Setelah Episode Terakhir : Monster - The Ed Gein Story
View On WordPress

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from China
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Germany
seen from Sweden
seen from Russia

seen from Singapore
Setelah Episode Terakhir : Monster - The Ed Gein Story
View On WordPress
Setelah Film Selesai : Tinggal Meninggal
Catatan Menonton: Jendela
picture credits: Jogja-Netpac Asian Film Festival 2017
Catatan dari catatan menonton:
Saya akan cukup banyak memakai kata ‘saya’ dalam catatan menonton ini, alias akan banyak terdapat kesubjektivan dari diri saya pribadi. Tidak lain karena film ini dengan segala aspek yang dibawanya telah meninggalkan jejak personal dalam hati saya. Dan di catatan menonton ini tidak sedikit parafrase yang saya tulis dari hasil sesi diskusi dengan sang sineas, Hilarius Randi Pratama
Family issue seperti tidak ada habisnya untuk diangkat menjadi ide awal premis dalam sebuah film, baik film pendek maupun film panjang. Nah kemudian yang menjadi menarik adalah bagaimana seorang sineas mengemas sebuah konflik keluarga dalam film pendek. Tentunya diperlukan treatment khusus baik dari konten, konsep, dan konteksnya. Treatment khusus tersebut (yang oh la la) ternyata saya rasakan ketika menonton Jendela. Eksperimental dan emosional. Dua kata yang saya rasa cukup mewakili Jendela.
Bagaimana tidak eksperimental? Penonton disuguhkan frame dengan rasio 1:1 dari awal sampai ¾ durasi film yang bisa dibilang jarang diaplikasikan baik dalam film pendek maupun film panjang. Loh loh jangan-jangan ini salah satu treatment khusus sang sineas?
Bagaimana tidak emosional? Mayoritas dari durasi film habis tanpa dialog. Mayoritas dari durasi film pula habis dengan apiknya penjiwaan aktor yang terlihat melalui gesture dan raut wajah. Oh, tidak ketinggalan dentingan piano intro lagu Sampai Jadi Debu dari Banda Neira yang menjadi latar musik menjelang akhir durasi film. Another special treatment?
Gotcha. Rasa penasaran saya pun terjawab dalam sesi diskusi. Dan tidak jauh meleset, hal-hal itu adalah memang cara sang sineas untuk menerapkan treatment khusus di Jendela. Sisi eksperimental dan emosional tidak dapat terpisahkan. Seperti pilihan memakai rasio 1:1 sebagai simbolisasi ‘kurungan’ emosi yang dirasakan Bimo dan Bapak ketika masih ada kekakuan, kejaiman, dan tembok tak terlihat yang menghalangi komunikasi antar keduanya. Namun seiring dengan runtuhnya tembok tersebut dan lepasnya mereka dari ‘kurungan’ emosi, penonton disuguhkan rasio yang berbeda. Tidak lagi 1:1 melainkan wide shot membingkai masa depan yang terbentang di hadapan Bimo dan Bapak, sekaligus masa lalu yang berliku-liku jauh dibelakang mereka.
Begitu pula dengan dialog yang kalah dengan suara gerak kereta. Bikin bosan, iya. Ingin cepat sampai di akhir film, iya. Nah tapi itulah tujuannya, supaya penonton bisa merasakan apa yang dirasakan Bimo dan Bapak. Betapa sebenarnya Bapak ingin mengakhiri fase ‘diem-dieman’ mereka, untuk berbicara dan berinteraksi dengan Bimo. Namun ada saja yang mengganjal hatinya walaupun hanya sekedar untuk menyentuh lutut putranya itu, meskipun mereka duduk bersebelahan di kereta. Sebenarnya tidak hanya itu. Film ini banyak menggunakan simbolisasi dalam penyampaian emosinya. Which is turns out to be such a magic! Film ini magis. Eksperimental dan emosional film ini sukses mbikin saya nangis. Saya sukses dibawa larut dalam aliran emosi yang makin lama makin naik dan akhirnya pecah juga.
Film ini mengandung makna lebih dari sekedar hubungan ayah dan anak lelakinya. Konflik batin dari pengorbanan sang ayah untuk hidup anaknya bukan hanya sekedar pengembangan ide cerita film. Bagi saya, hal ini secara pribadi seolah-olah menampar saya agar cepat-cepat sadar dan tobat bahwa hidup dan keadaan saya sekarang lebih beruntung daripada hidup Bimo dan Bapak. Tapi masih saja saya menyia-nyiakannya, i let it wasted. Secara sadar.
Moral value dari film ini sesungguhnya adalah hal mendasar yang menjadi pondasi setiap keluarga: komunikasi. Sudahlah, kita pasti bisa merinci sendiri apa akibat dari kurangnya komunikasi dalam keluarga, yakan? Namun di film ini dengan segala treatment khususnya sukses membuat kita berkontemplasi ulang tentang diskoneksi komunikasi dalam keluarga. Karena komunikasi tidak hanya dapat menyelesaikan masalah, tapi juga bisa menjadi pemantik masalah.