Merindu-mu
Ada rindu yang tak mampu terekam oleh hujan
Ada rindu yang tak mampu tersampaikan oleh malaikat malam
Ada rindu yang tak mampu terlukis oleh senja
Merindumu.
Bagiku, rindu tak bisa terwakili apapun selain bertemu. Meski tak keluar sepatah kata ketika bertemu yang penting aku memandangmu. Bola mataku seakan juga minta ditatap dan memberi tahu kalau aku sangat merindumu. Aku tak perlu bertanya dan menunggu jawaban darimu apakah kamu juga merinduku. Rindu itu kadang sepihak. Rindu tak memandang waktu dan suasana. Rindu tak memandang apakah kamu sedang sendiri atau bersama teman-temanmu. Seperti hujan yang kadang turun tanpa mendung atau pelangi yang manis tanpa gerimis.
Dalam hati semacam ada resonansi yang menggema meneriakkan namamu berulang-ulang.
Dulu sewaktu kecil Ibu pernah bilang padaku saat aku menanyakan kapan bapak pulang,
Kalau kamu rindu pada seseorang teriakkan nama orang yang kamu rindukan ke dalam genthong air nanti orang itu akan pulang dan menemuimu
Bimsalabim...
Seperti dalam cerita sulap.
Benar saja hari berikutnya bapak pulang. Semenjak itu aku percaya kalau sedang rindu pada seseorang aku pergi ke dapur, membuka genthong air lalu meneriakkan namanya dengan keras sampai genthong itu bergetar. Meski keakuratanya tidak setepat trial pertama, aku tetap percaya bahwa orang itu akan pulang. Memang, sejatinya setiap orang pasti pulang entah kemana ia pergi.
Sekarang aku hampir saja terpengaruh, pergi ke dapur meneriakkan namamu di genthong air. Dan aku baru sadar tindakan tak masuk akal ini ketika tak ku jumpai genthong air, yang ada adalah bak mandi. Aku lupa sudah hidup di zaman modern, mungkin rinduku sudah tak terbendung seperti bak mandi yang terisi air penuh-penuh.
Kamu tak akan tertawa-tawa jika kamu merasakan rindu yang sama.
Ada seorang lelaki muda tertawan rindu
Di sudut hati kecilnya
Meminta untuk ditebus dengan temu
Yaitu kamu
Yang selalu disebut dalam doanya
Jika kamu bertanya mengapa aku merindumu? Itu sama halnya dengan seorang anak yang bertanya kepada ibunya “mengapa aku dilahirkan ke dunia?”. Karena rindu melampaui logika hanya butuh keyakinan bahwa itu benar adanya tak perlu menjawab dengan kata.
Hal paling membahagiakan ketika seorang yang kita rindu juga merindu, berada pada titik temu dan tak bisa dijelaskan dengan teori koordinat maupun kurva keseimbangan. Jika diibaratkan rindu itu adalah titik didih maka ketika bertemu denganmu secara dramatis akan langsung menjadi titik beku hanya sepersekian detik saja.
Aku akan mengatakan kepadamu
Sebelum musim hujan berganti kemarau
Sebelum langit menggantung mimpi dalam kalbu
Sebelum tanah memendam rindu
Aku akan mengatakannya sebelum kamu menanyakan mengapa
Tahukah kamu, tingkatan rindu paling tinggi adalah ketika merindu seseorang tidak bertemu tetapi diam-diam mendoakan. Aku melakukannya, entah kamu juga melakukan hal sama atau tidak, yang jelas aku merindumu.
Rindu bukanlah racun, tetapi kamu bisa menjadi obatnya.
©detraumer












