Ketidakberanian
Katamu aku tak perlu bicara panjang kali lebar, supaya kau mengerti apa yang aku butuhkan.
Katamu aku tak perlu marah membabi buta, supaya kau sadar apa yang aku cemburukan.
Katamu aku tak perlu menangis sesegukan, supaya kau sadar bahwa aku merindukan.
Itu pesanmu, yang dengan lancang kutafsirkan.
Tapi aku terlalu lelah diam. Diam-diam justru sepertinya kau sudah menemukan seseorang. Aku terlalu lelah bertahan. Bertahan untuk menunggu, dan entah untuk apa pula menungguku itu. Saat ini pun kau juga tak kunjung datang. Atau, memang kau diciptakan agar tak pernah datang.
Sampai saatnya kita harus dipertemukan oleh dua keabadian.
Keabadian hati.
Hati yang tulus menerima, bahwa hati cukup diletakkan untuk pintu pengaguman. Tidak lebih dan tidak bisa kurang. Bahwa mata cukuplah terpejam, yakin ketika mata terbuka kau akan hilang.
Sialnya, tidak. Aku merasa gagal.
Keabadian takdir.
Sekuat apapun hati bersatu dalam kemenangan, takdir akan selalu di atas kemenangan. Segiat usaha dan doa yang dilakukan, hasilnya tetap bernama takdir kan?
Ini rancauku, tak usah kau pikirkan.
Solo, 26 Agustus 2020














