Burung-Burung Rantau, Y. B. Mangunwijaya
Betapa saya iri kepada keluarga Wiranto. Bukan karena mapan atau tidaknya. Tapi karena paham-paham yang dianut setiap orang dari keluarga itu dapat berkeliaran seenaknya. Setiap anggota keluarga tak ragu untuk mengungkapkan ideologi anutannya yang cukup kontras.
Yuniati, ibu dari keluarga itu menjadi tipikal orang konservatif yang mengacu pada nilai-nilai kebenaran tradisi yang telah diajarkannya. Neti, si anak keempat selalu berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti Mahatma Gandhi. Beda lagi dengan ketiga kakaknya. Anggi si sulung sangat materialistis, Bowo anak ke dua sangat modern, dan Candra sebagai anak ke tiga yang sangat nasionalis. Dilengkapi oleh ayahnya, Wiranto yang moderat.
Ideologi-ideologi itu muncul barangkali karena ragam latar belakang setiap keluarga itu. Wiranto adalah mantan letnan jendral yang kini menjabat sebagai Komisaris Bank Pusat Negara. Yuniati adalah mantan aktivis perkumpulan istri para tentara. Anggi adalah pengusaha sukses multinasional. Disusul Bowo yang berprofesi sebagai ilmuwan di bidang fisika nuklir dan astro-fisika. Candra sebagai pilot tentara, juga menjadi pelatih penerbangan. Lalu Neti sebagai anak keempat yang sedang sibuk menyusun skripsi untuk gelar sarjana di bidang antropologinya sambil menjadi relawan sosial di Kampung Kumuh.
Beberapa konflik yang muncul diantara mereka memaksa saya mentolelir pandangan-pandangan yang berbeda dari setiap tokoh. Salah satu contoh saja ketika novel itu sedang membahas segi kemanusiaan. Bagaimanakah manusia yang paling manusiawi itu?
Apakah seperti kata kak Anggi? Menjadi seorang pengusaha sukses, membantu perekonomian negara secara makro tanpa harus bersentuhan dengan masyarakat miskin di negrinya. Karena hal tersebutlah yang paling realistis dan bekerja cepat.Â
Atau seperti kata Neti? Membantu manusia-manusia harijan yang lebih rendah dari kasta sudra, menyelam langsung ke kampung-kampung paling kumuh, membuat orang-orang yang tertindas memiliki kesempatan untuk bisa menikmati kehidupan yang sejahtera. Dan justru kadang harus menentang tradisi-tradisi beragama seperti Mahatma Gandhi.
Atau seperti Mas Bowo, seharusnya manusia itu mulai berevolusi? Mengikuti kisah Prometheus, perlahan-lahan mencuri rahasia-rahasia Tuhan, memanfaatkannya untuk seluruh umat dengan syarat melepaskan belenggu-belenggu yang dinamakan nasionalisme lalu menjadi orang Indo-Bumi atau anak bumi. Kebaikan selalu dapat diperbuat tanpa batas negara.
Atau mungkin cukup saja menerima wahyu-wahyu dari Tuhan lewat nabi-nabi kita lalu hidup sesuai tradisi turun temurun yang telah diajarkan seperti Ibu Yuniati? Tak usah ambil pusing soal kaya miskin. Toh sudah Tuhan yang mengatur. Asal mengikuti aturan Tuhan, akan ada imbalannya berupa pahala.
"Unsur biologi dan geografis bagi manusia bukanlah yang pertama dan terutama. Manusia bukan kera atu gajah yang bergerombol dalam suatu hubungan tunggal primodial daging-tulang-darah alami. Keunggulan manusia justru kalau dia sudah mampu mengatasi dimensi dimensi geografi dan biologi ini. Dan tidak ada hubungannya dengan patriotisme atau bukan. Patriotisme bukan seperti yang diindoktrinasikan orang-orang kolot zaman agraris itu. Aku tetap cinta Tanah Air, tetapi tidak dalam arti birokrat. Cinta saya kepada Tanah Air dan bangsa kuungkapkan secara masa kini, zaman generasi pascanasionalisme. Jika aku menjadi orang, pribadi, sosok jelas, yang menyumbang sesuatu yang berharga dan indah kepada bangsa manusia, disitulah letak kecintaanku kepada bangsa dan nasion." - Wibowo
Romo Mangun piawai membawa para pembacanya untuk ikut berpikir tentang kehidupan. Lewat dialog antar tokoh yang saling keras kepala membela pandangannya lalu berakhir tanpa kesimpulan yang pakem. Ditambah monolog dari tokoh Neti yang terus dirundung kebingungan sehabis berdialog dengan kakak-kakaknya maupun tokoh-tokoh penting lain.
Dialog antar keluarga menyajikan bahan pikiran tentang kebaikan mana yang harus seseorang pilih-pilih untuk diterapkan pada kehidupannya. Karena pastinya dalam setiap kebaikan yang ada, akan ada kebaikan yang mana yang diprioritaskan. Mungkin berakhir atas perintah logika. Mungkin berakhir karena cinta.
"Aku pribadi sih percaya pada cinta. Cuma untukku, rumus matematikanya masih sulit kuangka-aksarakan." - Neti