Lelaki dan Seseorang di Sampingnya
CERITA-CERITA DIANTARA HUJAN DAN SENJA
Lelaki dan Seseorang di Sampingnya
Memandang senja, duduk menunggu seseorang datang. Debur ombak yang makin mengganas tak menghalangi lelaki itu beranjak dari bibir pantai. Di antara karang dan kenangan yang membayang. Sesekali tangannya mengambil batu kerikil, lalu dilemparkannya ke arah ombak yang datang tapi tak bertenaga. Terlihat tak bernafsu, tak seperti ia biasa melihat ombak menghantam karang. Berdiri lalu berteriak dengan suara lantang,
“Aku cinta kamuuuuu...”, menyaingi suara deburan ombak.
Lalu seseorang di sampingnya akan menarik-narik bajunya.
“Sssttt... udah ah malu dikira orang gila nanti”
“Emang aku sedang gila, tergila-gila padamu”
“Dasar gila”, sembari mencubit manja lelaki itu.
Nelayan sekitar sudah hafal dengan mereka. Kalau Jumat sore akan ada “orang gila” dengan seseorang di sampingnya melakukan hal-hal bodoh, yang kadang mengingatkan nelayan saat mudanya dulu bersama pujaan hatinya. Namun, Jumat sore ini berbeda. Lelaki itu dari tadi sendiri, padahal sudah menjelang magrib. Tak biasanya lelaki itu menghabiskan sorenya selarut ini. Dia seperti mencemaskan sesuatu, beberapa kali mengedar pandangan ke sekeliling, nampak mencari sesuatu. Sesudah itu wajahnya tertenduk lesu, sembari membetulkan letak kaca matanya.
Nampak di bibir pantai para nelayan mempersiapkan perahu yang hendak dipakai untuk melaut nanti malam. Musim dimana laut sedang melimpah ikan, tampak raut sumringah dan semangat dalam mengurai jaring, mengisi bahan bakar dan memaku bagian kapal yang rusak. Tak seperti lelaki itu yang tak bersemangat sama sekali.
“Kak, kok belum pulang?”, sapa Tina, gadis penjual gorengan anak nelayan setempat.
Tina biasa menghampiri lelaki itu dan seseorang di sampingnya tiap Jumat sore. Dia sedikit heran karena jam segini belum pulang juga.
“Eh... Tina...”, jawabnya sedikit kaget karena mengusik lamunannya.
“Mmm.. iya masih betah di sini, langitnya bagus”, jawab sekenanya dan sedikit terbata-bata.
“Nggak bosen ya kak tiap Jumat sore ke sini? Kan pemandangannya juga sama, itu-itu aja?”
“Enggak. Kakak kan suka banget sama pantai, suka banget sama senja dan suka banget ...”, kalimatnya menggantung tak selesai.
“Dan suka banget apa kak? Kok ga diterusin?”, tanya Tina dengan wajah serius.
Meski baru berumur 9 tahun, kelas 3 sekolah dasar, namun pemikirannya lebih dewasa dari teman-teman sebayanya. Mungkin karena dia dituntut mandiri dengan berjualan gorengan pada pengunjung pantai, yang nota bene rata-rata usianya di atas Tina.
“Dan suka banget kalau ada Tina datang ke sini, karena kakak bisa beli gorengan Tina”, jawab lelaki itu dengan senyum yang dipaksakan dan berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya, sembari memainkan pipi Tina dengan kedua tangannya.
“Yee.. kirain apaan, kakak lebay ih”, sembari menghindar dari tangan lelaki itu.
Lelaki itu menjulurkan lidahnya.
Setidaknya Tina sedikit membuat lelaki itu lebih ceria. Melupakan seseorang yang seharusnya di sampingnya beberapa menit.
“Kok kamu tumben baru nyamperin kakak, biasanya kan jam setengah lima-an”, tanya lelaki itu sembari mengambil gorengan dari tampah1 jualan Tina.
“Aku sebenarnya mau ke sini tadi kak, tapi aku lihat dari kejauhan kakak lagi seedih banget kayaknya. Yaudah aku tunggu aja di bawah pohon ujung situ karena nggak mau gangguin”, tangannya menunjuk sebuah pohon berdaun rindang.
Lelaki itu menghentikan makannya. Diam dan suasana menjadi hening. Tidak ada jawaban. Lelaki itu melanjutkan makannya.
“Kok nggak dijawab kak? Ohya, kakak yang biasa di samping kakak mana? Pasti sedihnya gara-gara itu ya?”, tanyanya polos.
Tanpa menghentikan kunyahan di mulutnya lelaki itu hanya menggeleng.
“Kakak kenapa sih dari tadi Tina tanya nggak dijawab? Tina mau pulang aja ah, pasti sudah ditungguin mamak sama bapak”.
“Tina, kamu kalau sudah besar nanti akan mengerti sendiri apa yang kakak alami sekarang. Ketahuilah bahwa tak selamanya yang menunggu itu perempuan, tak selamanya yang memberi kepastian itu laki-laki. Seperti kamu sekarang, jam segini belum pulang pasti mamak sama bapak Tina cemas karena orang yang disayanginya belum pulang. Padahal Tina udah janji sama mereka kalau akan pulang ke rumah sebelum magrib meski gorengan belum habis terjual.
Mata lelaki itu menerawang jauh dan sedikit berkaca-kaca namun tak tampak Tina karena terhalang kaca mata.
“Tina... Janji itu adalah kepercayaan. Orang akan menghormatimu karena kamu menepati janjimu. Kepercayaan itu harus kamu gunakan dengan baik, jangan sampai ada orang yang terluka karena janjimu. Jangan sampai orang terlalu lama menunggu karena kamu tak kunjung menepati janjimu. Karena itu sama saja kita telah memberi harapan kepada seseorang. Meski kadang menyakitkan kamu harus segera memberi kepastian orang yang sudah menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Janji itu mudah diucapkan tapi sering kali terlupakan.”
Dadanya sesak menahan gejolak di hatinya. Sebelum Tina tahu apa yang dia rasakan saat ini, lelaki itu menyuruhnya segera pulang.
“Salam buat mamak sama bapak ya”.
Sepanjang perjalanan pulang Tina masih mencerna-cerna maksud dari perkataan lelaki itu. Sampai rumah pun dia tak juga mengerti apa yang diucapkan lelaki tanpa seseorang di sampingnya itu.