CERITA CIHERAS
Tiga minggu sudah saya dii Ciheras. Terhitung dari 1 Februari - 20 Februari 2018. Rasanya waktu begitu cepat sekali berlalu. Banyak teman baru, pengalaman baru, dan cerita baru juga. Semua yang ada di benak saya sebelum ke Ciheras tak ada satupun yang menjadi ekspetasi yang mengejutkan, dan gilanya semua yang ada di Ciheras melebihi ekspektasi liarku. Tak heran jika ternyata Ciheras selalu saja membuat rindu. Rindu akan emperor si domba garut jawara berbobot 60kg yang selalu menyeruduk saat melihat saya, rindu akan penyulingan atsiri wanginya, rindu akan mancingnya, rindu menikmati pantai dengan sunset cantiknya, dan tentunya rindu badai dengan deru nyanyian para penari langit yang kata sejarah selalu dikaitkan dengan listrik Sumba. Selalu saja, rindu ini menjadi rindu yang candu. Rindu yang selalu membius saya untuk kembali. Kembali untuk berjuang, menikmati cerita-cerita atau bahkan membuat cerita-cerita baru, bersama kawan-kawan yang baru lagi tentunya.
Belajar dan mencoba mengabdi, kiranya itu pengalaman yang bisa saya tangkap dari segala cerita yang disampaikan oleh Bang Ricky. Betapa tidak, beliau meninggalkan Jepang dengan 14 hak patennya untuk pulang membangun Indonesia. Setiap hari ketika breafing dan evaluasi kita selalu diberikan cerita entah tentang apapun itu. Dalam tiga minggu saya disana, saya berksempatan menikmati buku dengan bahasa Jepang yang di terjemahkan langsung oleh Bang Ricky. Buku tersebut berjudul “Hitono Hanashi Nanka Kikuna” yang artinya, jangan dengarkan bulat-bulat perkataan orang lain. Bagiku Bang Ricky sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Saya masih ingat ketika beliau bilang "Saya ketika melihat kalian itu, seperti melihat mimpi-mimpiku terwujud satu per satu", dimana saya juga memiliki segudang mimpi dan kegundahan. Termasuk kegundahanku akan kampung halaman terjawab sudah di Ciheras. Ketika saya curhat dengan beliau tentang mimpiku, apakah mimpi saya untuk membangun Ponorogo tetsebut terlalu tinggi Bang??. "Tidak, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Bahkan saya dulu pun juga memiliki mimpi bahwa Indonesia punya pabrik mesin listrik sendiri. Itu hanya sebatas mimpi kecil. Mimpi kecil yang menjadi penghias mimpi-mimpi besar saya. Kalau pun bisa mimpi besar saya adalah melesat jauh diantara bintang-bintang hanya untuk sekedar memujinya. Tetap semangat, saya yakin kamu bisa." Sontak pun saya merasa ada api yang menyulut untuk tetap terus berjuang, mengabdi untuk kotaku. Karena merasa, diri saya belum mampu berbuat banyak untuk kota saya Ponorogo.
Ilmu akademik yang saya dapatkan disana hanyalah bonus. Kebersamaan, kesederhanaan, kerahamahan, kasih sayang, rasa saling peduli, dan tentunya pengabdian adalah hal terindah yang pernah saya dapat, di tambah teman-teman semua yang selalu semangat memberi support dalam segala kondisi yang saya alami ketika di Ciheras. Bahkan saya pun banyak belajar dari Turino (orang yang punya keterbelakangan), ketika ada orang dia selalu menyapanya dan juga mengingatkan akan hemat dalam menggunakan listrik, suatu hal yang tak pernah aku pedulikan sebelumnya. Bahkan, saya pun merasa kalah dari seorang Turino, dia mampu menghafal nama-nama mahasiswa kerja praktik dan menyapanya setiap pagi. Berbeda dengan saya, saya merasa diri saya apatis ketika melihat Turino begitu. Saya sulit untuk mengingat nama, dan pada akhirnya ketika saya lupa dengan nama salah seorang anak, ketika memanggil berakhir dengan panggilan "Bang" ataupun "Teh".
Bagiku Ciheras adalah miniatur Indonesia, miniatur pemuda-pemuda hebat Indonesia, yang didalamnya kita dapat berjuang bersama membangun Indonesia tanpa ada rasa canggung dengan perbedaan. Terimakasih Bang Ricky, terimakasih tim LBN, terimakasih teman-teman, terimakasih Turino, yang telah membuat lembaran baru dalam album kenanganku tahun ini. Terimakasih atas segala ceritanya di Ciheras. Akan saya ingat dan saya kenang. See you on top. Tanpamu kurang satu, bahagia bersama(mu) selamanya.Banyak yang datang, banyak pula yang pergi. Namun, kami akan datang, dan pergi untuk kembali.
Cerita Ciheras
Ciheras, 1 - 20 Februari 2018












