Untukmu, calon teman hidup satu rumah.
Entah saat ini kamu perokok atau bukan, semoga setelah membaca ini, kamu mulai persiapan untuk berhenti merokok.
Jangan paksa langsung berhenti, karena aku tahu itu adalah hal sulit yang mungkin sudah pernah kamu coba namun gagal, tapi teruslah berusaha untuk berhenti.
Mas, rasanya aku tak perlu menuliskan panjang lebar tentang efek samping dari merekok, karena aku tahu, kamu sudah lebih mengerti daripada aku. Aku pun tidak ingin mengguruimu tentang hal yang mungkin sudah kamu anggap sebagai bagian dari kebutuhan.
Mas, aku mendambakan sebuah rumah tanpa asap rokok. Memberikan ruang lingkup dengan sirkulasi udara yang baik untuk anak-anak kita. Sebab aku tahu, ketika mereka keluar dari rumah, tak ada yang bisa menghindari mereka dari polusi udara yang nyata tidak baik untuk kesehatannya.
Mas, akan aku beri sedikit kisi-kisi tentang Bapakku. Bapak mertua mu ini perokok berat, bahkan sampai saat ini. Hari-hariku sudah cukup sering membaur dengan asap rokok, beberapa kali aku terkena infeksi gangguan pernapasan, beliau tahu akan hal itu. Seperti hal nya ketidak tahuan, beliau masih saja meneruskan hobinya yang tidak bisa ditinggalkan. Nadanya selalu meninggi tiap kali salah satu dari kami menyinggung tentang lintingan tembakau itu.
Aku memilih diam, bukan karena tak peduli, tapi aku lebih menghindari perang suara hanya karenanya. Terkasan menjauhinya memang, tapi aku memilih untuk tidak mendekat pada beliau ketika kepulan asap sudah menyepul dari mulutnya, padahal asap itu hanya berhenti sebentar disela aktifitasnya dari satu hari. Jadi bisa dibayangkan seberapa sering waktunya dikerjakan sambil merokok.
Mas, bukankah tidak ada salahnya jika aku berharap yang terbaik untuk anak-anak kita? Dimulai dari menjauhkan asap rokok dari mereka misalnya.
Sampai berjumpa ya,
Semoga saaatnya tiba, aku atau kamu sudah lebih baik dari hari ini.











