Di zaman revolusi, banyak semboyan gagah berani diserukan orang atau ditulis di dinding-dinding di sepanjang jalan, pada spanduk-spanduk yang membentang, atau bahkan sekadar di buku catatan anak sekolah. Hal ini memberi Mama Kalong gagasan untuk memberi nama tempat pelamrannya dengan semangat yang sama, yang tampaknya mewakili jiwanya sendiri. Beberapa nama pernah ia pergunakan, seperti ”Bercinta atau Mati', sebelum diganti menjadi ”Sekali Bercinta Tetap Bercinta”, namun akhirnya disepakati bahwa nama tempat pelacurannya adalah 'Bercinta Sampai Mati”.
Nama itu seringkali terbukti kebenarannya. Seorang prajurit KNIL mati saat bercinta, dipenggal seorang tentara gerilya. Lalu seorang gerilyawan mati saat bercinta, ditembak tentara KNIL. Dan seorang pelacur juga mati di tengah percintaan, setelah dicium lama dan kesulitan bernapas.
Di sanalah Dewi Ayu menjadi pelacur. Ia tak tinggal di ”Bercinta Sampai Mati”, bagaimanapun, sebab ia punya rumah. Ia hanya pergi waktu senja datang dan kembali ke rumah ketika pagi tiba. Lagi pula ia punya tiga anak gadis yang harus diurus: Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi yang lahir tiga tahun setelah Adinda. jika malam hari, anak-anak itu ditemani oleh mirah, namun di siang hari ia mengurus anak-anak itu sebagaimana seorang ibu umumnya. Ia mengirimkan anak-anak itu ke sekolah terbaik, bahkan mengirimkannya pula ke surat: untuk belajar mengaji pada Kyai Jahro. 'Mereka tak boleh jadi pelacur,” katanya pada Mirah, ”kecuali atas keinginan mereka.” Ia sendiri tak pernah sungguh-sungguh mengaku bahwa ia menjadi pelacur karena keinginannya sendiri, sebaliknya, ia mengatakan bahwa menjadi pelacur karena sejarah. "Sebagaimana sejarah menciptakan seseorang jadi nabi atau kaisar," yang ini ia katakan kepada ketiga anaknya.