"Kakak Sang Peniru". Dua puluh empat jam kami bersama, hampir tak terpisahkan. Dan sekarang si anak nanggung berada pada fase menirukan apa yang orangtuanya lakukan. Antara senang dan deg-degan. Senang karena tumbuh kembangnya sesuai milestone. Deg-degan, kalau sebagai orang tua, utamanya saya sebagai ibu ada kebiasaan kurang baik yang dicontoh. . . Apa yang saya sentuh, itu yang ingin Kakak mainkan. Segala hal yang saya lakukan, Kakak pun ingin mencobanya. Selagi tidak membahayakannya, saya tidak melarang dan memberikan apresiasi. Ternyata Kakak sangat senang dipuji. Setiap selesai melakukan permainan (bahkan kadang belum) Kakak sudah otomatis tepuk tangan mengapresiasi pekerjaan yang Kakak lakukan. . . Dan Kakak pun mulai dengan jelas menunjukkan apa yang disuka dan tidak disukainya. Di saat saya belum bisa menterjemahkan keinginannya, saya minta maaf dan memeluknya, meski kadang malah meronta. . . Setiap anak itu baik, tidak ada yang nakal. Jangan sampai keterbatasan kita sebagai orangtua ,melabeli anak sebagai anak nakal. Baik anak sendiri maupun anak orang lain. Padahal, bisa jadi kita yang kurang peka dan kurang sabar dalam mendidik. Atau jangan-jangan, si anak suka marah karena meniru kita yang suka marah-marah (?). . . Sungguh, nasihat ini untuk saya sendiri. Yang berharap mempunyai kesabaran seluas samudra. Yang sering dibuat "iri" dengan para ibu tangguh yang sukses mendidik anaknya. Dan saya harus terus belajar. . . #celotehibuumar (at West Nusa Tenggara)