Kau ini manusia yang tak memiliki ambisi apapun. Tak memiliki keinginan apapun." Ah, seandainya bisa ia bercerita, aku akan duduk lama mendengarkan semua cemasnya.
"Apa menginginkan kematian bukan sebuah keinginan? Kenapa orang-orang selalu mengatakan hal yang tak menyenangkan padaku." Gumamnya.
Diamnya adalah sebuah cemas. Diamnya adalah sebuah perdebatan hebat. Diamnya adalah sebuah perang untuk dirinya sendiri. Ingin ku peluk wanita di depanku, sayang kaca setebal baja menghalangiku.
Aku ingin mengatakan padanya, "Kau masih memiliki keinginan. Hanya saja diammu membuatmu lupa bahwasannya kau ingin pergi dengan bahagia ke semua tempat.
Hadapi dengan....
"Bodo amat",
Adalah kalimat ajaib untuk melindungi diri dari rasa bersalah yang nggak penting. Pun, bisa dipakai sebagai alternatif menghadapi orang-orang dengan mood fluktuatif. Mereka yang suasana hatinya persis seperti grafik pengamatan aktivitas gunung berapi. Naik turun sak karepe dhewe.
Bodo amat,
Memang tidak baik jika digunakan berlebih. Alih-alih menjadi lebih "damai", yang ada malah merubah diri kita jadi manusia kurang peka, cuek, dan level tertingginya adalah apatis.
Jadi, hadapi dengan bodo amat, lalu tersenyum, lalu berlalu, lalu kita melangkah maju meninggalkan hal-hal remeh yang bisa merusak kinerja hidup kamu.
Selamat tengah pekan.
Bukannya sudah ku katakan,
Carilah bahagiamu yang tak pernah kau dapat dari aku. Dan bukankah sejak hari itu aku sudah membebaskan mu.
Tenang saja aku masih punya mu.
Keluarlah, berlari dan bergembiralah~. ketika saat kau menemukan tempat singgah yang baru dan jika akhirnya kau pun ingin. Akan ku izinkan kau tinggal.
Karna mungkin disana kau temukan bahagia mu. Bukannya bermaksud dengan mudah aku melepas mu. Hanya saja aku merasa bersalah yang tak pernah mampu merawat bahagia mu dengan baik.