(1) Mengapa aku dan kamu tersekat oktober?
20 tahun silam, aku makhluk paling bersyukur di muka bumi ini. Kala mentari pertama ku tatap, dan nafas pertama kuhirup.
Hari hari berikutnya adalah setumpuk memori yang penuh dan ramai. Rupanya aku terlelap dalam dalam. Hingga suatu senja bertabur rinai, siluetnya begitu jingga menyilau mimpiku. Aku terbangun, lalu terdiam sesaat sampai rintikan gerimis memaksaku berlari. Tidak berlari untuk berteduh, namun untuk menyusul sebuah bayang. Sosok yang terlintas dalam mimpi panjang sebelum siluet jingga membangunkan ku.
Aku masih berlari, dengan riang dan bangga. Tak sadar, kaki ku tersandung bebatuan di tepi jalanan becek sore itu. Tubuhku terhuyung kedepan namun keseimbangan ku mampu menahan, hampir saja.
Aku masih bersemangat, saat melihat bayangan itu berhenti sejenak saat sadar aku hampir jatuh dibuatnya.

















