Waktu Paginya Orang-Orang
Saya akui waktu pagi sangat menggiurkan bagi saya. Menikmati segelas air putih hangat sembari menikmati udara dingin rasanya menyenangkan. Lebih-lebih di waktu pagi yang masih sunyi dan tenang ini saya bisa membaca atau menulis, bahagia sekali rasanya. Seharian saya bisa sangat produktif hanya karena kemewahan pagi hari yang sederhana ini.
Bangun pagi. Sudah tidak lagi bersekolah atau pun sedang berkuliah, saya menjadi tidak perlu berangkat pukul setengah tujuh tepat ke tempat tujuan. Pekerjaan saya sekarang pun tidak menuntut saya untuk berada di kantor pukul tujuh teng. Sehingga berangkat pagi-pagi pukul tujuh tiga puluh dan berebut jalanan dengan pengendara lainnya tidak setiap hari saya rasakan.
Ada dua sisi yang bisa saya rasakan dari jam kerja saya yang tidak terlalu dini. Berangkat kerja selepas jalanan tidak begitu ramai merupakan rasa syukur tersendiri. Saya tidak perlu tegang mengendara sepeda motor. Saya juga bisa lebih bersantai menikmati suasana jalanan, langit yang cerah, serta pemandangan pagi yang seringnya membuat takjub tiada terkira. Saya bisa menikmati awan putih yang menghiasi puncak gunung di kejauhan.
Sisi lainnya, jam kerja saya yang tidak sepagi teman-teman berdampak pada rentang waktu yang harus saya gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Di pekerjaan saya, lembur kerja menjadi makanan harian yang rasanya wajib dikunyah. Pulang dengan berbendel-bendel berkas, tetap duduk di depan laptop untuk mengisi data hingga tengah malam, dan beragam tugas kerja lainnya yang harus diselesaikan segera demi memenuhi deadline kerja menjadi keharusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Pada satu kesempatan saya dan teman-teman wilayah kerja bahkan harus pulang menjelang tengah malam. Kemudian saya dan teman-teman masih harus melanjutkan pekerjaan sesampainya kami di rumah hingga dini hari. Pada ritme kerja yang seperti ini, saya jelas baru bisa tidur dini hari. Pukul satu, dua, atau bahkan pukul tiga pagi. Dimana pada waktu-waktu ini penduduk bumi yang imannya luar biasa tak tertandingi baru bangun untuk bermesra dengan Pencipta. Saya melakukan hal sebaliknya.
Saya tidak mengeluh, saya bukan sedang tidak bersyukur. Saya malah sangat bersyukur diberi kesempatan untuk belajar dari ritme kerja yang seperti ini. Tidur dini hari tentu tidak baik. Bukan hanya tidak baik bagi kesehatan saya, tapi juga bagi produktivitas saya. Namun jika keadaan memang mengharuskan saya untuk melakukan hal seperti itu, saya bisa apa.
Pada masa-masa seperti ini, biasanya saya mengisi dan mengembalikan energi lagi saya dengan mengganti jatah waktu tidur saya. Sehingga pada akhir pekan biasanya saya akan tidur lagi selepas menunaikan kewajiban sebagai makhluk ciptaan-Nya. Bisa disimpulkan kan ya, jam bangun pagi saya jam berapa. Iya, saya terkadang saya tidak bisa bangun sedini orang-orang yang mengaku mereka ‘bangun pagi sedini mungkin’.
Keadaan saya ini menjadi masalah. Bukan masalah untuk saya, tapi untuk beberapa orang yang ada di sekitaran saya, dari saudara hingga tetangga. Mendapati hal ini, saya menjadi terusik kenyamananya. Saya kira tentang bangun pagi dan waktu tidur masing-masing orang adalah privasi. Saya tidak bisa menyamaratakan setiap orang harus seperti saya atau seperti mereka yang bangun paginya selalu rekor. Setiap individu mempunyai prioritas masing-masing, setiap kepala mempunyai pola hidup sendiri-sendiri. Saya yakin setiap orang paham dan bertanggung jawab dengan hidupnya dan cara mereka menjalani hidupnya. Sehingga masalah bangun pagi setiap orang bukan ranah kita untuk ringan menilai serampangan.
Dari yang saya alami, saya menjadi menyadari banyak hal. Beberapa di antaranya adalah masing-masing kepala, masing-masing manusia mempunyai waktu pagi yang berbeda. Jika waktu pagi saya pukul tiga dini hari, tidak serta merta adik, sepupu saya, hingga tetangga saya harus mempunyai waktu pagi yang sama dengan saya, bukan. Masing-masing manusia mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda juga. Jika saya harus bekerja hingga tengah malam, belum tentu tetangga saya juga melakukan hal yang sama, bukan. Tugas setiap kepala berbeda. Kita tidak bisa memberlakukan hal yang sama hanya untuk aturan waktu pagi.
Yang menjadi sangat penting lainnya adalah rasa ingin tahu dan ingin campur kita yang seringnya kelewatan kadarnya. Kemampuan kita memiliki waktu pagi yang sangat dini tidak lantas menjadikan kita lebih hebat dari orang lain. Kemampuan kita bangun dini hari tidak lantas memberi kita tiket untuk melabeli orang lain tidak baik. Bisa jadi kita yang jauh lebih tidak baik dari mereka. Perenungan terakhir adalah tentang kita yang tidak pernah tahu seberapa keras orang lain sedang berupaya dan berjuang. Seharusnya kita paham bahwa bisa jadi mereka yang waktu paginya tidak sedini yang kita punya mungkin sedang berjuang dengan keras untuk berupaya menjadi lebih sehat, lebih bisa, lebih dini waktu paginya. Kita jelas tidak pernah benar-benar paham dan mengerti. Maka berhenti menilai serampangan yang hanya akan menyakiti saja.
Yang perlu dididik adalah rasa simpati kita. Jika sudah memilikinya, maka sibukkan saja diri kita untuk mengembangkan rasa simpati yang kita punya menjadi empati. Kemudian banyak-banyak saja menakar diri sendiri, jangan sibuk menakar orang lain. Yang kita nilai ini belum tentu memang buruk adanya. Bisa jadi kita yang lebih buruk tabiatnya, tapi kita tidak sadar diri. Yang perlu diresapkan ke hati, pikiran, hingga jiwa raga kita adalah sikap ramah, santun, saling menghormati, hingga menghargai. Sebab menjadi manusia ciptaan-Nya tidak lain hanya kebaikan yang membuat kita pantas disebut manusia.
Semangat berjuang menumbuhkan kebaikan yang banyak tiada terkira dalam diri kita.