Dolphin
Pagarku yang terbuat dari besi itu hanya setinggi dadaku jika berdiri. Memiliki lubang cukup luas dengan bentuk ukiran melingkar yang dapat digunakan sebagai pintu keluar masuk kucing.
Kami memutuskan mengadopsi dua anak kucing dari Abu dan satu anak kucing nyasar sebagai kucing teras. Meskipun begitu mereka lebih senang nomaden. Ada kalanya tidur di sepanjang gang, bermain di kebun tetangga, berteduh di rumah kosong sebelah rumahku atau bahkan menginap di terasku atau tetangga.
Selain bermain bertiga, mereka sangat senang menunggu kami dan dua orang tetanggaku memberinya makan. Itulah sebabnya, setiap kali orang di dalam rumahku membuka pintu, selalu terdengar langkah kaki kecil berlari menuju pagar.
Kucing pertama, masuk dengan cara merangkak di kolong pagar. Meskipun kesusahan, ia tahu badannya cukup lentur untuk memasuki celah yang memiliki tinggi 10 cm tersebut. Kucing kedua memiliki badan lebih besar, meski sering menyangkut di pagar ia tetap memilih melewati jalan yang sama.
Berbeda dengan kucing yang terakhir. Tak pernah kulihat ia masuk dengan cara merangkak. Ia lebih suka melompat dari luar pagar menuju ke dalam area teras rumahku. Lompatan mungil yang memiliki jarak dan tinggi yang sama tiap harinya. Lompatan yang mengingatkanku pada lumba-lumba.
^^
Delapan bulan yang lalu, Opin lahir dari hasil perkawinan Abu dan kucing betina yang selalu ada di depan rumah kami. Ia lahir dengan tulang dan badan yang kecil. Memiliki mata berwarna hijau yang terlihat sangat bulat dan besar. Panjang bulunya seukuran dengan jari kelingkingku, warnanya putih dengan motif belang seperti Ibunya. Bukan tipe kucing cerewet, tapi selalu mengeong ketika lapar.
Ibu menyebutnya kucing nakal karena selalu melompat pagar. Namun, bagiku ia adalah kucing aktif yang selalu ingin tahu dengan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia memang paling banyak bergerak di antara kucing lainnya. Kucing yang bisa berjalan jauh mengantarkanku ke lapang yang lokasinya dekat dengan jalan raya.
Suatu hari, gerak-geriknya tidak selincah biasanya. Ia terlihat lebih murung dan pasif dibandingkan dengan kucing lainnya. Ia lebih banyak diam, tidur, dan memisahkan diri dari kucing lain. Kami bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya? Karena belakangan ini dia terlihat lebih cepat mengakhiri makan dibandingkan dengan yang lain. Ia paling cuek ketika diberi makan.
Sampai akhirnya aku menemukan bagian tangannya memerah. Makin parah karena bagian merah pada tangannya ini berubah menjadi warna hitam. Bertambah hari bukannya membaik, tapi lukanya menyebar ke area leher, badan bahkan kakinya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengurusnya di dalam rumah, full.
Minggu awal tinggal di dalam rumah aktivitasnya hanya sebatas tidur di kasur, turun dari kasur untuk makan, lalu balik ke kasur, sesekali ia menggali pasir di litter box. Mukanya masih murung, badannya masih lemas, ia lebih banyak diam menyendiri di kasur dan tidur. Ia juga selalu menarik badannya jika tangan kami berusaha menyentuh badannya. Meskipun begitu kami tak pernah menyerah, besar harapan kami agar ia bisa kembali menjadi kucing yang aktif dan senang bermain lagi seperti awal pertama kami bertemu dengannya
Setelah satu bulan rutin dirawat secara intens, perlahan mulai terlihat kesehatannya meningkat. Jika biasanya hanya terbaring lemah di kasur, kini ia sudah mau berkumpul dengan yang lain. Kini ia lebih sering ada di luar kamar, mengamati saudara dan saudara tirinya bercanda dan berkelahi.
Ada kalanya kami kaget ketika melihat ia pertama kalinya berlari meskipun nafasnya terengah-engah. Makin hari ia menunjukkan perubahan yang pesat. Yang biasanya hanya melihat saja, ia kini sudah bisa bermain bola sendiri, mengejar satuan sapu lidi, bahkan kejar-kejaran dan berkelahi dengan adik-adiknya. Yang awalnya menolak dan memundurkan diri, kini ia sudah mau dielus bahkan minta dipangku dengan manja. Melihat perkembangan yang terjadi padanya kami sangat bangga. Bangga karena akhirnya ia kembali menjadi kucing "nakal" seperti sebelumnya.
^^
Ketiga kucing ini kembali pada kodratnya sebagai kucing teras. Sesekali mereka masuk untuk makan, lalu keluar lagi. Opin termasuk kucing yang paling betah tinggal di dalam rumah. Ia bisa seharian ada di dalam maupun di teras rumah tanpa berpergian melewati batas pagar. Ia yang paling sering tidur malam di dalam rumah kami, sekaligus penghuni tetap kamarku.
Beberapa minggu ini ia paling senang ada di dekatku. Tidur di kamar, menemaniku seharian. Namun, sayangnya belakangan ini nafsu makannya berkurang. Kadang ia makan sangat sedikit atau bahkan tidak makan. Ia hanya ingin tidur di sebelahku. Pernah beberapa kali aku mengeluarkannya, untuk tidur di tempat biasa tapi tak lama kemudian ia sudah mengemis minta dibukakan pintu sambil mengeong kecil, "Yaw... Yaw...".
Mungkin sudah tiga hari terakhir ia tak lagi menungguku di depan pintu ketika menjelang subuh. Setiap membuka pintu aku mendapatinya sedang tertidur di bantal tempat tidurnya, atau duduk bengong menghadap lantai. Bahkan pagi ini, ia terlihat lebih murung dari kemarin. Duduk di lantai dengan tatapan yang kosong.
Matanya tak lagi berbinar seperti sebelumnya. Badannya terasa lebih ringan dibandingkan kemarin. Wajar, hari ini ia sudah tidak mau menelan makanan yang kami beri lewat suntikan.
Ia melangkahkan kakinya dengan berat ke arah teras. Kelopak matanya semakin turun. Aku tak tahu ia lelah atau mengantuk. Beberapa kali kupanggil namanya
"Opin."
Ia tidak menoleh, bahkan tidak melirik. Padahal biasanya ia yang paling cepat berlari menghampiriku jika dipanggil. Aku masih mengelus badannya yang tinggal tulang sambil berharap semoga ia mau makan sebentar lagi, walau mulutnya terlihat masih banyak sisa makanan sejam yang lalu.
Aku memutuskan untuk melanjutkan kegiatanku. Masuk ke dalam rumah. Hingga keponakanku memanggil.
Kudapati Opin berbaring di tanah, kebun ibuku. Bersebelahan dengan dedaunan kering dan tanaman hijau yang masih pendek. Kuraba tangannya, mulai terasa kaku. Mulut dan matanya yang terbuka sudah tak bisa kututup. Air dan sisa makanan terus keluar dari mulutnya.
Aku tak kuasa menahan kesedihanku. Tiba-tiba saja air mata mengalir dengan deras membasahi pipiku. Bukanya menyeka air mataku, tanganku kuletakkan pada kepalanya, kuelus badannya berulang kali. Karena ini akan menjadi kali terakhir aku merasakan hangat badannya, halus bulunya, dan kering tulangnya.
Ya Allāh mengapa sedih sekali ditinggal kucing yang hanya berumur delapan bulan ini...
Kucing kecil yang tidak lucu ini, kucing kecil yang suka mengompol di mana saja, kucing kecil yang tidak pernah menggali pasir dan menutupnya kembali, kucing kecil yang senang dielus, kucing kecil yang senang dipangku, kucing kecil yang kaku saat digendong, kucing kecil yang manja, kucing kecil yang suka tidur di kasur, kucing kecil yang senang mengejar cicak, kucing kecil yang senang bermain dengan kupu-kupu, kucing kecil yang penasaran dengan semut, kucing kecil yang suka menjilati adik-adiknya, kucing kecil yang senang tidur di atas lemari, kucing kecil yang introvert, kucing kecil yang bisa pilih-pilih makanan dan minuman, kucing kecil yang suka duduk di tembok, kucing kecil yang selalu menunggu di depan pintu saat subuh tiba, kucing kecil yang rewel kalau pintu belum dibuka, kucing kecil yang suka duduk di jendela, kucing kecil yang penasaran dengan belakang rumah, kucing kecil yang.... kusayang huhuhuhu
Meskipun aku sering mengeluh dengan kehadiran kucing kecil di rumah, tapi kenapa sedih sekali ditinggalkan oleh mahluk kecil berbulu ini.
Terima kasih karena kamu telah menjadi salah satu memori indah untukku. Maafkan aku belum bisa membuatmu lebih gendut sebelum kamu pergi. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku karena waktu kita bersama hanya sebentar. Semoga kamu senang tinggal bersama kami, Dolphin.
안녕 돌핀오 💙














