Kamu adalah Ucapan dan Perbuatan
Saya sudah sangat sering mendengar mengenai sebaris kalimat nasehat ‘kita adalah apa yang kita ucapkan dan lakukan’. Nasehat lawas ini bertebaran dimana-mana. Sayangnya menangkap maknanya membutuhkan proses panjang yang tidak berkesudahan. Kita yang lebih suka lupa, wajib sekali diingatkan.
Esok tadi saya memikirkan sepenggal kalimat tersebut. Sembari menunggu rekan yang sedang menunaikan tugas kerjanya, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu dengan melakukan tugas pekerjaan yang bisa kami lakukan saat itu. Yang menjadi renungan adalah celotehan teman-teman mengenai rekan kerja yang masih belum kelihatan batang hidungnya ini. Saya yakin, dia tengah menunaikan tugas kerjanya dengan baik di sana. Sayangnya lewat ucapan, perbuatan, dan tampilan yang selama ini dia suguhkan pada kami, kami menjadi sangat sepakat mengenai kualitas dirinya. Dirinya adalah tentang tidak bisa dipercaya, merangkai segala rupa alasan dan tidak menyegerakan. Maka sepagian tadi kami menjadi sangat malas menunggunya datang ke kantor. Merangkai-rangkai sangka yang tidak-tidak.
Menyadari hal itu saya menjadi berpikir tentang sepenggal kalimat nasehat di atas. Benar adanya bahwa semua ucapan kita adalah tentang bagaimana kita membahasakan diri kita kepada orang lain. Maka alangkah baiknya jika kita mengucapkan yang baik saja dan cermat sebelum berucap. Sebab bisa jadi ucapan kita adalah perantara orang lain menjadi sakit hati karenanya. Benar pula adanya bahwa semua perbuatan kita adalah tentang bagaimana diri kita mengabarkan diri kepada dunia. Maka berbuatlah yang baik-baik saja, bersikaplah yang sopan serta santun. Benar pula adanya bahwa apa yang kita tampilkan adalah cara kita memberitakan diri. Maka jangan anggap remeh dan sepele hal ini. Kita layak untuk menampilkan versi terbaik dari diri kita. Jangan sembarangan, urakan, dan semaunya sendiri.
Tidak rugi bila kita berbicara, berbuat, dan menampilkan segala kebaikan kita dalam versi paling baik yang kita bisa. Sebab ini akan membawa dampak baik pula pada pandangan orang tentang kita. Hah, dewasa ini bukankah wajah dunia sudah sangat muram sebab buruknya cara orang berbicara, berbuat, dan berpenampilan. Maka sudah selayaknya kita menjaga kualitas kita pada ketiganya. Bukan untuk siapa pun. Kita yang memetik hasilnya. Percayalah.











