Saya bingung mau nulis apa. Ini tulisan isinya bingung semua.
Sekarang saya bingung sama seperti orang-orang, bahkan untuk menuliskan kata-kata ini saja bingungnya saja sudah bukan kepalang. Sama seperti orang-orang. Sama seperti yang di pucuk. Sama seperti akar rumput. Kalau begini jadinya, jelas bukan lagi aku ra popo. Aku opo-opo. Bingung.
Yang anak kosan bingung, uang kiriman ngga nambah, harga-harga makanan di warung malah naik. Ibu kos nagih uang bulanan. Yang di rumah lebih bingung lagi. Harga bbm naik. Harga-harga lain ikut naik. Penghasilan ngga naik-naik. Dagangannya sepi.
Yang mahasiswa bingung. Dibilang ngga peka, dibilang kerjaannya sekarang asik tepuk tangan di talkshow TV, dibilang ngga bergerak merespon kondisi darurat sekarang ini. Padahal sebenernya sudah bergerak dari kapan tau, tapi sudah lama ngga jadi media darling. Alhasil ngga dapat tempat istimewa di hati masyarakat, bahkan teman-temannya sendiri. Nah, giliran kondisi negara darurat gini malah dibilang ini-itu, padahal masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tetap konsisten bersuara, meski memang tak seberapa. Di kondisi yang begini ini ya jelas perlu banget banyak massa mahasiswa yang turun di jalanan teriak “perbaiki negara ini!” atau “kalau gak mampu, turunkan!”. Tapi ya itu, ngga jadi media darling. Iya dong, yang punya media mainstream kan ya politisi-politisi juga. Yah, bingung lagi, kan.
Yang jadi presiden juga bingung. Masih aja sukanya bilang “bukan urusan saya”. Kalau gini, ini mah nggak lebih baik dari “prihatin” deh. Dia bingung, baru njabat, masalah datang seabrek, dia kira dia siap mimpin Indonesia, tapi yang namanya kapasitas ngga bisa dipaksakan kan? Pendukung-pendukung di pemilu kemaren datang minta jatah, namanya juga jatah, pasti terbataslah. Omong kosong itu yang namanya koalisi tanpa syarat. Waduh, janji kampanye belum juga terpenuhi, tekanan makin besar. Eh dateng nih Si Australi ngasih gertakan. Duh, takut. Bingung. Aduh, cicak sama buaya berantem lagi. (Ah, udah ah. Nanti diserang sama followers-nya kalau dibeberin semuanya)
Yang dulu mati-matian dukung ‘nabi’ baru dengan mukjizat ‘new hope’ ini sekarang mulai kembali akal sehatnya, berbondong-bondong pindah keyakinan lagi. Mesikpun, ya, masih ada pengikut setianya. Dan yang dulu mati-matian dukung lapak sebelah sekarang makin berbusa-busa.
Bingung... Bingung... Kumemikirnya...